Menumbuhkan UMKM Berbasis Risk Acceptance Criteria
Tiga, ekosistem. Pengembangan UMKM berbasis ekosistem memiliki tingkat risiko lebih rendah, misalnya ekosistem UMKM RT/RW, ekosistem kerajinan, ekosistem kos-kosan, dan lain sebagainya.
Empat, keluarga kecil double penghasilan. Misalnya, suami bekerja sebagai ojek online (ojol), sementara istri sebagai penjahit; atau istri sebagai guru PAUD dan suami sebagai penjahit; istri sebagai guru SD dan suami sebagai pedagang, dan lain sebagainya. Keluarga kecil double penghasilan memiliki tingkat risiko yang lebih rendah.
Lima, status usaha debitur. Ada banyak status usaha debitur jika ditelisik dari kegiatan bisnis yang dilakukan. Misal, bisnis debitur sebagai agen resmi penyalur LPG 3 kg akan lebih mudah diukur cash flow hingga margin atau potensi keuntungan yang didapatkan. Atau, contoh status usaha lainnya, yang nantinya akan menggambarkan risiko dari masing-masing usaha debitur. Enam, digitalisasi. Sektor usaha (dalam hal ini UMKM) yang tumbuh dan berkembang tentunya tidak terlepas dari seberapa besar pemanfaatan sumber daya digital yang dilakukan oleh pelaku UMKM.
Memang tidak semua UMKM membutuhkan digitalisasi. Akan tetapi, beberapa sektor usaha justru sangat bergantung dengan digitalisasi. UMKM yang telah melakukan digitalisasi memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik ketimbang UMKM yang belum menerapkan digitalisasi.
JLC Race Award 2025, Gelar Malam Apresiasi JNE bagi Kesuksesan UKM di Indonesia
Rumah Zakat Dukung Penguatan UMKM, Salurkan Bantuan Kewirausahaan di Air Joman
Dorong UMKM Medan Naik Kelas, Sri Rezeki Tekankan Pentingnya Kolaborasi Strategis dan Penguatan Koperasi
Korban Keracunan MBG Makin Masif, Farid Wajdi: Hukum Tak Boleh Diam
Ironi Program MBG, Ribuan Anak Keracunan, Sistem Pengawasan Gagal Total