Bencana di Sumatera Ungkap Kerapuhan Kesiapsiagaan dan Respons Birokrasi
analisamedan.com -Rangkaian bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatera mengungkap lemahnya kesiapsiagaan dan respons birokrasi dalam penanganan bencana. Hujan ekstrem yang mengguyur Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilaporkan telah menewaskan lebih dari seribu orang, sementara ratusan lainnya hilang, luka-luka, serta kehilangan tempat tinggal.
Di Aceh, longsor dilaporkan memutus akses jalan utama ke sejumlah desa sehingga bantuan sulit menjangkau warga terdampak. Di Sumatera Utara, ratusan rumah rusak dan ribuan warga terpaksa bertahan di tenda-tenda darurat dengan keterbatasan sanitasi. Sementara itu, Sumatera Barat mengalami banjir dengan ketinggian beberapa meter yang merusak jaringan listrik, air bersih, serta fasilitas kesehatan.
Kondisi di berbagai daerah menunjukkan pola persoalan yang serupa, mulai dari keterlambatan pendataan korban, lemahnya koordinasi antarlembaga, hingga distribusi bantuan yang tidak merata. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem kesiapsiagaan bencana yang selama ini diklaim telah dibangun pemerintah.
Pemerintah pusat menyatakan kondisi mulai membaik seiring menurunnya jumlah pengungsi. Namun, banyak warga disebut kembali ke rumah bukan karena situasi sudah aman, melainkan karena tekanan ekonomi dan keterbatasan pilihan hidup.
Libur Sekolah Lebih Hemat, Tarif KA Sribilah Fakultatif Turun hingga 30 Persen
PW KAMMI Sumut Desak Presiden Copot Dirut Pertamina dan Menteri ESDM, Tolak Kenaikan Harga Pertamax
PWI Sumut Tebar Kepedulian Iduladha 1447 H, Sembelih 4 Sapi dan 2 Kambing
Farid Wajdi Soroti Blackout Sumatera: Negara Jangan Sibuk Pencitraan, Tapi Perkuat Ketahanan Energi
Angkutan Petikemas di Sumatera Utara Tumbuh Konsisten, Dukung Efisiensi Logistik Nasional