Menanti Manuver Politik PKS di Pilkada Deliserdang
analisamedan.com - Peta politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pikada) Kabupaten Deliserdang masih menyisakan tanda tanya. Namun deteksi dini yang terlihat, hampir dipastikan 2 sosok bakal calon bupati akan bertarung pada kontestasi pilkada Deliserdang 27 Nopember 2024 mendatang.
Muhammad Ali Yusuf Siregar yang banyak dijagokan bakal menang pada Pilkada Deliserdang kini sudah mendapat dukungan dari partai Nasional Demokrat (NasDem) dengan 7 kursi di legislatif dan Partai Amanat Nasional (PAN) pemilik 3 kursi serta Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 1 kursi.
Dengan dukungan 11 kursi tersebut. Yusuf Siregar yang dikenal dengan akronim "AYS" (Ali Yusuf Siregar) sudah memenuhi syarat dari aturan Komisi Pemillihan Umum (KPU) untuk bisa dicalonkan 20 persen (10 kursi) dari 50 kursi di DPRD Deliserdang.
Sosok yang juga sudah mendapatkan dukungan dalam bentuk rekomendasi partai yakni, dr Asri Ludin Tambunan yang popular dengan panggilan "Dokter Aci" juga sudah mendapat dukungan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), masing-masing-masing 7 kursi.
Dukungan PDIP dan Gerindra untuk Asri Ludin Tambunan sudah lebih dari cukup. Sebab gabungan kedua partai tersebut sudah menghasilkan 14 kursi sehingga fakta ini juga menjadi jaminan hampir bisa dipastikan Asri Ludin Tambunan akan bisa berkontestasi pada pilkada Deliserdang.
Peluang pilkada Deliserdang bakal diikuti 3 pasangan calon masih sangat terbuka lebar. Golkar dengan 7 kursinya, meski belum menyatakan dukungannya sudah santer dikabarkan akan memberikan dukungannya kepada Asri Ludin Tambunan.
Manuver PKS
Hal yang masih dinanti adalah manuver politik Partai Keadian Sejahtera (PKS). Pasalnya, PKS dalam catatan sejarah pilkada Deliserdang, selalu mengusung kadernya ikut berkontestasi pada posisi calon wakil bupati.
Meski dukungan ini sudah dikeluarkan PKS, namun disebabkan PKS hanya punya 5 kursi di legislatif dan tidak bisa mengusung calon sendiri, upaya koalisi harus dilakukan agar bisa mengusung pasangannya Sofyan Nasution-Junaidi Parapat.
Guna memenuhi persyaratan dari KPU untuk bisa mengusung calonnya pada pilkada Deliserdang, PKS harus membangun koalisi permanen dengan partai politik lainnya dan mencukupkan 10 kursi.
Saat ini, sejumlah partai kelas tengah dan bawah masih belum menentukan dukungan. Koalisi yang masih mungkin diupayakan PKS adalah membangun kesepakatan dengan Demokrat yang punya 4 kursi dan Partai Bulan Bintang (PBB) 1 kursi.
Bila koalisi ini terwujud, maka pasangan Sofyan Nasution-Junaidi Parapat akan bisa ikut berkontestasi di pilkada Deliserdang dan menjadi poros baru dari isu peta politik yang sedang berkembang saat ini.
PKS memang selalu mampu menyiasati dengan mendudukkan kadernya untuk ikut berkontestasi seperti pilkada Deliserdang sebelumnya. Namun dukungan terhadap Sofyan Nasution sebagai balon bupati yang merupakan orang luar dan paket balon wakil bupati dari kader internal PKS, tentu akan menyulitkan dukungan dari partai politik lainnya.
Berkiblat kepada politik PKS pada pilkada Jakarta yang mendukung Anies Rasyid Baswedan dengan paket kadernya Sohibul Iman, justru manuver politik itu 'menyandera' Anies dan PKS itu sendiri untuk mendapatkan dukungan dari partai politik lainnya.
Meski akhirnya, PKS mendapatkan 'buah manis', kadernya Suswono kini dideklarasikan berpasangan dengan Ridwan Kamil pada pilkada Jakarta sebagai bakal calon wakil gubernur didukung 'koalisi obesitas' sebagai barter 'iman politik' yang kelak akan jadi catatan kenangan sejarah bagi rakyat Indonesia terhadap partai berbasis dakwah ini.
Skema Manuver
Dalam konteks politik Deliserdang, sulit bagi PKS bisa memuluskan paket pasangan yang sudah diputuskan. Lebih fokusnya lagi, PKS akan mengalami kesulitan komunikasi untuk berkoalisi dengan partai lain bila tetap bertahan kadernya harus maju pada pilkada Deliserdang.
Menuver PKS bisa saja tetap memajukan kader internalnya untuk maju pada pilkada Deliserdang. Namun pertaruhannya sangat besar. PKS harus 'berkhianat' kepada balon bupati yang sudah diusung Sofyan Nasution dengan meninggalkannya serta membangun kesepakatan baru dengan calon lain yang sudah mendapat dukungan dari partai lain seperti dilakukan di Jakarta.
Manuver pollitik lain yang sangat pula mungkin dilakukan PKS dengan tetap mengusung Sofyan Nasution namun mengalah tidak 'ngotot' memajukan kader internal serta menyerahkan dukungannya kepada balon wakil bupati yang diusung partai lain.
Dua skema manuver politik di atas sangat mungkin dilakukan PKS.. Tapi bisa jadi, PKS juga akan bersikap ikut gerbong pasangan lainnya mendukung Yusuf Siregar atau Asri Ludin Tambunan meski peluang untuk menjadi poros baru terbuka lebar.
Apakah PKS bakal mampu melanggengkan tradisinya seperti di pikada Deliserdang sebelumnya ? Atau PKS punya manuver politik lain yang tidak disangka-sangka ? Kita tunggu manuver politik PKS !
Fraksi PKS DPRD Medan : Nelayan di Belawan Butuh Perhatian Serius
Fraksi PKS DPRD Medan Soroti Mutu Pelayanan Kesehatan, Pemko Diminta Tingkatkan Akses dan Kualitas Layanan
Fraksi PKS DPRD Medan Dukung Pemko Dalam Penataan dan Penertiban Usaha
Fraksi PKS DPRD Medan Dorong Perubahan Perda Sistem Kesehatan Agar Lebih Responsif
Fraksi PKS DPRD Medan: Komposisi Fraksi Perkuat Pelayanan Publik