Darmin: Analisis PANS Juli, Sektor Perbankan dan Consumer Goods Berpeluang Cuan
analisamedan.com -PT Panin Sekuritas (PANS) melihat seiring meredanya tensi geopolitik AS-Iran serta pencabutan blokade Selat Hormuz, fokus pasar kini bergeser dari risk premium geopolitik ke dampaknya terhadap variabel rill.
"Pasar tengah menyesuaikan ekspektasi suku bunga The Fed, yang sebelumnya berkutat perdebatan hike /naik or hold/ tetap, dan kini bergeser ke diskusi mengenai kemungkinan kenaikan lebih dari satu kali dalam sisa tahun ini. Untuk Juli 2026 kami merekomendasikan saham BBCA, BMRI, BDMN, UNVR, MYOR, CMRY, ANTM," ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, Kamis, 2 Juli 2026.
Nada hawkish (agresif /potensi naik suku bunga) kata Darmin yang mengejutkan dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir turut mempercepat pergeseran ekspektasi tersebut, dengan pasar semakin priced in (memperhitungkan) terhadap komitmen The Fed untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap anchored. Penguatan US Dollar Index (DXY) naik sebesar 2,27% dari bulan sebelumnya (MoM) yang terjadi akibat repricing ini bahkan telah menekan atau turunnya performa nilai tukar mata uang negara berkembang selama sebulan terakhir.
"Kami melihat rangkaian data bulan Mei 2026 turut menguatkan sentimen hawkish terhadap The Fed, tercermin dari inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) headline yang melonjak naik ke level 4,1% dari tahun sebelumnya (YoY) serta nonfarm payroll yang tetap solid naik di angka 172K. Kami berpandangan bahwa core PCE inflation dan pertumbuhan upah riil menjadi 2 variabel kunci yang akan mengonfirmasi jumlah kenaikan suku bunga The Fed," ungkap Darmin.
Otoritas fiskal dan moneter domestik terlihat berupaya untuk menjaga ekspektasi pasar tetap anchored, di tengah risiko tekanan inflasi yang bergerak mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) naik sebesar 3,5% YoY dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang masih bertahan di level Rp17.900/USD.
BI telah menaikkan suku bunga acuannya dua kali dengan total 50bps sepanjang bulan lalu menjadi 5,75%, menegaskan komitmen terhadap mandat stabilitas nilai tukar dan harga. Namun demikian, efek stabilisasi tersebut kami nilai belum sepenuhnya all in, mengingat BI tetap mempertahankan sejumlah langkah pro-growth guna menjaga likuiditas di sektor keuangan tetap relatif ekspansif.
Di sisi fiskal, pemerintah turut menyatakan komitmen untuk merampingkan anggaran belanja pusat, termasuk terhadap 2 program prioritasnya, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang potensi penghematan hingga Rp50 triliun per tahun dan Kopdes Merah Putih dengan target pembangunan dipangkas 50% menjadi 40.000 unit.
Di tengah lonjakan beban subsidi dan kompensasi untuk menahan harga BBM serta komoditas subsidi lainnya demi menopang daya beli domestik. Perlu turut dicermati sovereign rating action oleh Standard & Poor's (S&P) Global mendatang, dengan base case kami pada outlook down to negative dan BBB rating affirmed. Asumsi dasar kami termasuk fiscal affordability (kemampuan Fiskal) yang kian terkikis di tengah stabilitas makro ekonomi yang relatif solid. Rasio debt interest-to-revenue (Pembayaran bunga pinjaman terhadap penerimaan) yang telah melewati ambang 15% menjadi alarm terhadap kapasitas APBN.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tajam pada Juni 2026 turun sebesar 7,9% MoM (data bulanan) disebabkan oleh pertama ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di global dan domestik, kedua melemahnya nilai tukar Rupiah ditengah kenaikan suku bunga 100bps atau 1%, ketiga ketidakpastian ekonomi, hukum dan regulasi dalam negeri seiring sering berubahnya kebijakan dan beberapa kasus hukum dan politik dalam negeri, serta keempat wait and see pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang juga memberikan peringatan dapat menurunkan Indonesia ke frontier market.
"Kami melihat kemungkinan terbatas untuk Indonesia masuk ke frontier market karena posisi yang relatif lebih baik dibandingkan negara lain serta reformasi kebijakan seperti penyesuian free float, pengungkapan UBO, disclosure high shareholding concentration (HSC) serta perluasan klasifikasi investor," jelas Darmin.
Namun, kepercayaan investor untuk Indonesia sebut Darmin relatif turun. Ini terlihat dari flat-nya dari foreign direct investment serta inflow terbatas di pasar obligasi ditengah kenaikan suku bunga 100bps dan masih derasnya outflow di pasar saham.
Sektor yang terkoreksi lebih terbatas adalah sektor keuangan (IDXFIN) sebesar minus 0,6% MoM didorong oleh kenaikan saham SMMA naik 21,2%, CASA naik 34,1% dan kuatnya performa BBCA ditengah kenaikan suku bunga karena posisi likuiditas yang baik dengan LDR rendah ~78%. Namun untuk Bank Himbara terkoreksi lebih dalam BMRI turun 4,6%, BBRI turun 7,5% dan BBNI turun 15,1% ditengah ruang intervensi seiring pernyataan pemerintah untuk meminta bunga kredit UMKM lebih kecil dari kredit korporasi dan meminta perbankan untuk tidak menaikkan suku bunga secara agresif.
Sementara itu, sektor Barang Baku (IDXBASIC) terkoreksi tajam turun 15,9% MoM didorong oleh koreksi saham gold-related, karena penurunan harga emas di global seiring kurang menariknya investasi emas ditengah kenaikan yield obligasi global ditengah tren kenaikan suku bunga di beberapa negara.
Untuk Juli 2026, kami merekomendasikan pertama sektor perbankan khususnya bank swasta karena risiko intervensi pemerintah yang relatif terbatas, sektor defensif dengan laba bersih yang masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan sektor lain, kedua sektor consumer goods karena defensif, mulai membaiknya harga bahan baku/soft commodity karena Selat Hormuz yang mulai dibuka.
Sektor yang diperkirakan masih akan tertekan adalah pertama properti karena marketing sales kurang baik, penurunan harga properti dan naiknya Non-Performing Loan (NPL/ Kredit Bermasalah), kedua otomotif karena pelemahan nilai tukar berdampak ke komponen otomotif serta daya beli yang masih lemah, serta ketiga energi karena turunnya harga energi seperti minyak dan batubara, karena kembali dibukanya Selat Hormuz.
Untuk saham komoditas, kami melihat bahwa draw-down (penurunan) akan relatif tinggi dan sangat volatil, ditengah permintaan komoditas metal-mining yang masih akan tinggi ditengah investasi untuk AI dan semikonduktor yang signifikan.
Fokus investor saat ini adalah kepastian ekonomi, hukum dan regulasi dalam negeri, dimana tensi dalam negeri seiring dengan kasus Nadiem Makarim, BRI Ventures dan MDI Ventures mengakibatkan kekhawatiran kepastian investasi dalam negeri. Selain itu, masih melemahnya nilai tukar ditengah kenaikan suku bunga 100bps mengindikasikan meningkatnya premi risiko dalam negeri. Saat ini, investor juga masih akan mencermati potensi downgrade rating obligasi ditengah melemahnya kondisi fiskal dalam negeri.
Darmin: Analisis PANS Juni, Sektor Perbankan dan Komoditas Berpeluang Cuan
PT. Panin Sekuritas Medan Terima Kunjungan Rombongan Financial Planner Malaysia
Darmin: Analisis PANS Mei, Sektor Komoditas, Energy-Related, dan Poultry Berpeluang Cuan
Universitas Eka Prasetya Akan Menggelar Talk Show dan Debat Bertajuk “Future Investor Experience Series 2026”
Darmin: Analisis PANS Maret, Sektor Komoditas, Energy-Related, dan Poultry Berpeluang Cuan