Kenapa MBG Jarang Beli Hasil Pertani Tabagsel? Seperti Langsat, Salak dan Ikan Nila Untuk Pertumbuhan Ekonomi Lokal
Amir Hamzah Harahap - Jumat, 27 Februari 2026 19:46 WIB
analisamedan.com -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat tidak hanya menargetkan peningkatan status gizi masyarakat tetapi juga diharapkan akan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat termasuk di Tabagsel, Jum'at (27/02/2026).
Diketahui selama pelaksanaan MBG Ramadhan menu yang disajikan beragam mulai dari duku, jeruk, kurma, telor, pisang, buah pir, kacang-kacangan dan roti.
Namun jarang sekali ditemui seperti hasil pangan lokal seperti langsat, rambutan, salak dan hasil pertanian seperti ikan nila, lele dan lainnya.
Menurut Ketua IMM Tapsel-Padangsidimpuan, Tobat Wahyudi dalam sarannya kepada BGN dan yayasan penyedia (dapur) untuk selalu memprioritaskan hasil pertanian, peternakan, dan produk lokal lainnya menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan program ini.
"Sebagaimana tujuan dasar MBG ini untuk meningkatkan pemenuhan gizi. Namun juga selain itu dampak yang dirasakan dari program ini agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan bahan baku makanan. Sebab dengan MBG dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi warga, bila dikelola dengan pendekatan yang memberdayakan masyarakat lokal. Kan yang dibagi kemarin duku empat biji gantilah sekali sama langsat. Jangan pula dipikir ngak manis rasanya buatTabagsel ini" Ucap Tobat.
Menurutnya dengan program MBG harus memiliki Efek Berganda dari sisi gizi dan ekonomi. Dengan keterlibatan masyarakat dalam pengadaan MBG juga dapat menciptakan lapangan kerja baru.
"Pemerintah daerah, memiliki peran penting untuk memastikan agar pelaksana program MBG bekerja sama dengan kelompok tani. Juga kepada BGN di Sumut turunlah melihay aspek tersebut alangkah lebih bermanfaatnya jika berjalan selaras dengan gizi dan ekonomi kerakyatan" Kata Ketua IMM ditujukan kepada BGN dan Pemerintah Daerah.
Ia juga menekankan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaksana teknis, MBG diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek bagi masalah gizi. Tetapi juga sebagai fondasi pembangunan ekonomi lokal yang kuat dan mandiri.
"Sudah saatnya kita bicara tentang pemanfaat kepada gizi dan perputaran ekonomi jangka panjang termasuk program ini. Jika MBG hanya mampu membawa produk import luar daerah maka kebijakan ini hanya akan memberatkan saja. Bukankah anggaran Daerah juga dipotong efisiensi untuk itu" Tegasnya.
Diketahui selama pelaksanaan MBG Ramadhan menu yang disajikan beragam mulai dari duku, jeruk, kurma, telor, pisang, buah pir, kacang-kacangan dan roti.
Namun jarang sekali ditemui seperti hasil pangan lokal seperti langsat, rambutan, salak dan hasil pertanian seperti ikan nila, lele dan lainnya.
Menurut Ketua IMM Tapsel-Padangsidimpuan, Tobat Wahyudi dalam sarannya kepada BGN dan yayasan penyedia (dapur) untuk selalu memprioritaskan hasil pertanian, peternakan, dan produk lokal lainnya menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan program ini.
"Sebagaimana tujuan dasar MBG ini untuk meningkatkan pemenuhan gizi. Namun juga selain itu dampak yang dirasakan dari program ini agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan bahan baku makanan. Sebab dengan MBG dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi warga, bila dikelola dengan pendekatan yang memberdayakan masyarakat lokal. Kan yang dibagi kemarin duku empat biji gantilah sekali sama langsat. Jangan pula dipikir ngak manis rasanya buatTabagsel ini" Ucap Tobat.
Menurutnya dengan program MBG harus memiliki Efek Berganda dari sisi gizi dan ekonomi. Dengan keterlibatan masyarakat dalam pengadaan MBG juga dapat menciptakan lapangan kerja baru.
"Pemerintah daerah, memiliki peran penting untuk memastikan agar pelaksana program MBG bekerja sama dengan kelompok tani. Juga kepada BGN di Sumut turunlah melihay aspek tersebut alangkah lebih bermanfaatnya jika berjalan selaras dengan gizi dan ekonomi kerakyatan" Kata Ketua IMM ditujukan kepada BGN dan Pemerintah Daerah.
Ia juga menekankan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaksana teknis, MBG diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek bagi masalah gizi. Tetapi juga sebagai fondasi pembangunan ekonomi lokal yang kuat dan mandiri.
"Sudah saatnya kita bicara tentang pemanfaat kepada gizi dan perputaran ekonomi jangka panjang termasuk program ini. Jika MBG hanya mampu membawa produk import luar daerah maka kebijakan ini hanya akan memberatkan saja. Bukankah anggaran Daerah juga dipotong efisiensi untuk itu" Tegasnya.
Editor
: Amir Hamzah Harahap
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Waspada Hujan Lebat dan Pohon Tumbang. Ini Nomor (WA) BPBD Padangsidimpuan
Parsadaan Tabagsel Gelorakan Provinsi Sumatera Tenggara
Lansia Terjebak Banjir di Sidimpuan, BPBD Berhasil Evakuasi Dalam Rumah
Jabat Kapolsek Hutaimbaru, Iptu A Edi Sitompul Sosok Polisi Yang Ramah dan Mudah Membaur
Lawan Kanker Serviks, Ny Masroini Letnan Dalimunthe Kukuhkan Relawan 'Besti' IVA Test Terjun Ketengah Masyarakat
Serap Tenaga Kerja, PT Djarum Siap Bangun Kantor dan Gudang di Sidimpuan. Walikota: Buka Peluang Investasi
Komentar