Bencana dalam Nikmat

Oleh : Amirul Khair
El-Khair - Jumat, 27 Desember 2024 10:08 WIB
Bencana dalam Nikmat
dok.analisamedan.com

Hakikat semua takdir Allah Swt terhadap diri seorang hamba merupakan 'nikmat' dan 'rahmat-Nya' (kasih sayang). Takdir adalah peristiwa yang sudah terjadi dan menjadi ketetapan Allah Swt dan merupakan bagian dari rukun Iman, yakni percaya kepada ketentuan dan ketetapan-Nya.

Keimanan seorang hamba terimplementasikan dalam sikap seorang hamba dalam menerima semua bentuk takdir Allah Swt baik yang menyenangkan hati maupun yang tidak. Atau dengan bahasa lain, baik itu takdir yang disenangi nafsu maupun yang dibenci nafsu.

Menjadi pemandangan umum bahwa kecenderungan manusia dalam menyikapi nikmat Allah Swt selalu menyenangi hal-hal yang disukai seperti nikmat sehat dan kaya. Padahal kebalikan dari kedua nikmat ini, yaitu sakit dan miskin juga bentuk nikmat lain yang juga dianugerahkan Sang Mahapemberi Rejeki.

Kenapa bentuk sakit dan miskin disebut nikmat ? Bukankah itu juga bagian dari takdir Allah Swt terhadap seorang hamba yang harus diimani karena bagiaan dari rukun Iman ? Ketika mengingkari takdir, bukankah berarti menyingkirkan keimanan yang menjadi salah satu nikmat besar diberikan-Nya ?

Istidraj

Fitrah manusia yang lebih cenderung kepada hal-hal yang menyenangkan hati atau disukai nafsu, seperti sehat, kaya, sukses, makanan lezat, lebih unggul dari orang lain, prestatif, bisnisnya maju, kekuasaan dan lain sebagainya.

Kesuksesan dunia selalui dilekatkan kepada raihan-raihan seperti di atas sehingga jarang sekali sebuah kegagalan dimaknai sebagai nikmat. Sakit disikapi nikmat. Kebangkrutan dalam bisnis dinilai nikmat dan lainnya.

Dalam konteks kenikmatan yang disenangi nafsu dan lazim menjadi kecenderungan manusia tersebut, ternyata harus diwaspadai. Pasalnya nikmat tersebut bisa menjadi bahaya bagi penerimanya tatkala salah dalam menyikapi yang disebut dengan 'Istidjraj'.

Editor
: El-Khair
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru