Dari Mushola Terlantar ke Pusat Peradaban
analisamedan.com -Di sebuah sudut Desa Boangmanalu, Kecamatan Salak, berdiri Mushola At Taubah. Bangunan papan sederhana itu dulu nyaris roboh, sunyi tanpa jamaah, dan hanya menyisakan kenangan dari seorang pendakwah gigih bernama almarhum Patut James Manik. Sepeninggal beliau, mushola itu terlantar. Suara azan masih ada, tetapi lantunannya tak lagi mengundang langkah. Jumlah jamaah menyusut hingga nyaris hilang pada 2023.
Bagi sebagian orang, At Taubah mungkin tinggal menunggu runtuh. Namun, bagi seorang pria paruh baya bernama Muhammad Soleh, keadaan itu justru menjadi panggilan jiwa. "Saya merasa terpanggil dan sedih melihatnya," ujarnya lirih.
Ustaz Soleh bukan hanya prihatin, ia memilih bertindak. Menjadi Ketua Badan Kemakmuran Mushola (BKM) At Taubah bukanlah perkara mudah. Ia tahu jalan yang ditempuh akan penuh rintangan, namun tekadnya bulat: "Menjadikan Masjid sebagai Pusat Peradaban Manusia."
Ia mulai dengan hal sederhana mengajak warga kembali sholat berjamaah. Tapi, pendekatannya berbeda. Alih-alih hanya mengimbau, ia melahirkan gagasan kreatif: program "Jajan Berkah" dan "Sembako Berkah."
Jajan Berkah memberi insentif Rp25.000 bagi anak-anak yang hadir sholat Maghrib, Isya, dan Subuh berjamaah. Kehadiran mereka dicatat dengan sistem absensi rapi.
Sembako Berkah memberikan satu tabung gas 3 kg dan 1 kg gula bagi pasangan suami-istri yang aktif sholat berjamaah mingguan. "Program ini bukan sekadar memberi, tetapi membangun kebiasaan. Dari anak-anak hingga orang tua, semua belajar bahwa berjamaah itu mendatangkan berkah," tutur Ustaz Soleh.
Ustaz Soleh paham, zaman sudah berubah. Ia memanfaatkan media sosial Facebook, Instagram, TikTok, hingga website resmi untuk menyiarkan setiap aktivitas mushola. Transparansi menjadi kunci. Ia bahkan memasang CCTV agar donatur bisa memantau langsung.
Hasilnya tak terduga. Donasi mengalir dari berbagai penjuru, bahkan dari orang-orang yang tak pernah berjumpa langsung. Lebih mengejutkan lagi, konten TikTok yang dikelolanya ikut menyumbang pemasukan untuk membiayai program-program kemasjidan. "Bermimpi itu tidak bayar, kenapa tidak? Asal diikuti aktualisasi, kesabaran, dan kemauan," ucapnya penuh keyakinan.
Kini, Mushola At Taubah tak lagi sepi. Jamaah kembali memenuhi saf. Anak-anak riang hadir membawa semangat. Para orang tua merasakan manfaat nyata dari kebersamaan. Bahkan, tamu dari luar daerah berdatangan untuk belajar dan membantu perjuangan ini
Di usianya yang telah memasuki kepala lima, Ustaz Soleh membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berinovasi. Ia menanggapi fitnah dan cemoohan dengan senyum, yakin bahwa Allah selalu bersamanya.
Bagi Plt. Kepala KUA Salak, Muhammad Zulpikar Harahap, S.H., yang berkunjung ke At Taubah pada 17 September 2025, kisah ini adalah bukti bahwa mushola bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi bisa menjadi pusat peradaban dan pemberdayaan umat jika dikelola dengan keikhlasan dan inovasi.
Perjuangan Ustaz Soleh adalah kisah nyata bahwa mimpi besar bisa lahir dari sebuah mushola kecil. Dengan hati yang tulus, kreativitas digital, dan keberanian untuk mencoba hal baru, ia berhasil mengubah mushola yang nyaris roboh menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Mushola At Taubah kini tidak hanya berdiri kokoh, tetapi juga menjadi simbol harapan: bahwa siapa pun di desa terpencil sekalipun bisa menjadi agen perubahan bagi umat dan peradaban.
Alwashliyah Mitra Strategis Penguatan Perlindungan Anak
Muhammad Soleh Kembali ‘Nakhodai’ Alwashliyah Deliserdang Periode 2025-2030
Junaidi Malik : Sosok Soleh Masih Dibutuhkan Memimpin Alwashliyah Deliserdang
Ustaz Abdul Somad Ajak Masyarakat Deliserdang Coblos Pasangan Yusuf-Bayu, Puluhan Ribu Masyarakat ‘Banjiri’ Tabligh Akbar