Menatap Masa Depan Prodi-Prodi Keislaman di Sumatera Utara
analisamedan.com - BARU - baru ini UIN Sumatera Utara melahirkan tiga prodi (program studi) keislaman yang baru dan cukup menantang perkembangan zaman, yakni: Magister Studi Islam (S2), Magister Ilmu Syariah (S2), dan Doktoral Studi Islam (S3), sebelumnya telah terbit juga 1 (satu) prodi baru Sains Data (S1).
Prodi keislaman ini menunjukkan bahwa UIN Sumatera Utara selalu konsern pada khazanah peradaban keilmuan Islam yang memadukan pengetahuan agama dan dunia, di samping "khasnya" menunjukkan tidak ada dikotomi keilmuan dalam Islam – antara ilmu umum dan agama.
Fenomena ini wajib dicermati dan direspon seluruh entitas masyarakat dan bangsa, tidak semata-mata menjadi ranah komunitas intelektual, termasuk masyarakat dan pemerintah harus memberikan tanggapannya terhadap masa depan prodi-prodi keislaman tersebut, apalagi prodi-prodinya dikelola oleh institusi pemerintah alias pendidikan tinggi negeri.
Khusus perkembangan program studi keislaman Islam di Sumatera Utara saat ini berada pada persimpangan penting antara kesinambungan tradisi keilmuan dan tuntutan perubahan sosial yang semakin canggih. Di satu sisi, pendidikan Islam dituntut menjaga otoritas keilmuan dan nilai-nilai keagamaan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Di sisi lain, kemajuan teknologi, globalisasi, dan dinamika dunia kerja menuntut program studi keislaman untuk lebih adaptif, relevan, dan berorientasi pada solusi nyata atas persoalan umat dan bangsa.
Hal ini semakin 'disurukkan' dengan fokus pemerintah Indonesia dengan mengutamakan jurusan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics) yang bersifat eksakta dan terukur, ketimbang ilmu sosial humaniora yang memberikan teks dan bersifat abstraksi serta harus "diterjemahkan" agar bisa diaktualisasikan.
Akhirnya jurusan-jurusan keagamaan yang memiliki filosofi suci dan adiluhung, hanya sebatas menggali teks dan terkesan meninggalkan makna. Seolah tidak memiliki kedudukan yang penting dan hanya sebatas aksesoris. Padahal pandangan ini menjadi dikotomi palsu keilmuan yang sejatinya bisa menggagalkan maqoshid nilai keagamaan yang bersifat luhur.
Karena saat sekarang ini geopolitik dunia sudah berubah menjadi hedonis, ekonomis dan politis. Bagaimana menguasai dunia digenggamannya dengan kecanggihan teknologi, kekuatan perang, dan kebijakan politik yang menguntungkan, serta mulai meninggalkan kepercayaan-kepercayaan yang murni, luhur dan bersifat kalam ilahi. Hal ini akhirnya mereduksi untuk mengembangkan jurusan keilmuan kepada sesuatu yang bersifat kuantitatif scientific daripada kualitatif deskriptif.
Kabiro AAKK : Peran Media Penting Bagi Kemajuan UIN Sumatera Utara
UIN Sumut Safari Ramadhan di Rutan Kelas I Medan
Ketua MPR-RI di UIN Sumut Sampaikan Pidato Kebangsaan Penguatan Ideologi Pancasila
Berkontribusi dalam Dunia Pendidikan Tinggi, Rektor UIN Sumut Terima Penghargaan pada Peringatan 50 Tahun PAPTI Malaysia
BSN Bantu Bea Siswa bagi Mahasiwa UIN Sumut Terdampak Bencana