Dua Pasang Calon Gubernur Adu Visi Misi, Edy Rahmayadi Mendapat Kesempatan Pertama

Sugiatmo - Kamis, 31 Oktober 2024 06:05 WIB
Dua Pasang Calon Gubernur Adu Visi Misi, Edy Rahmayadi Mendapat Kesempatan Pertama
analisamedan/dok

analisamedan.com -Debat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara dimulai. Dua pasangan calon yakni paslon nomor urut 1, Muhammad Bobby Afif Nasution-Surya, dan paslon nomor urut 2, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala, berkomitmen meningkatkan ketersediaan dokter di Sumut.Alasannya, saat ini, rasio dokter di Sumut masih berada di angka 0,69 per 1.000 penduduk dari idealnya 1 per 1.000 penduduk.

Saat membuka pertanyaan mengenai tema pelayanan kesehatan dalam segmen kedua debat pertama Pilkada Sumut 2024 di Medan, Sumut, Rabu (30/10/2024) malam, moderator mengungkapkan, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyarankan rasio dokter minimal 1 per untuk 1.000 penduduk. Namun, pada 2023, rasio dokter di Sumut 0,69 dokter per 1.000 penduduk. Kedua paslon pun diminta menyampaikan strategi mereka dalam meningkatkan rasio dokter di Sumut.

Edy, yang mendapatkan kesempatan pertama, mengatakan, pendidikan adalah akar masalah keterbatasan jumlah dokter tersebut. Oleh karena itu, mereka akan menyiapkan talenta-talenta muda Sumut yang berkualitas untuk dikembangkan menjadi tenaga kesehatan. Tujuannya, agar kelak rasio dokter di Sumut bisa memenuhi standar ideal yang disarankan WHO.

Namun, Edy memastikan bahwa upaya itu tidak bisa dijalankan sendiri oleh pemerintah provinsi, tetapi butuh kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan segenap instansi lainnya, termasuk swasta. "Dengan kolaborasi, kami akan siapkan beasiswa perguruan tinggi untuk mencetak dokter-dokter baru," katanya.

Dalam segmen yang sama, kedua paslon menperdebatkan angka partisipasi murni (APM) sekolah menengah atas (SMA) di Sumut yang masih rendah, yakni hanya 68,67 persen. Padahal, APM tingkat sekolah lainnya sudah cukup tinggi, meliputi sekolah dasar (SD) 97,95 persen dan sekolah menengah pertama (SMP) 82,09 persen.

Edy mengatakan, selama menjabat sebagai gubernur, dirinya sudah mencoba meningkatkan jumlah sekolah SMA sedejarat di Sumut yang mencapai 24 SMK/SMA dari total tambahan kebutuhan 96 sekolah di 33 kabupaten/kota yang ada. Hanya saja, dia tidak bisa melanjutkan program itu dengan optimal karena anggaran yang ada harus dialihkan untuk penanganan darurat pandemi Covid-19.

Terlepas dari itu, Edy memastikan, anggaran pendidikan harus menjadi prioritas dalam APBD, minimal 20 persen. Selain untuk infrastruktur, anggaran itu dibutuhkan untuk optimalisasi proses belajar-mengajar. "Dukungan untuk tenaga pendidik juga sangat penting untuk memastikan kurikulum bisa disampaikan dengan optimal," katanya.

Pasangan Edy Rahmayadi dan Hasan Basri Sagala serta Bobby Afif Nasution dan Surya mengikuti debat publik pertama calon gubernur dan wakil gubernur yang digelar di Hotel Grand Mercure, Medan, Rabu (30/10/2024) malam. Debat pertama mengambil tema "Pelayanan Publik dan Kesejahteraan Masyarakat".

Menanggapi jawaban tersebut, Bobby justru mengkiritisi pemerintahan era Edy. Pasalnya, selama kampanye, Bobby mengakui mendapatkan laporan terjadinya kutipan atau pungutan liar untuk masuk SMA sederajat. Hal itu diyakini menjadi salah satu faktor masih rendahnya APM SMA di Sumut. Di samping itu, ada kebudayaan yang berkembang di masyarakat yang biasanya memilih bekerja setelah lulus SMP.

Pernyataan itu sedikit memanaskan suasana debat. Eddy menegaskan, kalau memang terjadi pungli, kenapa pihak-pihak yang dirugikan itu tidak pernah melaporkannya. Kendati demikian, Edy tidak menafikan bahwa banyak faktor yang memengaruhi APM SMA di Sumut masih rendah, antara lain karena faktor ekonomi.

"Oleh karena itulah, gubernur harus hadir untuk menyediakan fasilitas pendidikan guna memotivasi masyarakat meningkatkan APM SMA," katarnya. (kompas.id/ans)

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru