Bencana di Sumatera Ungkap Kerapuhan Kesiapsiagaan dan Respons Birokrasi
Kritik juga muncul terhadap lambannya penetapan status bencana nasional yang berdampak pada keterlambatan mobilisasi anggaran dan koordinasi lintas kementerian. Proses administratif yang berlarut dinilai memperparah penderitaan warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.
Founder Ethics of Care, Farid Wajdi, menilai bencana di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga ujian terhadap kepemimpinan dan tata kelola negara. "Korban manusia bukan sekadar angka statistik. Respons yang lamban bukan hanya kesalahan administratif, tetapi kegagalan moral," ujar Farid Wajdi, mantan Anggota Komisi Yudisial periode 2015–2020., Senin (15/12/2025)
Ia menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanganan bencana, dari sekadar pencatatan data menuju pembangunan sistem kesiapsiagaan yang profesional dan berpihak pada keselamatan warga.
Bencana ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa klaim kesiapan menghadapi bencana harus dibuktikan melalui tindakan nyata, agar tragedi serupa tidak terus berulang di wilayah yang setiap tahun menghadapi ancaman banjir dan longsor.
Peringati Ketangguhan Bencana, PFI Gelar Pameran Foto "Prahara Pulau Emas" di Banda Aceh
Pasca Insiden di Perbaungan, KAI Divre I Sumut Perkuat Upaya Keselamatan di Perlintasan Sebidang
Stasiun Perlanaan: Topang Mobilitas Warga Simalungun Bagian Timur dan Mendorong Roda Ekonomi
KAI Divre I Sumut Siagakan Pos Kesehatan di Empat Stasiun Utama, Hadirkan Perjalanan Kereta Api yang Aman dan Nyaman
Dosen Komunikasi FISIP UMA dan Teknik Universitas Al Azhar Gelar PKM di Besitang Langkat