Empati Bencana Sumatera Dimata Jurnalis

Sugiatmo - Kamis, 05 Februari 2026 09:00 WIB
Empati Bencana Sumatera Dimata Jurnalis
analisamedan.com/dok
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan sukses menggelar talk show atau temu wicara fotografi jurnalistik bertema “Pesan di Balik Lensa: Jurnalisme Empati Bencana Sumatera” di Aula Hj. Ani Idrus, Kampus STIK-P, Selasa (3/2).

analisamedan.com - Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan sukses menggelar talk show atau temu wicara fotografi jurnalistik bertema "Pesan di Balik Lensa: Jurnalisme Empati Bencana Sumatera" di Aula Hj. Ani Idrus, Kampus STIK-P, Selasa (3/2). Acara ini menghadirkan dua pemateri profesional di bidang jurnalistik, diantaranya Ferdy Siregar dan Mirza Baihaqie.

"Kami sengaja menghadirkan kedua pembicara, yaitu Ferdy Siregar dan Mirza Baihaqie, karena mereka berdua melakukan peliputan dan reportasi kejadian banjir bandang di Tapanuli Tengah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Jadi memang layak kita hadirkan, sekedar berbagi pengalaman peliputan di kawasan bencana", ujar M. Abdilla selaku ketua panitia.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah mahasiswa dari beberapa universitas dan pelajar di Medan. Dengan tujuan agar peserta juga nantinya peka terhadap isu-isu lingkungan dan kebencanaan.

Dalam sambutannya, Mirza Baihaqie mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk membangkitkan semangat mahasiswa, khususnya dalam bidang fotografi jurnalistik yang memiliki peran besar dalam isu-isu kemanusiaan.

"Acara ini istimewa karena menjadi salah satu yang pertama menggabungkan talkshow dan pameran foto bertema kebencanaan. Saya sangat mengapresiasi sebesar-besarnya STIKP Medan karena sudah peka terhadap isu kebencanaan. Ini sangat penting agar kita peka terhadap isu bencana dan kami sangat senang serta bangga bisa terlibat di dalamnya," ungkap Mirza.

Mirza juga menambahkan, dalam peliputan bencana bukan hanya soal teknik fotografi, tetapi juga membuka kesadaran untuk lebih peduli terhadap kondisi sosial di sekitar. Terutama di wilayah rawan bencana. Sebagai pendokumentsi bencana, berbagi pengalaman lapangan yang menggambarkan betapa beratnya dampak bencana bagi masyarakat.

Sementara itu, fotografer jurnalistik Ferdy Siregar menekankan bahwa bencana tidak bisa dilihat semata-mata sebagai peristiwa alam. Pasti ada sebab akibatnya. Sebagai peliput sekaligus pendokumentasi terjadinya bencana kita wajib tau dan mencari sumber-sumbernya dengan terjun langsung ke lapangan.

"Dalam situasi tanggap darurat dalam peliputan bencana, kita wajib memiliki fisik dan mental yang kuat juga. Selain perlengkapan peliputan, seperti kamera, lensa, flash, laptop, dan lainnya yang cukup memadai. Karena kita wajib mengabarkan setiap harinya kondisi terkini bencana yang terjadi," ujar Ferdy.

Acara ini juga diisi dengan pameran foto serta lelang/jual foto hasil karya dari kedua pemateri serta para mahasiswa STIK-P. Dimana hasil penjualannya akan didonasikan bagi para korban bencana di Sumut dan Aceh. (rel)

Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru