Menanti Kinerja MUI Sumatera Utara
analisamedan.com - KAMIS 29 Januari 2026 menjadi sebuah momentum yang kelak dikenang dan dicatat oleh tinta sejarah organisasi keulamaan di Sumatera Utara. Pada hari itulah Dewan Pimpinan, Komisi, Badan, dan Lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara dikukuhkan secara resmi, sebuah prosesi sakral yang sangat berwibawa sekaligus membawa harapan.
Tak tanggung-tanggung, jumlah yang dilantik sangat banyak: 513 orang, terdiri dari 39 anggota Dewan Pimpinan, 339 pengurus komisi, serta 135 pengurus badan dan lembaga. Mereka duduk berbaris dalam barisan yang rapi, siap memulai amanah lima tahun ke depan.
Sebuah personel yang sangat banyak, bukan hanya mengesankan kuantitas, tetapi juga mencerminkan keluasan harapan yang digantungkan umat kepada lembaga ini. Lima belas bidang, diperkaya lagi dengan berbagai badan dan lembaga pendukung, menjadi saksi bahwa MUI Sumatera Utara tengah membangun barisan panjang pengabdian dan perluasan ladang amal saleh.
Di antara barisan itu tampak wajah-wajah lama yang tetap dipercaya, baik di jajaran pengurus harian maupun komisi-komisi strategis. Mereka membawa pengalaman, kearifan, dan ingatan panjang tentang denyut organisasi ini. Namun tak sedikit pula wajah-wajah baru yang ikut mengisi ruang-ruang tersebut.
Ada yang datang dari kampus, dari lembaga pendidikan (pesantren), dari Ormas Islam, dari kalangan profesional, dan dari aneka jalur dakwah lainnya. Siapa pun mereka, dari mana pun garis kisahnya bermula, satu hal yang pasti: mereka semua ingin memperluas ladang pengabdian di tubuh MUI dan memberi manfaat dalam skala yang lebih besar.
Karena itu, ucapan selamat layak disampaikan kepada seluruh pengurus yang telah menerima surat keputusan. Sebagai orang-orang yang diberi tanggung jawab formal, mereka kini menjadi bagian dari wajah lembaga yang sering dipandang sebagai kompas moral umat.
Jabatan dalam MUI bukanlah tongkat estetik, bukan pula sekadar prestise sosial. Ia adalah amanah yang menuntut kerja nyata, integritas, dan kesanggupan menahan diri dari riuh tepuk tangan dunia yang penuh kepalsuan. Pengurus MUI ialah mereka yang menundukkan kepala ketika diberi kepercayaan, bukan mereka yang membusungkan dada. Karena itu, jabatan dalam MUI mestilah dijadikan jalan untuk bekerja sepenuh jiwa, bukan sekadar simbol kehormatan yang mesti dipamerkan di hadapan publik.
Tradisi keulamaan di Nusantara sejak lama menjunjung tinggi senioritas, bukan dalam arti feodal, melainkan karena pengalaman dan keteduhan jiwa sering kali tumbuh bersama usia. Wajah ulama selalu dibayangkan sebagai wajah yang teduh, berwibawa, dan wara', sebuah pancaran batin yang lahir dari tempaan masa yang amat panjang.
Namun demikian, sejarah juga mengajarkan bahwa keulamaan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Zaman terus bergerak, tantangan berubah, dan umat terus menunggu generasi yang mampu memahami dunia baru tanpa kehilangan tradisi klasik yang baik. Karena itu, regenerasi ulama adalah keniscayaan yang tak boleh ditunda.
Dalam hal ini, MUI Sumatera Utara memiliki instrumen penting berupa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU). Program ini telah lama menjadi ruang pembibitan ulama muda, mempersiapkan mereka dengan dasar keilmuan syar'i sekaligus wawasan sosial modern. Para alumni PTKU inilah yang diharapkan kelak mengisi pos-pos strategis hingga ke tingkat kabupaten/kota, menjadi pelanjut estafet kepemimpinan moral di tengah umat.
Dalam pengamatan penulis terhadap pengukuhan terbaru ini, tampak cukup banyak wajah muda yang hadir penuh semangat. Ini pertanda baik, pertanda bahwa Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara memahami pentingnya proses regenerasi.
Kehadiran kaum muda merupakan harapan jangka panjang. Walaupun pengalaman mereka belum matang dan sikap wara' masih perlu terus diperdalam, namun merekalah yang kelak melanjutkan napas lembaga ini. Mereka perlu diasuh, diarahkan, dan disertakan dalam proses panjang pembentukan keulamaan yang tidak hanya menguasai persoalan-persoalan keislaman yang mendalam, tetapi juga menguasai dinamika sosial dan perkembangan zaman.
Tugas ulama di masa kini dan masa mendatang semakin berat. Globalisasi menghadirkan realitas baru, kecanggihan teknologi informasi, perubahan pola pikir, pergeseran nilai, dan penetrasi budaya yang makin dalam. Dalam lanskap seperti ini, ulama dituntut bukan hanya memahami teks, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam konteks kekinian, menjadi pengawal moral bangsa di tengah hiruk-pikuk dunia yang cepat berubah.
Ulama mesti hadir bukan saja sebagai penjaga akidah, tetapi juga sebagai penjaga akhlak umat; bukan hanya sebagai pemberi fatwa, tetapi juga sebagai penuntun arah peradaban.
Dalam khazanah keilmuan MUI, peran ulama sering digambarkan dalam tiga istilah mulia. Sebagai shadiqul hukumah (mitra pemerintah), ulama berkewajiban menyampaikan nasihat, mengingatkan pemerintah jika ada yang melenceng, dan bekerja sama menjaga kepentingan rakyat.
Sebagai himayatul ummah (membimbing umat), ulama menjadi benteng dari berbagai ancaman: gangguan akidah, virus pemikiran liberal, dan konflik keamanan sosial. Sebagai khadimul ummah (pelayan umat), ulama harus siap mendengarkan keluhan masyarakat, memberikan solusi, menjadi juru damai, dan tidak berjarak dengan umat. Tiga tugas ini bukanlah peran yang sifatnya simbolik, ia membutuhkan kompetensi keteladanan yang seimbang.
Dalam sambutannya pada hari pengukuhan tersebut, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak dua kali menyitir ayat "wa la tamutunna illa wa antum muslimun" janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.
Ayat ini tidak hanya sekadar seruan spiritual, melainkan sebagai pesan untuk menjaga identitas dan jati diri keislaman dalam setiap perilaku dan pengabdian. Menjadi pengurus MUI bukan hanya perkara administratif, melainkan sebuah janji untuk menjaga dirinya tetap dalam garis keikhlasan dan kecenderungan pada kepentingan Islam.
Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dr. H. Amirsyah Tambunan, MA., mengingatkan bahwa ciri utama ulama adalah khasyah: rasa takut kepada Allah swt. jika meninggalkan perintah-Nya. Khasyah adalah energi batin yang membuat ulama berhati-hati dalam berkata dan bersikap, tidak terperangkap godaan dunia, dan tetap kokoh menjaga martabat. Dengan khasyah itulah ulama menjadi rujukan moral, melebihi dari sekadar status sosial.
Akhirnya, umat tengah menanti sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi menentukan: kinerja. Bukan jumlah pengurus yang banyak jumlahnya ditambah deretan nama dan gelar yang panjang, tetapi bagaimana kemudian hasilnya, kerja nyata.
Umat menunggu program yang berjalan, fatwa yang tegas dan berdampak, bimbingan yang menyejukkan, dan seruan moral yang menentramkan. Harapan itu kini berada di pundak 513 pengurus yang telah usai dilantik.
Kiranya, pengukuhan ini menjadi awal perjalanan, bukan akhir dari sebuah upacara. Inilah saatnya MUI Sumatera Utara menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang benar-benar hidup, bergerak, berprestasi, dan menginspirasi. Umat menanti dengan doa, dengan harap, dan dengan keyakinan bahwa amanah besar yang diterima hari ini akan melahirkan kerja besar esok hari.
Semoga langkah mereka diberkahi, dan semoga mengabdi di MUI menjadi jalan untuk lebih dekat kepada-Nya.
Penulis adalah Dosen STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara,
Penasihat Bidang Akademik Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara.
MUI Sumatera Utara Gelar Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat
Ribuan Peserta Ikuti Gerak Jalan Sehat Gebyar Muharram 1448 H MUI Sumut
MUI Kota Medan Anugerahkan Award kepada Kapolrestabes Medan atas Keberhasilan Tekan Kriminalitas dan Narkoba
PWNU Sumut Sembelih Hewan Kurban, Warga NU Rasakan Kebahagiaan Idul Adha
CLS dan MUI Kota Medan Gandeng Dinas LH Edukasi Warga Melalui Dakwah Ekoteologi