Kisah Haru Zulpikar Harahap Menuju Baitullah Berkat Ridho Orangtua
Lagi-lagi takdir berkata lain, Sang Ibunda juga kini tengah dalam kondisi sakit. Fisiknya melemah dari hari ke hari, dan harapan untuk mendampingi sang anak ke Tanah Suci seolah menjadi angan yang masih tergantung di langit doa.
Ustaz Zul hanya bisa memandangi ibunya dengan penuh kasih dan harap, seraya dalam hatinya bergemuruh doa-doa yang tak pernah putus agar Allah memberikan kesembuhan, keberkahan, dan usia panjang.
"Kami anak-anakmu, masih ingin berlama-lama bersamamu, Mak," bisiknya dalam hati.
Sementara itu, kenangan akan sang ayah pun hadir begitu kuat di pelupuk mata. Ayahanda tercinta telah lebih dulu berpulang ke hadirat Ilahi, mendahului perjalanan ke Baitullah yang dulu juga menjadi cita-cita bersama. Kini, yang bisa dilakukan Ustadz Zul hanyalah mendoakan dari kejauhan, dengan hati yang penuh rindu dan ketundukan.
"Ya Allah, ucapnya lirih dalam setiap sujud, "lapangkanlah kubur ayahandaku, ampuni segala dosa dan khilafnya, terimalah seluruh amal ibadahnya selama hidup di dunia. Tempatkanlah ia di sisi-Mu yang terbaik, di surga-Mu yang paling indah. Jadikanlah kuburnya laksana taman dari taman-taman surga-Mu, bukan lubang dari lubang-lubang neraka."ujarnya
Air mata sering kali jatuh tanpa bisa ditahan, bukan karena lemahnya hati, tapi karena dalamnya cinta dan kerinduan yang belum sempat terwujudkan. Di antara ikhtiar, harap, dan takdir, Ustadz Zul terus menggantungkan segalanya kepada Allah, Dzat yang Maha Mengatur segalanya.
"Ya Allah, ucapnya dalam diam yang pilu, kabulkanlah doa dan pintaku ini".
Dampak Bencana Alam di Sumut Pengaruhi Pelunasan Biaya Haji
Kerjasama dengan BSI, Guru Yayasan Doktor Haji Maratua Simanjuntak Bisa Miliki Rumah DP 0 %
Dahnil Anzar: Dari Hulu ke Hilir, Penyelenggaraan Haji Masih Penuh Masalah, Kuota Harus Lebih Berkeadilan
Kakanwil Kemenag Sumut dan Kapoksi Komisi VIII DPR RI Bahas JAMARAH di Deli Serdang
Bupati Pakpak Bharat Pimpin Rapat Forkopimda