Cahaya dari Pesantren: Menanam Cinta Ilahi, Menuai Peradaban Dunia

Oleh : Rektor UIN Sumut, Prof Nurkayati MAg
Sugiatmo - Rabu, 22 Oktober 2025 15:22 WIB
Cahaya dari Pesantren: Menanam Cinta Ilahi, Menuai Peradaban Dunia
analisamedan/doc.UINSU
Rektor UIN Sumut, Prof Nurhayati MAg

Dalam dirinya, tradisi dan modernitas bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi yang bisa dipertemukan dalam cahaya tauhid. Sebagaimana ditegaskan Seyyed Hossein Nasr, krisis utama peradaban modern adalah hilangnya kesadaran sakral terhadap ilmu. Maka, tugas santri adalah mengembalikan kesakralan itu, menjadikan ilmu sebagai jalan menuju Tuhan, bukan sekadar alat dominasi.

Santri diharapkan menjadi agen transformasi yang tidak hanya menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan spiritual untuk mengarahkannya demi kemaslahatan.

Dengan cinta Ilahi, santri menjadi pembangun peradaban yang menolak kekerasan, menentang ketidakadilan, dan menegakkan nilai-nilai rahmah. Dalam dunia yang dilanda disrupsi dan dehumanisasi, peran santri semakin signifikan, yaitu menjaga agar kemajuan tidak kehilangan arah moral, dan kemanusiaan tidak kehilangan akar spiritual.

Dengan cinta Ilahi, santri menjadi pembangun peradaban yang menolak kekerasan dan ketidakadilan. Ia membangun dunia yang manusiawi dan beradab, di mana kemajuan tidak kehilangan arah moral dan kemanusiaan tidak kehilangan akar spiritualnya. Dari pesantren yang sederhana lahir kesadaran kosmologis, bahwa segala kemajuan harus berakar pada cinta.

Membangun dunia dengan cinta Ilahi berarti menegakkan kembali hubungan sakral antara ilmu, iman, dan amal. Dalam pesantren, tiga unsur itu bukan hanya sekedar konsep, tetapi cara hidup. Selama cinta Ilahi masih berdenyut di dada para santri, peradaban akan terus menemukan arah dan maknanya. Sebab cinta yang bersumber dari Tuhan tidak mengenal kehancuran, ia terus mengalir, menghidupkan, dan membangun dunia dari kedalaman jiwa manusia.

Pada akhirnya, membangun dunia dengan cinta Ilahi adalah perjalanan menuju keutuhan manusia dan kemanusiaan. Pesantren dan santri tidak hanya menjaga warisan ilmu, tetapi juga merawat denyut cinta yang menautkan langit dan bumi.

Pesantren dan santri merupakan dua entitas yang tak terpisahkan dalam membangun peradaban yang berjiwa. Pesantren bukan sekadar institusi pendidikan agama, melainkan pusat pembentukan kesadaran spiritual dan moral bangsa.

Melalui peringatan hari santri ini, kita diajak untuk meneguhkan kembali semangat hubbul wathan minal iman—cinta tanah air adalah bagian dari iman—sembari menghidupkan kembali nilai-nilai pesantren dalam kehidupan berbangsa, kesederhanaan yang membumi, ilmu yang mencerahkan, dan cinta Ilahi yang menumbuhkan peradaban.

Santri bukan sekadar pelajar agama—ia adalah penjaga nur, penenun makna, arsitek jiwa yang membangun dunia dengan kasih dari langit. Dan selama cinta Ilahi masih berdenyut di dada para santri, peradaban tidak akan pernah kehilangan cahaya.

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru