Darmin: Analisis PANS September, Sektor Emas, Energi, dan AI-Related Berpeluang Cuan

Fahrin - Kamis, 03 September 2026 09:54 WIB
Darmin: Analisis PANS September, Sektor Emas, Energi, dan AI-Related Berpeluang Cuan
dok/analisamedan.com
Darmin, S.E., MBA

analisamedan.com -PT Panin Sekuritas (PANS) melihat bank sentral utama dunia (US, Uni Eropah & Jepang) secara serentak mulai bergeser ke arah kebijakan yang lebih hawkish, didorong oleh tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi yang dipicu oleh lalu lintas di Selat Hormuz yang belum kembali normal.

Arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, European Central Bank (ECB) atau Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan (BoJ) semakin mengarah ke kebijakan hawkish. Sorotan utama tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole yang kembali memicu hawkish repricing atau penyesuaian ekspektasi pasar ke arah suku bunga yang lebih tinggi, seiring dengan penegasan kembali kredibilitas The Fed.

"Untuk September 2026, PANS merekomendasikan MEDC, MAPA, GGRM, BBNI, AMMN, BRMS, dan BUMI," ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, Rabu, 2 September 2026.

Meski demikian, Darmin menilai peluang kenaikan suku bunga pada Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 relatif terbatas, dengan asumsi ekspektasi inflasi Amerika Serikat masih well anchored atau tetap terkendali, serta The Fed memberikan bobot yang seimbang terhadap tekanan dari sisi pasokan akibat cost-push inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi.

ECB diperkirakan bergerak menuju rate hike pada September 2026 untuk menahan second-round effect atau dampak lanjutan dari kenaikan harga, sementara BoJ diperkirakan memiliki peluang kuat untuk menaikkan suku bunga seiring dengan akselerasi Consumer Price Index (CPI) Tokyo yang mendekati target 2% dan nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Yen Jepang (USD/JPY) yang menembus level 160.

PANS memandang September ini sebagai titik persimpangan bagi Dolar Amerika Serikat (USD). Secara taktis, penguatan USD yang didorong oleh ekspektasi pasar masih berlanjut, seiring dengan meningkatnya risiko inflasi dan yield atau imbal hasil U.S. Treasury (UST) tenor pendek yang masih sulit turun. Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat akan menjadi salah satu pemicu volatilitas utama.

Menurut Darmin, pasar cenderung mulai memperkirakan berkurangnya kebutuhan kenaikan suku bunga yang didorong oleh tekanan nilai tukar. Hal ini tercermin dari USD/IDR yang relatif stabil di level rata-rata 17.821, meski menguat 1,04% secara bulanan (MoM) pada bulan lalu.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada kuartal II 2026 sebagai respons terhadap pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan mata uang lainnya, yang dipengaruhi oleh tekanan domestik dan lonjakan harga minyak global.

Sejak saat itu jelasnya, terdapat perbaikan sentimen terhadap kepastian kebijakan (policy certainty), stabilitas nilai tukar (currency stability), serta pernyataan positif terkait prospek fiskal. Hal tersebut tercermin dari Credit Default Swap (CDS) 5-Year Indonesia yang berada di level 85, terendah sejak Maret 2026. Kondisi yang lebih akomodatif ini memberikan ruang bagi BI untuk memasuki fase wait and see atau menunggu perkembangan data ekonomi sebelum menentukan kebijakan selanjutnya.

"PANS juga melihat langkah BI untuk menjaga stabilitas kini mulai bergeser ke kombinasi kebijakan non-suku bunga atau non-interest rate policy mix, sebagai upaya menyeimbangkan mandat pertumbuhan ekonomi (pro-growth)," katanya.

Penunjukan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI yang baru turut menyoroti penguatan sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah. Meski demikian, sinergi tersebut tetap tidak akan mengompromikan kredibilitas BI karena bauran kebijakan BI tetap akan bergantung pada data atau data-dependent.

Peluang kenaikan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia September 2026 masih perlu dicermati, terutama dengan mempertimbangkan current account deficit atau defisit transaksi berjalan yang lebih lebar dari perkiraan serta upside risk pada inflasi. Kondisi tersebut berpotensi kembali memicu tekanan depresiasi terhadap Rupiah ketika USD kembali mengalami volatilitas.

Darmin mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 4,6% secara bulanan (MoM) pada Agustus 2026. Penguatan tersebut didorong oleh membaiknya tensi geopolitik, melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang turut memperkuat Rupiah, kekhawatiran terhadap potensi krisis utang di Amerika Serikat, status Indonesia yang masih dipertahankan dalam kelompok emerging market oleh MSCI, serta rilis laporan keuangan yang relatif baik.

Investor saat ini masih akan mencermati overhang atau sentimen yang masih membayangi pasar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), khususnya terkait transparansi pasar, visibility kepemilikan saham, serta coordinated trading atau aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI akan melakukan assessment kembali pada November 2026. Namun, PANS melihat probabilitas Indonesia untuk masuk ke kategori frontier market relatif terbatas karena posisi Indonesia dinilai masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain, ditambah adanya reformasi kebijakan seperti penyesuaian free float, pengungkapan ultimate beneficial owner (UBO), disclosure high shareholding concentration (HSC) atau pengungkapan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, serta perluasan klasifikasi investor.

"PANS juga melihat tren ekspektasi laba relatif positif seiring dengan rilis laporan keuangan kuartal II 2026 yang cukup baik. Hingga saat ini, analis telah merevisi naik estimasi laba bersih IHSG sebesar 3,58% dalam empat minggu terakhir. PANS juga melihat tekanan keluarnya dana asing mulai lebih terbatas, terlihat dari kembali masuknya dana asing pada Agustus 2026 sebesar Rp1,2 triliun. Sebelumnya, dana asing tercatat masuk Rp1,6 triliun pada Juli 2026, setelah mengalami outflow sebesar Rp19,6 triliun pada Juni 2026," katanya.

Sektor bahan baku (IDXBASIC) menguat signifikan sebesar 10,1% MoM, khususnya didorong oleh saham-saham yang terkait dengan emas, seperti EMAS yang menguat 52,4% MoM dan BRMS sebesar 35,1% MoM.

Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan harga emas setelah meningkatnya permintaan emas ke level tertinggi dalam 16 bulan. Kondisi ini turut mendorong porsi emas dalam cadangan devisa bank sentral dunia menjadi 26,3%, dibandingkan U.S. Treasury sebesar 20,2%.

Sementara itu, saham teknologi tercatat melemah 2,2% karena adanya rotasi sektor. Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga dinilai dapat meningkatkan cost of fund atau biaya pendanaan, khususnya bagi perusahaan teknologi yang umumnya memiliki leverage relatif tinggi.

Untuk September 2026, PANS merekomendasikan tiga tema utama yaitu Sektor emas, karena kekhawatiran terhadap krisis utang Amerika Serikat dapat mendorong realokasi dana ke aset alternatif seperti emas.

Sektor energi, seiring meningkatnya kembali tensi geopolitik setelah serangan Amerika Serikat ke Pulau Larak yang dibalas Iran dengan serangan terhadap basis militer AS di UEA dan Yordania.

Sektor yang terkait dengan AI, seiring tren belanja hyperscaler yang diperkirakan dapat mencapai USD7 triliun hingga 2030. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan industri data center, energi, lahan industri, serta tembaga.

Sementara itu, sektor yang diperkirakan masih mengalami tekanan adalah sektor properti, akibat marketing sales yang kurang baik, penurunan harga properti, dan peningkatan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah. Tekanan tersebut berpotensi semakin besar apabila ruang kenaikan suku bunga masih terbuka.

Sektor otomotif juga diperkirakan masih menghadapi tekanan karena kenaikan suku bunga dapat membatasi permintaan kredit otomotif.

PANS melihat sejumlah katalis positif bagi IHSG. Pertama, mulai masuknya dana asing ke pasar obligasi dan pasar saham. Kedua, ekspektasi defisit belanja negara 2027 yang lebih rendah, yaitu 2,4%, dengan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sebesar 6% pada 2027, dibandingkan target 5,4% pada 2026. Hal ini juga didukung oleh rasionalisasi belanja negara yang bersifat konsumtif, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketiga, terdapat ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik ke depan.

Selain itu, terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur BI turut menegaskan independensi BI. Meskipun IHSG telah naik 22,9% sejak titik terendah 5.342 pada 8 Juni 2026, valuasi IHSG saat ini masih relatif rendah dibandingkan peers atau negara pembanding, dengan forward Price-to-Earnings (PE) 2027F sebesar 9,0x, dibandingkan rata-rata Asia sebesar 14,2x.

Editor
: Fahrin
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru