Cahaya dari Pesantren: Menanam Cinta Ilahi, Menuai Peradaban Dunia
Karena itu, tujuan pendidikan pesantren tidak berhenti pada penguasaan teks, tetapi pada pembentukan insan kamil yaitu manusia paripurna yang mampu memadukan kekuatan akal, kehendak, dan cinta. Tradisi keilmuan pesantren berakar pada kesadaran bahwa dunia hanya dapat dibangun dengan jiwa yang terbangun; dan jiwa hanya dapat dibangun dengan cinta yang bersumber dari Tuhan.
Dalam terminologi Ibn 'Arabi, cinta (mahabbah) adalah asas dari segala wujud, "karena Tuhan mencintai untuk dikenal, maka Dia menciptakan alam. Dengan demikian, pendidikan pesantren adalah praksis kosmologis: partisipasi manusia dalam melanjutkan karya penciptaan Ilahi melalui cinta.
Namun dunia hari ini menghadirkan ujian yang tidak ringan. Di tengah krisis moral dan materialisme yang menyesakkan, bahkan lembaga seagung pesantren pun diuji keteguhannya.
Peristiwa robohnya Pesantren Al-Khoziny Buduran kabupaten Siduarjo, Jawa Timur menjadi momen reflektif bagi dunia pesantren dan masyarakat luas bahwa pentingnya memperkuat infrastruktur pendidikan Islam.
Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa membangun pesantren tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik saja, tetapi juga aspek spiritual, manajemen dan sosial. Pesantren harus menjadi tempat yang aman, layak, dan berdaya, di mana ilmu dan nilai dapat tumbuh bersamaan dalam harmoni. Tragedi tersebut hendaknya menjadi metafora tentang keharusan merevitalisasi pondasi rohani dan moral dalam sistem pesantren dan kebangsaan kita.
Bangunan fisik dapat runtuh, tetapi nilai-nilai ikhlas, kebersamaan, dan cinta Ilahi yang hidup di hati para santri justru menjadi pondasi yang tak tergoyahkan. Dalam kerangka pemikiran Al-Ghazali, ujian dan musibah adalah cara Tuhan menyucikan hati manusia dari kelekatan duniawi, agar bangunan spiritual dapat berdiri lebih tegak.
Respon cepat dari Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menjadi cerminan kepedulian negara terhadap dunia pesantren. Dalam kunjungannya ke lokasi beliau menyampaikan duka mendalam atas wafatnya para santri yang Tengah beribadah, seraya menyebut bahwa "para santri berpulang dalam keadaan mulia."
Selain itu Menteri agama menyalurkan bantuan senilai lebih dari enam ratus juta rupiah untuk membantu pemulihan pesantren dan keluarga korban, sekaligus menegaskan pentingnya penerapan standar konstruksi dan keselamatan bangunan pesantren agar tragedi serupa tidak terulang.
Beliau juga menegaskan bahwa musibah ini menjadi pembelajaran nasional untuk memperkuat tata kelola dan manajemen pendidikan Islam, termasuk aspek teknis bangunan, administrasi, dan pengawasan mutu.
Namun dibalik keprihatinan itu Menag juga mengingatkan agar pesantren tidak kehilangan semangat dan nilai dasarnya yaitu keikhlasan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada Tuhan dan umat. Respon cepat ini menandakan bahwa perhatian terhadap pesantren tidak hanya berhenti pada sisi spiritual, tetapi juga pada aspek kemanusiaan, kelembagaan dan keselematan yang menjadi sebuah sinergi antara tanggung jawab moral dan kebijakan negara dalam peradaban.
Dengan demikian, tragedi itu bukan sekadar duka sosial, tetapi juga momentum untuk menegaskan kembali hakikat membangun pesantren, bukan semata membangun dinding dan menara, melainkan membangun manusia dan jiwa. Dari reruntuhan material lahir kesadaran spiritual baru: bahwa pesantren sejati berdiri di atas fondasi cinta Ilahi yang tidak akan lapuk oleh waktu.
Dalam perspektif filosofis, santri adalah arsitek jiwa, Ia membangun dunia dari dalam, dari kekuatan cinta, ilmu, dan pengabdian. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi menolak kehilangan arah.
UIN Sumut Medan Siapkan 15 Ekor Hewan Qurban untuk Sambut Iduladha 1447 H
Rektor UIN Sumut : Xinjiang, Kashgar, dan Beijing Miliki Sejarah Panjang Peradaban Islam Asia Tengah
UINSU Wisuda 1.592 Lulusan, Rektor : Momentum Lahirnya Generasi yang akan Menjaga Masa Depan Bangsa
UIN Sumut Gelar ADFEST 2026, Rektor : Mahasiswa dan Civitas Didorong untuk Terus Berinovasi
PPP Sumut Launching Muscab di Sergai, Mardiono Tekankan Peran Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045