Untuk Siapa Perahu Golkar Deliserdang Berlabuh ?

Oleh : El-Khair
El-Khair - Selasa, 25 Juni 2024 23:31 WIB
Untuk Siapa Perahu Golkar Deliserdang Berlabuh ?
analisamedan.com/el-khair
Kantor Golkar Deliserdang terlihat indah dan mewah. Pilkada Deliserdang 2024 menguji eksistensi Golkar sebagai partai tua dan berpengalaman

analisamedan.com - Deliserdang merupakan salah satu kabupaten yang bakal menghelat pesta demokrasi 5 tahunan yakni, pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati dan wakil bupati serentak bersama daerah lainnya di Indonesia 27 Nopember 2024 mendatang.

Diprediksi, pilkada Deliserdang kali ini akan sangat kompetitif bahkan suhu politiknya terbilang 'panas'. Pilkada Deliserdang akan jadi pertarungan 'gengsi' 4 partai politik peraih kursi terbanyak di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) hasil dari pemilihan legislatif (pileg) 14 Pebruari 2024 kemarin.

Keempat parpol tersebut yakni, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem). Masing parpol di atas memiliki 7 kursi.

Tradisi Golkar

Ada hal menarik dari partai tua Golkar dalam konteks Pilkada Deliserdang. Selain partai berpengalaman dan pernah memimpin Indonesia selama sekira 32 tahun masa Presiden Soeharto, Golkar sangat cerdas dalam berpolitik.

Dari sejarah tradisi politik Golkar di Deliserdang, partai ini selalu mengusung kadernya sendiri untuk maju pada Pilkada Deliserdang. Pada pilkada 2009-2014 yang menjadi pilkada langsung pertama, Golkar memajukan kadernya Tengku Akhmad Talaa sebagai calon bupati berpasangan dengan Satrya Yudha Wibowo berkoaliasi dengan Partai Keadilan Sejahteran(PKS).

Dalam pilkada ini, pasangan Tengku Akhmad Talaa - Satrya Yudha Wibowo kalah dari pasangan petahana saat itu Amri Tambunan-Zainuddin Mars.

Selanjutnya pada pilkada Deliserdang 2014-2019, Golkar mengusung kadernya kembali sebagai calon bupati Tengku Akhmad Talaa berpasangan dengan Hardi Mulyono yang juga kader Golkar dengan singkatan 'ABDI'.

Namun pasangan kader Golkar ini juga harus mengalami kekalahan serupa dari pasangan Ashari Tambunan yang merupakan adik kandung Bupati Deliserdang Amri Tambunan, saat itu masih menjabat, berpasangan dengan Zainuddin Mars yang maju kembali tetap dalam posisi wakil bupati Deliserdang.

Kemudian pada pilkada Deliserdang 2019-2024 Golkar tidak mengusung kadernya dan sepakat untuk 'bersyubhat' mendukung calon petahana Ashari Tambunan dengan Muhammad Ali Yusuf Siregar sehingga tercatat dalam sejarah pilkada Deliserdang calon petahan melawan kotak kosong.

Majukan Kader

Saat ini Golkar Deliserdang merupakan pemilik saham besar dengan 7 kursi di legislatif. Dengan tambahan 3 kursi lagi dari koalisi dengan partai seperti Partai, Persatuan Pembangunan (PPP) saja, maka bakal calon yang diusung Golkar akan bisa berlabuh.

Merujuk kepada fakta sejarah Golkar pada pilkada Deliserdang sebelumnya, apakah kemungkinan Golkar masih tetap dengan tradisinya mengusung kader sendiri sebagai calon bupati ? Atau perahunya akan diberikan kepada orang lain di luar Golkar ?

Kembali merujuk kepada tradisi dikuatkan dengan proses penjaringan lewat pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati Deliserdang yang sudah ditutup dan sedang diproses di pusat, , kemungkinan Golkar akan kembali kepada tradisinya mengusung kader sendiri.

Pasalnya pada proses penjaringan dan pendaftaran tersebut, ada 3 orang kader Golkar mendapat mandat langsung agar mendaftar yakni, Tengku Akhmad Talaa yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Deliserdang dan pernah menjabat Ketua Golkar Deliserdang 2 periode.

Selain Tengku Akhmad Talaa, Hamdani Syahputra yang saat ini menjabat Ketua Golkar Deliserdang dan terpilih sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Deliserdang pada pileg 14 Pebruari 2024 kemarin, juga mendapat mandat serupa.

Dan terakhir Adlin Tambunan yang mendapat mandat serupa. Namun Adlin lebih memilih maju kembali sebagai Calon Wakil Bupati Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) bersama calon petahana Darma Wijaya.

Melihat adanya mandat yang diinstruksikan kepada 3 kader Golkar tersebut serta tradisi di pilkada Deliserdang ditambah lagi ada seorang kader Golkar Ricky Prandana Nasution yang merupakan mantan Sekretaris Golkar Deliserdang dan pernah menjadi Ketua DPRD Deliserdang periode 2014-2019 turut mendaftar, dari sisi fakta ini, kemungkinan Golkar akan memajukan kadernya lagi.

'Jual' Perahu

Namun catatan lainnya berdasarkan pengalaman dari Pilkada Deliserdang sebelumnya, ada kemungkinan Golkar juga melakukan evaluasi terhadap kadernya yang sudah mendaftar. Pasalnya, dari 3 kadernya tersebut, secara elektabilitas kurang berpotensi untuk menang.

Tengku Akhmad Talaa misalnya, punya sejarah 2 kali mengikuti Pilkada Deliserdang tidak pernah menang. Bahkan pada pileg 14 Pebruari 2024 kemarin, pria yang akrab disapa Tengku Amek" ini juga tidak terpilih dari daerah pemilihan I meliputi, Kecamatan Pantailabu, Beringin, Lubukpakam, Pagarmerbau dan Galang.

Lalu Hamdani Syahputra yang secara struktural partai cukup strategis karena menjabat Ketua Golkar Deliserdang. Namun elektabilitas masih lemah karena pendatang baru dan belum dikenal masyarakat serta masih 'miskin' karya sehingga sulit 'menjualnya'.

Selanjutnya ada sosok Ricky Prandana Nasution yang sudah berpengalaman dan ada kelayakan untuk 'dijual'. Tapi Ricky tidak termasuk orang yang ditugaskan partai Golkar untuk mendaftar. Terlebih saat ini, aktivitas politiknya tidak berada dalam lingkungan legislatif dan tidak duduk di struktur partai.

Kemungkinan lainnya, perahu Golkar akan diberikan kepada orang lain di luar partai. Isu ini berhembus kuat di forum diskusi bebas masyarakat Deliserdang. Dengan beberapa alasan di atas, Golkar Deliserdang diisukan bakal mengusung orang lain.

Isu kuat yang berhembus, Golkar akan 'menjual' perahunya sebagai kendaraan berlabuh kepada salah seorang bakal calon yang turut mendaftar ke Golkar pada masa penjaringan dan pendaftaran kemarin.

Secara elektabilitas, bakal calon ini memang belum popular. Tapi dipastikan, elektoralnya sangat kuat karena memiliki perangkat pendukung untuk menang pada pilkada Deliserdang. Jika rakyat masih cenderung dengan politik transaksional, kemungkinan besar calon ini bisa menang.

Jika Golkar akan memberikan perahunya kepada calon ini, artinya Golkar yang punya tradisi mengusung kadernya sendiri, mengalami stagnasi kaderisasi sebagai partai tua dan berpengalaman.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru