Empati Bencana Sumatera Dimata Jurnalis
Mirza juga menambahkan, dalam peliputan bencana bukan hanya soal teknik fotografi, tetapi juga membuka kesadaran untuk lebih peduli terhadap kondisi sosial di sekitar. Terutama di wilayah rawan bencana. Sebagai pendokumentsi bencana, berbagi pengalaman lapangan yang menggambarkan betapa beratnya dampak bencana bagi masyarakat.
Sementara itu, fotografer jurnalistik Ferdy Siregar menekankan bahwa bencana tidak bisa dilihat semata-mata sebagai peristiwa alam. Pasti ada sebab akibatnya. Sebagai peliput sekaligus pendokumentasi terjadinya bencana kita wajib tau dan mencari sumber-sumbernya dengan terjun langsung ke lapangan.
"Dalam situasi tanggap darurat dalam peliputan bencana, kita wajib memiliki fisik dan mental yang kuat juga. Selain perlengkapan peliputan, seperti kamera, lensa, flash, laptop, dan lainnya yang cukup memadai. Karena kita wajib mengabarkan setiap harinya kondisi terkini bencana yang terjadi," ujar Ferdy.
Acara ini juga diisi dengan pameran foto serta lelang/jual foto hasil karya dari kedua pemateri serta para mahasiswa STIK-P. Dimana hasil penjualannya akan didonasikan bagi para korban bencana di Sumut dan Aceh. (rel)
Dr.Muhammad Said Harahap Ketua Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia Sumut
Kolaborasi Disbudparekraf Sumut Gelar Pelatihan Fotografi dan Tipography Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif