Terganggu, Warga Mabar Ancam Tutup Paksa Ternak Ayam
analisamedan.com -Kesal karena bau yang sangat menyengat puluhan warga Jalan Cemara Abadi dan Mabar Hilir, Percut Sei Tuan akan menutup paksa pabrik ternak ayam yang berada dekat pemukiman.
Warga geram dengan sikap pemilik yang seolah lupa dengan kesepakatan pada 19 Oktober di aula Kepala Desa Sampali Percut Sei Tuan. Pada pertemuan tersebut masyarakat telah memberikan tenggat waktu seminggu kepada pemilik untuk membahas dengan keluarganya terkait penutupan pabrik ternak ayamnya.
Akan tetapi, hingga akhir Oktober pabrik ternak ayam tak kunjung ditutup. Pemilik usaha beralasan masih perlu berdiskusi dengan keluarganya. Ia juga beralasan dibutuhkan waktu untuk menutup pabrik tersebut dan meminta masyarakat untuk membantunya menjual ternak ayam telur miliknya.
Pande Pakpahan mewakili masyarakat yang terkena dampak peternakan tersebut menyampaikan, sebelumnya pemilik ternak minta tenggat seminggu untuk mendiskusikan kepada keluarga untuk menutup pabrik, namun sampai sekarang diakui Pande pabrik tidak kunjung ditutup.
Sebelumnya, rapat penutupan pabrik ternak ayam dihadiri 13 warga, Sekretaris Desa Sampali Dino Haryadi, Kepala Dusun IX Desa Sampali Sutrisno, dan Kepala Lingkungan IX Mabar Medan Labuhan Rajiman dan sejumlah awak media.
Baca : Harga Daging Ayam Mulai Turun
Pemilik usaha berjanji akan mengeluarkan surat pernyataan penutupan pabrik pada 28 Oktober 2022. Ia berjanji akan menyerahkan surat pernyataan kepada Kepala Lingkungan 9 Mabar Hilir.
Warga gerah karena selama ini pabrik tersebut telah menjadi sarang lalat dan serangga. Warga merasa risih, jijik dan tidak nyaman akibat dikerumuni lalat.
Masyarakat selama ini telah berkali-kali menjumpai pemilik, untuk memprotes dampak kegiatan pabrik tersebut. Namun, aduan langsung tersebut tidak digubris. Sebaliknya, pemilik pabrik dinilai malah terus menambah jumlah ternaknya.
Pabrik tersebut dianggap memicu penyakit bagi warga sekitar. Kerumunan lalat-lalat telah menyebabkan para pelanggan meninggalkan kedai milik warga sekitar. Warga yang tinggal sekitar 1-kilometer dari pabrik juga masih terkena dampak kerumunan lalat.
Menurut pemilik salah satu kendala menutup pabrik tersebut ia harus mencari penampung telur dan ayam. Ia meminta masyarakat membantunya mencari pembeli telur dan ayam miliknya.
“Masyarakat bisa beli telur dan ayamnya tapi bukan dalam jumlah besar. Ada banyak yang mau menampung telur dan ayam. Kami berikan tenggat dua minggu untuk tutup peternakan milik Ibu. Kalaupun tidak bisa dalam dua minggu ditutup, kami kasih kesempatan berapa lama Ibu bisa menutupnya. Harus ada kepastian, harus dibuat surat pernyataan,” kata Pande membalas permintaan pemilik.
Lia Sibarani, warga yang hadir saat itu, menilai Megawati menciptakan alasan bertele-tele. Menurutnya, pemilik pasti tahu persis kemana saja telur dan ayam tersebut bisa dijual.
Ketum DPP BKPRMI Said Aldi Al Idrus Tegaskan : Aksi Pembakaran Alquran oleh Politisi Swedia Tindakan Islamphobia dan Radikal
IPW Minta KPK Dalami Putusan Pidana Mantan Konsultan Pajak PT Jhonlin Baratama
Kontingen PWNU Sumut Sabet 16 Medali Porseni 1 Abad NU di Solo, Berikut Nominasinya
Tempati Urutan Kelima pada Porseni 1 Abad NU, PWNU Sumut: Syukuri Bersama
Perayaan Imlek di Medan Aman, Warga Penuhi Kelenteng