Pilgubsu, Ajang Pembuktian PDIP dan Strategi Sang Jenderal

Oleh : El-Khair
El-Khair - Senin, 19 Agustus 2024 13:30 WIB
Pilgubsu, Ajang Pembuktian PDIP dan Strategi Sang Jenderal
dok.analisamedan.com


Sementara Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pemilik 6 kursi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo), masing-masing 1 kursi, sepertinya belum bersikap pasti dalam dukungan.

Melihat peta dukungan parpol di atas, kelihatan Muhammad Bobby Afif Nasution saat ini diuntungkan dan banyak diprediksi akan mudah melenggang sebagai pemenang pada pilgubsu ke depan.

Ajang Pembuktian

Semua mata dan kamera penyorot Pilgubsu kini sudah terfokus kepada 2 sosok bakal calon gubernur yakni, Muhammad Bobby Afif Nasution dan Edy Rahmayadi. Keduanya sudah bisa dipastikan akan berkompetisi pada pilgubsu bila tidak ada 'badai' besar yang merubah peta politik di Sumut saat ini.

Bagi PDIP, pigubsu merupakan ajang pembuktian sebagai partai petarung yang dijepit kekuasaan serta 'super koalisi' parpol. Dengan 21 kursi di DPRD Sumut, PDIP tidak membutuhkan koalisi dengan partai lain tersisa yang belum menentukan sikap dukungan.

Sebab dengan jumlah kursi tersebut, "Banteng Moncong Putih' sudah memenuhi peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyaratkan 20 persen dari 100 kursi di DPRD Sumut untuk bisa mencalonkan jagoannya tanpa harus berkoalisi dengan parpol lain.

Pada pilgubsu kali ini, ajang pembuktian PDIP bukan saja sekadar kompetisi politik, lebih dari itu merupakan pertarungan gengsi dan 'balas dendam' atas efek Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin yang menjadi catatan sejarah 'luka' mendalam bagi PDIP.

Pada Pilgubsu ini, PDIP dikeroyok beramai-ramai parpol 'super koalisi' yang banyak opini berkembang di masyarakat bahwa pemenang pilgubsu adalah Muhammad Bobby Afif Nasution karena dinilai, selain didukung hampir semua partai juga memiliki perangkat peperangan lengkap sebagai calon didukung penguasa.

Bisakah PDIP menjawab ini dengan aksi nyata untuk memenangkan jagoan yang didukung pada pilgubsu kali ini ?.{br]

Sebagai partai petarung dan pernah menjad penguasa, PDIP tentu bukan partai 'kaleng-kaleng'. Analisis untuk menang memang terasa berat. Tapi, bukan hal yang mustahil calon yang dijagokan PDIP Edy Rahmayadi akan mementahkan penilaian atau anggapan tersebut.

Kebijakan PDIP dalam strategi politiknya ke depan di pilgubsu sampai masa pendaftaran dan penetapan calon di KPU sangat ditentukan rasionalitas dalam membaca psikologis masyarakat Sumut. Karakter dan psikologis masyarakat Sumut berbeda dengan daerah lain seperti Pulau Jawa.

Masyarakat Sumut masih tergolong fanatik yang menjadi faktor 'X' dalam menilai sosok calon yang diusung. Sosok Edy Rahmayadi yang diusung PDIP menjadi faktor 'X' yang sangat kuat untuk bisa menarik simpatik pemilih di Sumut.

Sebab, Edy Rahmayadi punya modal besar untuk dipilih karena pernah menjabat Gubernur Sumut pada periode sebelumnya. Ini merupakan faktor 'X' yang sangat luar biasa. Namun faktor 'X' ini bisa menjadi tidak berguna tatkala PDIP salah dalam memasangkan bakal calon Wakil Gubernur untuk mendamping Edy Rahmayadi.

Dalam catatan sejarah pilgubsu, pasangan calon yang diusung PDIP selalu kalah dan selalu menempati posisi ke-2. Pada Pilgubsu 16 April 2008, PDIP yang mengusung jagoannya Tritamtomo berpasangan dengan Beny Pasaribu harus kalah dengan pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho.

Kemudian pada Pilgubsu 7 Maret 2013, calon yang diusung PDIP Effendi MS Simbolon- Jumiran Abdi, juga menelan kekalahan dari pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi. Pada Pilgubsu ini, PDIP mengusung 2 kadernya sendiri.

Selanjutnya, pada Pilgubsu 18 Juni 2018, PDIP yang kembali mencalonkan pasangan kadernya Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, juga mengalami kekalahan serupa dengan sebelumnya yang dimenangkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah.

Untuk Pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang, PDIP kini sudah menetapkan bakal calon gubernur Edy Rahmayadi yang pada pilgubsu 17 Juni 2028 silam mengalahkan jagoanya.

Peluang jagoan PDIP untuk menang pada pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang cukp punya peluang. Namun bila PDIP tidak bisa membaca peta psikologis masyarakat Sumut dalam menentukan bakal wakil Edy Rahmayadi, maka peluang besar ini akan terlewati.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru