Askrindo Dorong Pelaku UMKM MonaHitaUlos Perluas Pasar hingga Italia

Bardan - Kamis, 01 Oktober 2026 21:27 WIB
Askrindo Dorong Pelaku UMKM MonaHitaUlos Perluas Pasar hingga Italia
analisamedan.com/bardansyah
Jajaran Askrindo Medan dan Pusat foto bersama dengan pelaku usaha MonaHitaUlos.

analisamedan.com -Berawal dari kecintaan mengenakan kebaya, Mona Manurung kemudian jatuh hati pada kain tradisional hingga akhirnya mengembangkan usaha ulos dan songket melalui MonaHitaUlos.

Usaha yang beralamat di Jalan Harmonika Baru Nomor 1A, Medan, tersebut kini tidak hanya menyasar pasar Sumatera Utara, tetapi mulai menjangkau sejumlah daerah di Indonesia hingga pembeli dari mancanegara.

Mona menuturkan, ketertarikannya terhadap songket bermula sekitar empat hingga lima tahun lalu. Saat itu, seorang teman memperkenalkannya dengan berbagai koleksi songket.

"Teman saya bilang, kamu kan suka songket. Dari situ saya mulai mengenal dan melihat-lihat songket. Lama-lama saya jatuh cinta dengan songket," ujar Mona kepada wartawan, Kamis (1/10/2026).

Setelah semakin mengenal kain tradisional tersebut, Mona kemudian memutuskan untuk lebih serius mengembangkan usaha. Pada 27 November 2025, ia mulai menjalankan usaha tersebut dengan memasarkan ulos dan songket kepada masyarakat.

Dari perjalanan usahanya, Mona melihat minat terhadap kain tradisional masih cukup besar. Produk yang ditawarkannya dibanderol mulai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp15 juta per lembar, tergantung bahan, motif dan tingkat kerumitan pembuatannya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Mona dalam pengembangan produknya adalah penggunaan pewarna alam. Ia juga terus mempelajari karakter kain, motif serta proses pengerjaan dengan berkoordinasi langsung bersama para penenun.

Untuk menjaga kualitas produk, Mona menggandeng para penenun dari sejumlah daerah, di antaranya Toba dan Tarutung. Saat ini, terdapat satu penenun binaan di Toba dan dua penenun binaan di Tarutung.

Pengerjaan kain menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) membutuhkan waktu yang tidak singkat. Untuk satu kain, proses pembuatannya dapat mencapai sekitar tiga bulan, tergantung motif dan tingkat kerumitan yang dikerjakan.

Dalam pemasaran, Mona memanfaatkan media sosial dan mengikuti berbagai pameran, termasuk Inacraft. Dari berbagai kegiatan promosi tersebut, produknya mulai dikenal lebih luas dan menarik minat pembeli dari berbagai daerah.

"Setiap kali kita promosi, ada saja yang tertarik. Ada yang langsung membeli, ada juga yang bertanya-tanya dulu mengenai kain dan proses pembuatannya," ungkapnya.

Pasar MonaHitaUlos kini tidak hanya berada di Sumatera Utara. Pesanan juga datang dari sejumlah daerah seperti Pekanbaru. Bahkan, produk yang dikembangkannya telah menarik perhatian pembeli dari luar negeri, salah satunya Italia.

Menurut Mona, ada pula pembeli yang sebelumnya tidak mengenalnya, namun tertarik setelah melihat koleksi ulos dan songket yang ditawarkan.
Dalam pengembangan motif, Mona mengangkat kekayaan budaya lokal.

Motif tumbuhan menjadi salah satu motif yang cukup diminati, selain motif yang terinspirasi dari budaya Batak, Karo dan Simalungun.

Ia mengaku masih terus belajar untuk memperdalam pengetahuan mengenai songket dan ulos. Baginya, pengembangan usaha kain tradisional tidak hanya soal menjual produk, tetapi juga menjaga nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Di tengah proses mengembangkan usahanya, MonaHitaUlos mendapat dukungan dari PT Askrindo. Branch Manager Askrindo Medan, Joni Andrianto Nababan, bersama jajaran humas dan lainnya turut mengunjungi usaha Mona sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM.

Mona berharap dukungan tersebut dapat membantu pengembangan MonaHitaUlos, memperluas pemasaran serta membuat kain tradisional Sumatera Utara semakin dikenal masyarakat luas.
"Kain ini indah. Siapa yang memakai pasti cantik," katanya.


Editor
: Bardan
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru