Menanti Kinerja MUI Sumatera Utara

Dr. Dedi Sahputra Napitupulu, M.Pd
Sugiatmo - Jumat, 30 Januari 2026 08:58 WIB
Menanti Kinerja MUI Sumatera Utara
analisamedan.com/int
logo MUI

Tradisi keulamaan di Nusantara sejak lama menjunjung tinggi senioritas, bukan dalam arti feodal, melainkan karena pengalaman dan keteduhan jiwa sering kali tumbuh bersama usia. Wajah ulama selalu dibayangkan sebagai wajah yang teduh, berwibawa, dan wara', sebuah pancaran batin yang lahir dari tempaan masa yang amat panjang.

Namun demikian, sejarah juga mengajarkan bahwa keulamaan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Zaman terus bergerak, tantangan berubah, dan umat terus menunggu generasi yang mampu memahami dunia baru tanpa kehilangan tradisi klasik yang baik. Karena itu, regenerasi ulama adalah keniscayaan yang tak boleh ditunda.

Dalam hal ini, MUI Sumatera Utara memiliki instrumen penting berupa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU). Program ini telah lama menjadi ruang pembibitan ulama muda, mempersiapkan mereka dengan dasar keilmuan syar'i sekaligus wawasan sosial modern. Para alumni PTKU inilah yang diharapkan kelak mengisi pos-pos strategis hingga ke tingkat kabupaten/kota, menjadi pelanjut estafet kepemimpinan moral di tengah umat.

Dalam pengamatan penulis terhadap pengukuhan terbaru ini, tampak cukup banyak wajah muda yang hadir penuh semangat. Ini pertanda baik, pertanda bahwa Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara memahami pentingnya proses regenerasi.

Kehadiran kaum muda merupakan harapan jangka panjang. Walaupun pengalaman mereka belum matang dan sikap wara' masih perlu terus diperdalam, namun merekalah yang kelak melanjutkan napas lembaga ini. Mereka perlu diasuh, diarahkan, dan disertakan dalam proses panjang pembentukan keulamaan yang tidak hanya menguasai persoalan-persoalan keislaman yang mendalam, tetapi juga menguasai dinamika sosial dan perkembangan zaman.

Tugas ulama di masa kini dan masa mendatang semakin berat. Globalisasi menghadirkan realitas baru, kecanggihan teknologi informasi, perubahan pola pikir, pergeseran nilai, dan penetrasi budaya yang makin dalam. Dalam lanskap seperti ini, ulama dituntut bukan hanya memahami teks, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam konteks kekinian, menjadi pengawal moral bangsa di tengah hiruk-pikuk dunia yang cepat berubah.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru