Money & Fortune Relationship: Darmin Ungkap Kunci Kekayaan Sejati Berawal dari Diri Sendiri
analisamedan.com -Kekayaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana seseorang membangun hubungan dengan uang, mengelola emosi, serta membentuk nilai dan karakter dalam dirinya.
Pandangan tersebut disampaikan Darmin, SE, MBA, CIMBA dalam seminar bertajuk "Money & Fortune Relationship" yang digelar di B&G Tower Lt. 3, Ruang Shofar TOD, Hotel JW Marriott, Jalan Putri Hijau No. 10, Medan, Kamis (6/8/2026).
Seminar yang dipandu Moderator Herman Tristianto ini diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pengusaha, organisasi, pengacara hingga media.
Dalam pemaparannya, Darmin mengungkapkan terdapat empat kebiasaan utama yang perlu diubah seseorang agar dapat membuka jalan menuju kekayaan.
Pertama, kebiasaan meratapi keadaan, merasa tidak mampu, iri terhadap keberhasilan orang lain, serta menyalahkan keadaan maupun orang lain. Menurutnya, kebiasaan tersebut justru dapat menghambat seseorang dalam melihat dan menciptakan peluang.
"Keluhan harus diganti dengan tindakan. Cara berbicara perlu diubah menjadi lebih positif dan penuh keyakinan," demikian salah satu pesan yang disampaikan Darmin.
Kedua, kebiasaan menunda untuk memulai, bertindak tanpa sasaran yang jelas, serta bekerja tanpa menentukan prioritas. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat seseorang mengalami stagnasi.
Karena itu, seseorang perlu menetapkan prioritas, mulai dari langkah sederhana, kemudian menjalankannya secara konsisten.
Ketiga, ketidakmampuan melihat peluang yang ada di sekitar. Darmin menilai terlalu fokus membandingkan diri dengan keberhasilan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.
"Terus tingkatkan diri, kenali keunggulan yang dimiliki, serta buka wawasan terhadap peluang yang terkadang hadir secara tidak terduga," pesannya.
Keempat adalah apa yang disebutnya sebagai "miskin hati" atau rendahnya kecerdasan emosional. Hati yang dipenuhi kepahitan, bekerja hanya berdasarkan suasana hati, serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dapat menjadi penghambat dalam membangun kekayaan.
Menurut Darmin, kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang menuju keberhasilan. Tantangan perlu dihadapi dengan tenang, dicari solusinya, serta dijadikan sebagai sumber pembelajaran.
Tiga Pilar Kekayaan
Darmin juga menjelaskan bahwa kekayaan yang berkelanjutan membutuhkan fondasi batin yang kuat melalui tiga pilar utama, yakni sukacita, kasih, dan kekayaan.
Pilar pertama adalah sukacita. Kedamaian, berkat, dan sukacita yang tidak bergantung pada kondisi eksternal menjadi kekuatan batin ketika keadaan di luar diri mengalami perubahan.
Pilar kedua adalah kasih. Menurut Darmin, kasih menjadi akar dari setiap tindakan sekaligus kekuatan untuk bertahan dalam masa sulit.
Kesuksesan yang diraih tanpa kasih, lanjutnya, akan sulit bertahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, kondisi sulit dapat menjadi proses untuk memperdalam dan memperluas kasih dalam diri.
Pilar ketiga adalah kekayaan yang dipandang sebagai pertukaran energi kehidupan. Niat yang tulus, keinginan untuk berkontribusi, serta kasih kepada orang lain diyakini dapat melahirkan kekayaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Sebaliknya, keserakahan, kelicikan, dan tipu daya mungkin menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menimbulkan konflik dan kerusakan dalam jangka panjang.
Kepercayaan Adalah Aset Kekayaan
Salah satu pesan penting yang disampaikan Darmin adalah bahwa "Uang tidak menciptakan kepercayaan, tetapi kepercayaanlah yang menciptakan uang."
Menurutnya, bisnis berkembang karena adanya kepercayaan pelanggan, investasi tumbuh karena adanya kepercayaan investor, dan kerja sama dapat terjalin karena adanya kepercayaan antarpihak.
Karena itu, kepercayaan merupakan aset tidak berwujud yang memiliki nilai sangat besar. Tanpa kepercayaan, pertumbuhan bisnis maupun kekayaan akan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Darmin juga menekankan eratnya hubungan antara kecerdasan emosional (EQ) dan kemampuan seseorang dalam membangun kekayaan.
Seseorang dengan EQ rendah cenderung kesulitan mengelola emosi dan mengambil keputusan secara bijak. Sementara mereka yang memiliki EQ lebih baik mampu tetap tenang menghadapi masalah, mencari solusi, menciptakan nilai, serta menghasilkan dampak yang lebih luas.
"Semakin tinggi kemampuan seseorang mengelola emosinya, semakin besar pula kemampuannya untuk menciptakan dan mempertahankan kekayaan," jelasnya.
Lima Prinsip dalam Hubungan dengan Uang
Mengacu pada pemikiran Ken Honda, Darmin kemudian menjelaskan lima prinsip yang dapat menjadi dasar dalam membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
Pertama, memiliki pola pikir kelimpahan. Kekayaan sejati bukan hanya tentang jumlah uang, tetapi juga tentang keterbukaan hati dalam menerima dan mengelola kelimpahan.
Kedua, memulihkan luka batin terkait uang. Pengalaman masa lalu, rasa takut, maupun rasa malu terhadap uang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dan memperlakukan uang ketika dewasa.
Ketiga, menemukan bakat dan memberikannya kepada orang lain. Kemampuan yang dimiliki dapat menjadi sumber nilai ketika digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Keempat, membiasakan diri bersyukur, baik ketika uang datang maupun ketika uang keluar. Rasa syukur membantu seseorang memiliki hubungan yang lebih sehat dengan apa yang dimilikinya.
Kelima, mempercayai kehidupan sepenuhnya dengan keyakinan bahwa kehidupan tetap memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkembang.
Selain lima prinsip tersebut, Darmin juga menguraikan berbagai pola hubungan seseorang dengan uang. Ada orang yang menabung karena selaras dengan nilai hidupnya, ada yang berhemat secara berlebihan demi rasa aman, ada yang sulit mengatakan "tidak" karena takut mengecewakan orang lain, ada yang menggunakan uang untuk mengembangkan diri, serta ada pula yang cenderung menghindari persoalan keuangan.
Setiap pola tersebut, menurutnya, perlu disadari dan dievaluasi agar seseorang dapat memahami alasan di balik setiap keputusan finansial yang dibuat.
Mengelola Tiga Aliran Kekayaan
Dalam seminar tersebut, Darmin juga memperkenalkan konsep kekayaan sebagai sebuah aliran yang terus bergerak. Terdapat aliran yang masuk (InFlow), aliran yang keluar (OutFlow), serta aliran utang (Debt Flow) yang perlu dikelola dengan bijaksana agar tidak membebani masa depan.
Ia juga menjelaskan konsep tiga perbendaharaan.
Pertama, perbendaharaan langit, yaitu menabur kebaikan dalam setiap kesempatan.
Kedua, perbendaharaan bumi, yaitu memandang uang sebagai alat yang dapat membantu seseorang keluar dari kesusahan sekaligus menghadirkan sukacita.
Ketiga, perbendaharaan kekayaan, yaitu memahami bahwa niat baik, keinginan untuk berkontribusi, dan ketenangan batin merupakan bagian dari kekayaan yang sesungguhnya.
Menurut Darmin, kehilangan kedamaian hati pada akhirnya juga berarti kehilangan sebagian dari kekayaan itu sendiri, sebesar apa pun jumlah harta yang dimiliki.
Kekayaan dan Warisan dalam Keluarga
Persoalan kekayaan juga tidak terlepas dari bagaimana nilai dan karakter diwariskan dalam keluarga.
Darmin mengingatkan bahwa kegagalan terbesar bukan hanya ketika seseorang kehilangan harta, tetapi ketika kekayaan justru menyebabkan rusaknya hubungan antaranggota keluarga.
Anak, menurutnya, juga dapat menjadi cerminan dari kondisi batin orang tua. Karena itu, hikmah, karakter, dan kekuatan batin perlu dibangun sebagai fondasi kekayaan yang lebih kokoh.
Harta dapat habis dan berubah, tetapi nilai serta karakter yang diwariskan dapat bertahan lintas generasi.
Darmin mencontohkan seorang tokoh olahraga yang pernah memiliki kekayaan hingga ratusan miliar rupiah, namun pada akhirnya mengalami kebangkrutan akibat pengelolaan kekayaan yang keliru dan tidak adanya pemisahan yang jelas antara harta pribadi dan kepentingan pihak lain.
Melalui seminar tersebut, Darmin mengajak peserta untuk melihat kekayaan dari perspektif yang lebih luas. Kekayaan bukan sekadar angka dalam rekening atau aset yang dimiliki, tetapi juga mencakup kedamaian hati, kualitas hubungan, kemampuan mengelola emosi, kepercayaan, serta nilai yang mampu diberikan kepada orang lain.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dengan uang bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak, tetapi juga tentang bagaimana mengelola, menggunakan, dan mewariskan kekayaan dengan bijaksana.
Bupati Deli Serdang Resmikan Alun -Alun Percut Sei Tuan
Wilayah Percut Sei Tuan Bakal Dimekarkan, Ini kata Camat Percut Sei Tuan
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Deli Serdang Serap Aspirasi Kepala Sekolah di Sibolangit, Tinjau Rehabilitasi SMPN 2 Sibolangit
HUT Ke-37 PANS Sukses Menyelenggarakan Donor Darah
Besok PT. Panin Sekuritas Tbk Gelar Donor Darah