Pilgubsu, Ajang Pembuktian PDIP dan Strategi Sang Jenderal
analisamedan.com - Situasi suhu politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak baik provinsi maupun kabupaten/kota 27 Nopember 2024 mendatang sangat terasa panasnya. Partai politik (parpol) pemilik kebijakan yang dapat menentukan sosok bakal diusung, perlahan telah menunjukkan kapasitas dan integritasnya.
Tak terkecuali di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang petanya sudah terlihat. Peta Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgubsu), sejatinya parpol memberikan harapan kepada masyarakat untuk punya kesempatan memilih calon pemimpin dengan berbagai calon alternatif.
Melihat peta politik di Sumut, harapan itu sepertinya mustahi terjadi. Pasalnya, parpol yang selalu mengumandangkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya setiap kali jelang pemilu agar mendapat simpatik, ternyata hanya mengumbar janji.
Parpol hanya butuh suara rakyat. Setelah didapat, seperti pepatah mengatakan, "Habis manis sepah dibuang" atau "Seperti kacang lupa kulitnya" dan lebih sadisnya, "Suaramu sudah ku bayar, maka hakku menjualnya kepada siapa pun" yang tentu memberikan keuntungan dari modal saat membelinya pada pemilu legislatif 14 Pebruari 2024 lalu.
Peta Politik
Situasi politik jelang pilgubsu saat ini, menyiratkan betapa parpol kurang berintegritas. Sistem kaderisasi parpol sekira 5 tahun terakhir teryata tidak menghasilkan kader berkualitas. Indikatornya terlihat dari tidak ada kader parpol menjadi sosok hebat yang siap untuk berkompetisi di ajang pilgubsu.
Dalam kontestasi pilgubsu, secara berjemaah parpol pemilik kursi legisilatif di DPRD Sumut saat ini sudah memberikan dukungan kepada bakal calon (balon) Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Medan.
Partai Golongan Karya (Golkar) dengan 22 kursi, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 13 kursi, Nasional Demokrat (NasDem) 12 kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 10 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) 5 kursi, Demokrat 5 kursi dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 4 kursi, sudah resmi mengusung menantu Joko Widodo ini pada pilgubsu mendatang.
Parpol tersisa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga sudah memastikan mendukung Letnan Jenderal (purn) Edy Rahmayadi sebagai bakal calon Gubernur Sumut utk bertarung dalam Pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang.
Sementara Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pemilik 6 kursi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo), masing-masing 1 kursi, sepertinya belum bersikap pasti dalam dukungan.
Melihat peta dukungan parpol di atas, kelihatan Muhammad Bobby Afif Nasution saat ini diuntungkan dan banyak diprediksi akan mudah melenggang sebagai pemenang pada pilgubsu ke depan.
Ajang Pembuktian
Semua mata dan kamera penyorot Pilgubsu kini sudah terfokus kepada 2 sosok bakal calon gubernur yakni, Muhammad Bobby Afif Nasution dan Edy Rahmayadi. Keduanya sudah bisa dipastikan akan berkompetisi pada pilgubsu bila tidak ada 'badai' besar yang merubah peta politik di Sumut saat ini.
Bagi PDIP, pigubsu merupakan ajang pembuktian sebagai partai petarung yang dijepit kekuasaan serta 'super koalisi' parpol. Dengan 21 kursi di DPRD Sumut, PDIP tidak membutuhkan koalisi dengan partai lain tersisa yang belum menentukan sikap dukungan.
Sebab dengan jumlah kursi tersebut, "Banteng Moncong Putih' sudah memenuhi peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyaratkan 20 persen dari 100 kursi di DPRD Sumut untuk bisa mencalonkan jagoannya tanpa harus berkoalisi dengan parpol lain.
Pada pilgubsu kali ini, ajang pembuktian PDIP bukan saja sekadar kompetisi politik, lebih dari itu merupakan pertarungan gengsi dan 'balas dendam' atas efek Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin yang menjadi catatan sejarah 'luka' mendalam bagi PDIP.
Pada Pilgubsu ini, PDIP dikeroyok beramai-ramai parpol 'super koalisi' yang banyak opini berkembang di masyarakat bahwa pemenang pilgubsu adalah Muhammad Bobby Afif Nasution karena dinilai, selain didukung hampir semua partai juga memiliki perangkat peperangan lengkap sebagai calon didukung penguasa.
Bisakah PDIP menjawab ini dengan aksi nyata untuk memenangkan jagoan yang didukung pada pilgubsu kali ini ?.{br]
Sebagai partai petarung dan pernah menjad penguasa, PDIP tentu bukan partai 'kaleng-kaleng'. Analisis untuk menang memang terasa berat. Tapi, bukan hal yang mustahil calon yang dijagokan PDIP Edy Rahmayadi akan mementahkan penilaian atau anggapan tersebut.
Kebijakan PDIP dalam strategi politiknya ke depan di pilgubsu sampai masa pendaftaran dan penetapan calon di KPU sangat ditentukan rasionalitas dalam membaca psikologis masyarakat Sumut. Karakter dan psikologis masyarakat Sumut berbeda dengan daerah lain seperti Pulau Jawa.
Masyarakat Sumut masih tergolong fanatik yang menjadi faktor 'X' dalam menilai sosok calon yang diusung. Sosok Edy Rahmayadi yang diusung PDIP menjadi faktor 'X' yang sangat kuat untuk bisa menarik simpatik pemilih di Sumut.
Sebab, Edy Rahmayadi punya modal besar untuk dipilih karena pernah menjabat Gubernur Sumut pada periode sebelumnya. Ini merupakan faktor 'X' yang sangat luar biasa. Namun faktor 'X' ini bisa menjadi tidak berguna tatkala PDIP salah dalam memasangkan bakal calon Wakil Gubernur untuk mendamping Edy Rahmayadi.
Dalam catatan sejarah pilgubsu, pasangan calon yang diusung PDIP selalu kalah dan selalu menempati posisi ke-2. Pada Pilgubsu 16 April 2008, PDIP yang mengusung jagoannya Tritamtomo berpasangan dengan Beny Pasaribu harus kalah dengan pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho.
Kemudian pada Pilgubsu 7 Maret 2013, calon yang diusung PDIP Effendi MS Simbolon- Jumiran Abdi, juga menelan kekalahan dari pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi. Pada Pilgubsu ini, PDIP mengusung 2 kadernya sendiri.
Selanjutnya, pada Pilgubsu 18 Juni 2018, PDIP yang kembali mencalonkan pasangan kadernya Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, juga mengalami kekalahan serupa dengan sebelumnya yang dimenangkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah.
Untuk Pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang, PDIP kini sudah menetapkan bakal calon gubernur Edy Rahmayadi yang pada pilgubsu 17 Juni 2028 silam mengalahkan jagoanya.
Peluang jagoan PDIP untuk menang pada pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang cukp punya peluang. Namun bila PDIP tidak bisa membaca peta psikologis masyarakat Sumut dalam menentukan bakal wakil Edy Rahmayadi, maka peluang besar ini akan terlewati.
Sosok pendamping Edy Rahmayadi pada pilgubsu harus berpijak kepada psikologis pemilih masyarakat Sumut dan harus punya pengaruh yang mengakomodir keragaman elemen di Sumut sehingga tidak merusak simpatisan fanatik Edy Rahmayadi yang sudah ada.
Strategi Sang Jenderal
Pilihan PDIP menunjuk Edy Rahmayadi sebagai balon gubernur pada Pilgubsu Sumut sudah sangat tepat. Selain sosok Edy Rahmayadi yang berpengalaman karena pernah menjabat posisi Gubernur Sumut, jalan hidupnya sebagai prajurit di militer dengan karir yang tidak semua bisa mencapai seperti diraihnya, tentu menunjukkan kesiapannya menghadapi peperangan dalam pilgubsu.
Lawan kontestasi sosok Muhammad Bobby Afif Nasution dengan dukungan yang kini diraihnya dari mayoritas parpol serta kekuasaan yang bisa saja digunakan untuk memenangkannya, tentu bukan perjuangan mudah.
Kapasitas sosok lawannya, haruslah seorang yang gagah dan berpengalaman serta berani dalam mengambil risiko dan tidak takut dengan tekanan besar. Sebab, PDIP saat ini dinilai banyak pihak sebagai oposan yang gerak politiknya coba 'dimatikan'.
Karakter itu tentu melekat pada diri Edy Rahmayadi yang merupakan prajurit militer dan terbukti tidak takut dengan tekanan siapa pun. Nyali Edy Rahmayadi dan perjalanannya mendapatkan dukungan politik menunjukkan mantan Pangdam I/BB dan Pangkostrad TNI ini sudah siap lahir maupun batin dan tentu memiliki strategi perang untuk menang.
Strategi perang yang bakal dihadapinya tentu berbeda ketika di medan tempur saat masih aktif sebagai prajurit militer. Dan pilgubsu 27 Nopember 2024 mendatang akan menjadi ajang pembuktian strategi perang Sang Jenderal. Apakah mampu bertahan dan keluar dari tekanan 'raksasa' tersebut sebagai pemenang ?
Kita tunggu !
Fraksi PDIP DPRD Medan Dorong Pemerintah Segera Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatera
Fraksi PDIP DPRD Medan Usulkan Penambahan Kawasan Tanpa Rokok
Fraksi PDIP DPRD Medan Pertanyakan Catatan BPK Tak Diperbaiki 4 Tahun Berturut
Fraksi PDIP DPRD Medan Minta Pemko Tak Tutup Mata soal Ekonomi Masyarakat Lemah
Fraksi PDIP DPRD Medan Minta Walikota Tegas soal Parkir