Sosok Inspiratif di Balik Pojok Sastra MAN Tanjungbalai

Gustan Pasaribu - Minggu, 21 September 2025 11:08 WIB
Sosok Inspiratif di Balik Pojok Sastra MAN Tanjungbalai
dok.analisamedan.com
Sosok guru Bahasa Indonesia MAN Tanjungbalai, Dra. Rosita Fajarwati, S.Pd., yang telah puluhan tahun mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan

analisamedan.com -Di sebuah ruang kelas sederhana di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjungbalai, ada sebuah sudut kecil yang tak pernah sepi perhatian. Bukan pojok biasa, melainkan "Pojok Sastra" tempat di mana kata-kata hidup, puisi bergema, dan imajinasi murid-murid menemukan ruangnya. Di balik gagasan itu, berdiri sosok guru Bahasa Indonesia, Dra. Rosita Fajarwati, S.Pd., yang telah puluhan tahun mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan

Rosita bukan sekadar pengajar. Ia adalah mentor, sahabat, sekaligus inspirator bagi ribuan peserta didik yang pernah duduk di bangku madrasah tersebut. Dengan senyuman hangat yang selalu mengawali kelas, ia menyampaikan satu keyakinan sederhana namun mendalam.

"Bahasa Indonesia itu lebih dari sekadar pelajaran di kelas. Ia adalah jendela kita melihat dunia, alat kita memahami sesama, dan cermin kita mengenal diri sendiri."

Pojok Sastra lahir dari keresahan Rosita melihat rendahnya minat baca siswa di era digital. Dengan kreativitasnya, ia menghiasi sebuah sudut kelas dengan kutipan puisi, buku-buku lawas, hingga coretan karya muridnya sendiri. Di sana, para siswa tidak hanya membaca teori, melainkan juga diajak untuk menulis, mengungkapkan perasaan, bahkan menemukan jati diri.

"Dengan menulis, mereka belajar jujur pada perasaan, merangkai kata menjadi makna, dan pada akhirnya, menemukan identitas diri," ungkapnya penuh keyakinan.

Bagi Rosita, Pojok Sastra bukan sekadar metode pembelajaran, melainkan cara mendekatkan bahasa dengan kehidupan nyata.

Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Di awal karier, Rosita harus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dan tantangan membangkitkan minat baca siswa yang lebih tertarik pada gawai ketimbang buku. Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah.

Ia justru memanfaatkan teknologi sebagai jembatan. Murid-muridnya diajak membuat vlog resensi buku, podcast analisis puisi, hingga menulis surat untuk diri sendiri sepuluh tahun ke depan. Cara ini tidak hanya menghidupkan kelas, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa tulisan adalah jejak perjalanan hidup.

Rey Ezer, salah satu siswanya, mengenang pengalaman itu dengan mata berbinar. "Dulu saya paling malas pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi Ibu Rosita punya cara unik. Ketika diminta menulis surat untuk diri sendiri 10 tahun ke depan, saya baru sadar kalau tulisan bisa menyimpan mimpi dan perjalanan kita."

Bagi Rosita, mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi. Ia juga hadir sebagai pendengar setia bagi siswa yang tengah menghadapi masalah pribadi. Tak jarang, ia meluangkan waktu di luar jam pelajaran hanya untuk mendengarkan keluh kesah murid-muridnya, lalu memberi motivasi dengan penuh ketulusan.

Pendekatan personal ini membuat banyak siswa merasa dihargai, bahkan menemukan kembali semangat belajar yang sempat redup.

Kepala MAN Tanjungbalai, Khoirul Amri Hasibuan, S.Pd., M.Pd., menyebut Rosita sebagai teladan bagi guru lain. "Beliau adalah sosok yang tak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk akhlak mulia siswa. Kontribusinya di madrasah ini sungguh luar biasa," ujarnya bangga.

Kisah Rosita Fajarwati adalah cerminan dari banyak guru di pelosok negeri mereka yang berjuang dengan segala keterbatasan, namun tak pernah kehilangan semangat untuk menyalakan cahaya ilmu.

Lewat Pojok Sastra, ia telah mengukir peradaban dengan aksara dan budi pekerti. Ia membuktikan bahwa seorang guru sejati bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk karakter, penyemai mimpi, dan penjaga asa generasi penerus bangsa.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru