Dua Minggu Tanjung Pura Masih Banjir, FORMASSU Soroti APBD dan Desak Normalisasi Sungai
Dampak dari minimnya mitigasi tersebut, lanjut FORMASSU, terlihat dari lamanya genangan air, terhentinya aktivitas ekonomi warga, meningkatnya risiko kesehatan, terganggunya pendidikan anak-anak, hingga terisolasinya desa-desa pesisir.
Sebagai solusi, FORMASSU menekankan pentingnya normalisasi sungai, termasuk pembukaan dan normalisasi Sungai Mati. Langkah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga memiliki efek ganda bagi perekonomian daerah.
"Normalisasi Sungai Mati bukan beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang. Selain mengurangi banjir, juga bisa dikembangkan sebagai wisata sungai dan menggerakkan UMKM," tegas Ariffani.
FORMASSU mendesak Pemkab Langkat segera mengambil langkah konkret, di antaranya normalisasi Sungai Wampu dan Batang Serangan, perbaikan pintu irigasi dan drainase terpadu, penguatan tanggul, penyediaan mesin sedot air permanen, serta perbaikan akses jalan menuju desa-desa pesisir seperti Tapak Kuda, Kwala Langkat, dan Jaring Halus.
FORMASSU mengingatkan, tanpa keberanian politik dan keberpihakan anggaran terhadap mitigasi bencana, banjir akan terus menjadi masalah tahunan di Kabupaten Langkat. "Rakyat tidak butuh simpati, rakyat butuh solusi. Jika APBD tidak berpihak pada mitigasi, pemerintah harus bertanggung jawab atas penderitaan yang terus berulang," pungkas Ariffani.
15 Tahun Ummu Rahmah, Menuntun Umat Lewat Cinta Alquran
DPRD Medan Minta Pemko Maksimalkan Normalisasi Sungai
Menembus Hutan Asri Pamah Semelir: Sensasi Perjalanan dari Langkat ke Tanah Karo
Rumah Zakat Salurkan Paket Sembako di Desa Benteng, Tapanuli Selatan
Bantuan Banjir Tak Tepat Sasaran! Warga Geruduk Kantor Desa di Sidimpuan. APH Diminta Panggil Kades dan Perangkat Desa