Menanti Kinerja MUI Sumatera Utara

Dr. Dedi Sahputra Napitupulu, M.Pd
Sugiatmo - Jumat, 30 Januari 2026 08:58 WIB
Menanti Kinerja MUI Sumatera Utara
analisamedan.com/int
logo MUI

analisamedan.com - KAMIS 29 Januari 2026 menjadi sebuah momentum yang kelak dikenang dan dicatat oleh tinta sejarah organisasi keulamaan di Sumatera Utara. Pada hari itulah Dewan Pimpinan, Komisi, Badan, dan Lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara dikukuhkan secara resmi, sebuah prosesi sakral yang sangat berwibawa sekaligus membawa harapan.

Tak tanggung-tanggung, jumlah yang dilantik sangat banyak: 513 orang, terdiri dari 39 anggota Dewan Pimpinan, 339 pengurus komisi, serta 135 pengurus badan dan lembaga. Mereka duduk berbaris dalam barisan yang rapi, siap memulai amanah lima tahun ke depan.

Sebuah personel yang sangat banyak, bukan hanya mengesankan kuantitas, tetapi juga mencerminkan keluasan harapan yang digantungkan umat kepada lembaga ini. Lima belas bidang, diperkaya lagi dengan berbagai badan dan lembaga pendukung, menjadi saksi bahwa MUI Sumatera Utara tengah membangun barisan panjang pengabdian dan perluasan ladang amal saleh.

Di antara barisan itu tampak wajah-wajah lama yang tetap dipercaya, baik di jajaran pengurus harian maupun komisi-komisi strategis. Mereka membawa pengalaman, kearifan, dan ingatan panjang tentang denyut organisasi ini. Namun tak sedikit pula wajah-wajah baru yang ikut mengisi ruang-ruang tersebut.

Ada yang datang dari kampus, dari lembaga pendidikan (pesantren), dari Ormas Islam, dari kalangan profesional, dan dari aneka jalur dakwah lainnya. Siapa pun mereka, dari mana pun garis kisahnya bermula, satu hal yang pasti: mereka semua ingin memperluas ladang pengabdian di tubuh MUI dan memberi manfaat dalam skala yang lebih besar.

Karena itu, ucapan selamat layak disampaikan kepada seluruh pengurus yang telah menerima surat keputusan. Sebagai orang-orang yang diberi tanggung jawab formal, mereka kini menjadi bagian dari wajah lembaga yang sering dipandang sebagai kompas moral umat.

Jabatan dalam MUI bukanlah tongkat estetik, bukan pula sekadar prestise sosial. Ia adalah amanah yang menuntut kerja nyata, integritas, dan kesanggupan menahan diri dari riuh tepuk tangan dunia yang penuh kepalsuan. Pengurus MUI ialah mereka yang menundukkan kepala ketika diberi kepercayaan, bukan mereka yang membusungkan dada. Karena itu, jabatan dalam MUI mestilah dijadikan jalan untuk bekerja sepenuh jiwa, bukan sekadar simbol kehormatan yang mesti dipamerkan di hadapan publik.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru