Tim Peneliti FAI UMA FGD di Penyabungan Julu Madina

Hadi Iswanto - Senin, 25 Agustus 2025 09:46 WIB
Tim Peneliti FAI UMA FGD di Penyabungan Julu Madina
analisamedan.com/istimewa
Tim Peneliti Fakultas Agama Islam Universitas Medan Area (FAI UMA) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Desa Penyabungan Julu Kecamatan Penyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), pada Sabtu 16 Agustus 2025.

analisamedan.com - Tim Peneliti Fakultas Agama Islam Universitas Medan Area (FAI UMA) melaksanakan
Focus Group Discussion (FGD) di Desa Penyabungan Julu Kecamatan Penyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), pada Sabtu 16 Agustus 2025.

Kegiatan FGD berjudul "Ekspresi Keagamaan dalam Kearifan Lokal Markobar" dengan kajian Cultural Ecology itu, sebagai upaya pembentukan keluarga sejahtera di Mandailing Natal. Tim Peneliti terdiri atas Ketua Tim, Dr. Abdul Haris, S.Ag., M.Si. bersama anggota Dr. Firmansyah, M.A dan Anri Naldi, M.Pd.

Ketua Peneliti, Dr. Abdul Haris, S.Ag., M.Si., dalam kata sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh tokoh adat yang hadir, seperti Kepala Desa Penyabungan Julu, Parlagutan dan Kepala Urusan Kemasyarakatan, Muhammad Pertaonan.

Tim peneliti, kata Dr. Abdul Haris sangat mengharapkan informasi sebanyak-banyaknya untuk bahan penelitian yang direncanakan membuat serangkai artikel publikasi ilmiah dalam rangka memperkaya dokumen tertulis tentang adat Markobar Mandailing Natal yang dirasa sangat minim hingga saat ini.

"Dukungan dari pemerintahan desa dan para tokoh adat yang tajam daya ingatnya tentang budaya Markobar betul-betul dibutuhkan untuk menjamin keutuhan adat budaya Markobar," ujar Abdul Haris yang juga Dekan FAI UMA.

Tampil sebagai narasumber dan moderator pada kegiatan FGD itu, Drs. Askolani Nasution dan Rahmi Wahyuni, M.Sos. Keduanya berasal dari STAIN Madina.

Drs. Askolani Nasution dalam pemaparannya menyampaikan pandangan akademis dari sudut pandang budaya Markobar.

Beberapa hal penting disampaikan bahwa budaya Markobar di Madina masih menjadi tadisi budaya hingga saat ini. Dan pelaksanaannya dilaksanakan sesuai dengan tuntunan tokoh-tokoh adat yang masih menjaga tradisi Makobar. Tradisi itu terus dilakukan secara turun temurun dalam keluarga.


Dijelaskan Askolani, bahwa Markobar saat ini bukan sekadar prosesi ritual adat akan tetapi dalam bahasa perguruan tinggi adalah bagian dari sastra lisan. Artinya keindahan bahasa dalam Markobar itu walaupun ada aturan-aturan seperti pengaturan tempat duduk Kahanggi, Anak Boru dan Mora, terdapat lantunan bahasa yang mengandung nilai sastra yang indah.

Diskusi berlangsung cukup ramai dengan hal-hal penting yang disampaikan para tokoh adat dan masyarakat yang hadir, dirasa bak gayung bersambut topik yang dibicarakan.

Hal ini dikarenakan dosen Sosiologi di STAIN Madina ini memang berasal dari Mandailing Natal dan mengetahui banyak informasi Markobar, dan tidak terkendala Bahasa Mandailing.

Dr. Abdul Haris menambahkan, kegiatan FGD masih belum cukup dalam mengumpulkan data-data penelitian Markobar. Karena itu katanya, tim peneliti masih harus melakukan wawancara mendalam dengan para tokoh adat yang sangat dikenal di masyarakat.

"Para tokoh adat ini tinggalnya di Desa Aek Nangali dan Muara Parlampungan, membutuhkan waktu 2 jam perjalanan dengan mobil," jelas Abdul Haris didampingi Dr. Firmansyah, M.A dan Anri Naldi, M.Pd.

Editor
: Taufik Wal Hidayat
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru