Dari Basis Kultural ke Basis Elektoral: Ujian PKB di Sumatera Utara

Oleh: Nurasyiyah Harahap,S.Sos, M.Pd (Dosen UNUSU)
Sugiatmo - Rabu, 22 April 2026 15:21 WIB
Dari Basis Kultural ke Basis Elektoral: Ujian PKB di Sumatera Utara
analisamedan.com/dok
Nurasyiyah Harahap,S.Sos, M.Pd

analisamedan.com - Di tengah kompetisi politik yang kian rasional dan terukur, posisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Sumatera Utara menghadirkan satu pertanyaan mendasar: mengapa basis kultural yang dimiliki belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan elektoral?

Sebagai partai yang berakar dari Nahdlatul Ulama (NU), PKB sesungguhnya memiliki modal sosial yang tidak kecil. Jaringan pesantren, ulama, dan komunitas nahdliyin merupakan fondasi kultural yang kuat. Namun, pengalaman politik lokal menunjukkan bahwa kekuatan tersebut belum otomatis terkonversi menjadi dukungan suara yang signifikan.

Di sinilah letak persoalan utamanya: dalam politik kontemporer, afiliasi kultural tidak lagi cukup. Ia harus ditransformasikan melalui strategi elektoral yang sistematis, adaptif, dan berbasis kebutuhan riil pemilih.

Sumatera Utara memiliki karakter sosial-politik yang khas. Pluralitas etnis dan agama membentuk lanskap politik yang tidak homogen. Dalam konteks seperti ini, figur kerap lebih menentukan dibandingkan identitas partai. Pilihan politik sering kali dipengaruhi oleh kedekatan personal, rekam jejak, dan persepsi publik terhadap individu.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi PKB. Di satu sisi, partai ini belum sepenuhnya memiliki figur lokal dengan daya tarik elektoral yang kuat. Di sisi lain, struktur organisasi yang ada belum bekerja optimal sebagai mesin mobilisasi politik.

Akibatnya, terjadi kesenjangan antara potensi dan capaian. Basis kultural tetap ada, tetapi tidak terkonsolidasi secara efektif dalam kontestasi elektoral. Bahkan, di kalangan nahdliyin sendiri, preferensi politik tidak selalu linier dengan identitas keagamaan.

Situasi ini menunjukkan bahwa politik identitas kultural, tanpa strategi yang jelas, berisiko terjebak dalam simbolisme semata. Karena itu, PKB Sumatera Utara membutuhkan langkah korektif yang terukur. Pertama, penguatan kelembagaan partai harus menjadi prioritas. Konsolidasi hingga tingkat akar rumput tidak bisa ditunda, disertai kaderisasi yang berkelanjutan, terutama dari kalangan muda.

Kedua, pergeseran dari politik identitas ke politik gagasan menjadi keharusan. PKB perlu menghadirkan isu-isu konkret yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Sumatera Utara—mulai dari penguatan ekonomi umat, akses pendidikan, hingga keadilan sosial. Tanpa diferensiasi isu, partai akan sulit membangun posisi tawar di ruang publik.

Ketiga, pembangunan figur lokal yang kredibel menjadi kebutuhan strategis. Sosok yang memiliki legitimasi kultural sekaligus kapasitas kepemimpinan akan menjadi jembatan antara identitas partai dan preferensi pemilih.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru