Agusnardi, Penjaga Mimpi dari Jalanan Tanah Parlilitan
analisamedan.com - Di Desa Sionomhudon Tonga, Dusun Janji Mariah, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, ada sebuah kisah kecil namun sarat makna. Kisah tentang seorang bocah madrasah yang berlari mengejar mimpinya, meski harus melewati jalan panjang yang berdebu, licin, dan penuh batu.
Namanya Agusnardi. Usianya baru 10 tahun, siswa kelas 4 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Humbang Hasundutan. Ia anak kedua dari tiga bersaudara, putra dari Master Tumanggor. Sehari-hari, ayahnya sibuk menggarap ladang, sebagaimana mayoritas warga Parlilitan yang menggantungkan hidup dari tanah pertanian.
Tapi di balik sederhana kehidupannya, tersimpan cita-cita yang begitu besar: menjadi seorang guru agama, lalu kembali ke desanya untuk membagi ilmu kepada anak-anak yang tumbuh di kampung terpencil ini.
Setiap pagi, sebelum matahari merangkak penuh di ufuk timur, Agusnardi sudah siap dengan seragam rapi dan tas kecil berisi buku serta alat tulis. Ia melangkah menyusuri jalan tanah sejauh hampir empat kilometer menuju madrasah.
Hujan, panas, atau jalanan becek setelah hujan deras, bukan alasan untuk absen. "Kalau tidak sekolah, saya bisa ketinggalan pelajaran. Saya mau jadi guru," ucapnya polos suatu hari.
Kepala MIN 4 Humbang Hasundutan, Rosfawati Gajah, menyebut Agusnardi sebagai teladan bagi teman-temannya.
"Dia jarang sekali absen. Selalu semangat belajar meski tinggal jauh dari sekolah. Justru kehadirannya menjadi penyemangat bagi siswa lain," katanya.
Bagi Agusnardi, memilih bersekolah di madrasah bukanlah kebetulan. Ia ingin belajar agama sekaligus ilmu umum, agar kelak bisa tumbuh menjadi orang yang bermanfaat. "Karena saya ingin belajar agama dan jadi orang baik," katanya sambil tersenyum malu.
Di sekolah, ia dikenal sopan, rajin, dan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Fasilitas yang terbatas tidak pernah membuatnya putus asa. Justru, semangatnya semakin menyala untuk terus belajar.
Kisah Agusnardi adalah potret nyata perjuangan anak-anak madrasah di pelosok tanah air. Di tengah keterbatasan infrastruktur, akses jalan yang sulit, dan fasilitas pendidikan yang jauh dari kata memadai, mereka tetap teguh menapaki jalan ilmu.
Mereka belajar bukan karena dimanjakan kemudahan, melainkan karena keinginan kuat untuk mengubah masa depan. Dari desa terpencil di Humbahas, anak-anak seperti Agusnardi menyalakan harapan: bahwa pendidikan, meski penuh rintangan, adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.
“Sejarah Terukir! Medali OMI NASIONAL dari Dua Murid Madrasah Aliyah Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara
Farid Wajdi Sindir Pemerintah Medan: “Sibuk Gaya, Lupa Kerja”
Kakanwil Kemenagsu Tinjau ANBK di MIN 12 Medan: Siswa Diminta Jujur dan Percaya Diri
Sosok Inspiratif di Balik Pojok Sastra MAN Tanjungbalai
Kemenag Sumut-UINSU Gelar Perkemahan Wirakarya Madrasah 2025, Ratusan Siswa Ikut