Ketika Air Mata Jatuh di Padang Arafah: Kisah Khairunnida Menapaki Jejak Spiritual di Tanah Suci
analisamedan.com - Mentari menggantung terik di langit Arafah, menusuk hingga 45 derajat Celsius. Tapi tidak ada satu pun yang mengeluh. Hari itu, Kamis 5 Juni 2025, jutaan manusia dari segala penjuru dunia memadati Padang Arafah. Mereka bersimpuh, menengadah, dan menangis dalam satu kesamaan: kerinduan akan ampunan dan cinta dari Sang Khalik.
Di antara lautan manusia itu, seorang perempuan asal Sumatera Utara, Khairunnida, berdiri bersama jutaan umat Islam lainnya, mengenakan pakaian ihram yang sederhana, namun penuh makna. Ia datang bersama sang suami, tergabung dalam Kloter 08 KNO. Tapi di hadapan Allah, ia hanyalah seorang hamba yang sedang mengiba dan berharap.
"Saat wukuf di Arafah saya menangis," tutur Khairunnida dengan suara bergetar. "Mengingat dosa-dosa, kesalahan masa lalu, dan juga mendoakan orang-orang yang saya cintai."
Bagi Khairunnida, Arafah bukan sekadar tempat. Ia adalah ruang suci tempat jiwa-jiwa dibersihkan, tempat manusia berserah total. Di sana, ia larut dalam doa dan tangis, memohon agar keluarganya diampuni dan diberi kesempatan yang sama untuk menginjakkan kaki ke Baitullah.
"Saya teringat anak-anak, orang tua, dan sahabat-sahabat yang saya tinggalkan di tanah air. Rasanya seperti semua emosi tumpah di satu waktu," ujarnya sambil menyeka air mata yang tak henti ia ceritakan.
Selepas wukuf, Khairunnida bersama jutaan jemaah lainnya bergerak menuju Muzdalifah. Perjalanan padat dan melelahkan. Ada desakan, antrean panjang, dan waktu istirahat yang minim. Tapi semangat tak pernah pudar.
"Saya menikmati semuanya. Ini adalah perjuangan ibadah. Dari Muzdalifah, kami naik bus ke Mina dan melanjutkan ke Jamarat untuk melontar jumrah," katanya.
Namun, di sinilah pengalaman tak terlupakan itu terjadi. Seusai melontar jumrah untuk kali ketiga, Khairunnida terpisah dari rombongan. Ia berjalan sendirian, dalam kondisi fisik yang lelah, bingung mencari arah kembali ke tenda Mina.
"Suami saya berjalan lebih cepat, sedangkan saya lambat karena kelelahan. Saat sadar sudah sendiri, saya terus bertanya ke petugas polisi arah ke tenda. Untungnya saya sempat memfoto pintu tenda waktu awal datang. Itu jadi penyelamat saya," katanya, tertawa kecil.
Akhirnya, setelah pencarian melelahkan, ia berhasil menemukan tenda dan kembali bersatu dengan sang suami. "Rasanya lega sekali. Alhamdulillah," ucapnya haru.
Khairunnida, yang merupakan ASN di Bidang Haji Kanwil Kemenag Sumatera Utara, mengaku sangat puas dengan pelayanan selama di tanah suci. Mulai dari hotel yang nyaman, makanan bercita rasa Nusantara, hingga pendampingan petugas yang sigap.
"Segala fasilitas sangat mendukung kenyamanan kami dalam menjalani ibadah. Ini luar biasa," ungkapnya.
Namun, lebih dari sekadar pelayanan, bagi Khairunnida, ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang menyentuh jiwa dan hati paling dalam. Ia adalah ruang perenungan, tempat pertobatan, dan awal kehidupan baru.
"Saya berharap pulang dari Baitullah ini menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih dekat dengan Allah, dan tentu saja mendapatkan predikat haji mabrur," tutupnya.
Kisah Khairunnida adalah satu dari jutaan kisah spiritual yang lahir dari Tanah Suci. Setiap langkah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina bukan sekadar perjalanan fisik, tapi adalah tafakur panjang menuju kedekatan dengan Sang Pencip
Wamen Kemenhaj RI : Oleh-oleh Terbaik Ibadah Haji Adalah Haji Mabrur
356 Jemaah Haji Kloter 14 Debarkasi Medan Disambut Haru di Ahmed
Sambut Jamaah Haji, Wako Harry Pahlevi: Selamat Datang, Selamat Berkumpul Bersama Keluarga
Jamaah Haji Asal Padangsidimpuan Dijadwalkan Tiba Senin Malam di Balai Kota
Universitas Medan Area Sembelih 24 Ekor Lembu dan 2 Ekor Kambing pada Iduladha 1447 H