HAGAF Antara Momentum Silaruhami dan Budaya Lokal Masyarakat Labura

Kegembiraan Masyarakat Rayakan Idul Firi
Sugiatmo - Sabtu, 29 April 2023 13:45 WIB
HAGAF Antara Momentum Silaruhami dan Budaya Lokal Masyarakat Labura
analisamedan/sugiatmo
Kegembiraan masyarakat saat mengikuti lomba menangkap bebek di sungai Gunting Saga. Lomba ini rangkaian dari acara Hagaf 2023

analisamedan.com - HAGAF adalah singkatan dari Hari Gembira Idul Fitri yang digelar setiap tahunnya saat momentum Lebaran. Tradisi masyarakat lokal ini sudah dilakukan puluhan tahun lalu oleh para sepuh dan masyarakat di zamannya.

Sesuai dengan namanya yakni Hari Gembira Idul Fitri, kegiatan ini digelar di pusatkan di sungai Desa Gunting Saga, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara. Tujuannya untuk memeriahkan Hari Raya idul Fitri.

Data dari Wikipedia, Kelurahan Gunting Saga merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara dengan luas wilayah 1000 Hektar dengan jumlah penduduk 6.895 jiwa.

Kabupaten Labuhanbatu Utara terdiri dari 8 kecamatan, 8 kelurahan, dan 82 desa dengan luas wilayah mencapai 3.545,80 km² dan jumlah penduduk sekitar 381.994 jiwa (2020) dengan kepadatan penduduk 108 jiwa/km².

Perayaan Hagaf dipusatkan di Sungai Gunting Saga. Pengunjung menikmati keindahan sungai dengan menumpang kapal bermotor berbiaya terjangkau. Pengelolaan wisata sungai ini dilakukan oleh panitia Hagaf dan hasilnya untuk mendukung kegiatan lainnya.

Kegembiraan lainnya pengunjung disuguhkan dengan berbagai perlombaan dan ajang pengembangan minat bakat masyarakat serta generasi muda. Acara-acara tersebut adalah fashion show, adzan, thafidz qur'an, tarian daerah, dangdut.

Bagi kaum tua ada lomba tembang kenangan. Tujuannya selain menyalurkan bakat dalam olah vokal juga untuk mengenang masa muda melalui lagu.

Selain itu ada lomba menangkap bebek di air, berenang. kuliner, tangkap bebek, serta mengenalkan berbagai macam kuliner yang ada di Labura, khusunya 'anyang ayam'.

Namun sayang pada acara puncak acara yang berlangsung selama empat hari pada 26 April 2023 dibubarkan paksa oleh Polres Labuhanbatu dengan dalih acara mengakibatkan kemacetan lalulintas. Padahal acara itu adalah pemilihan raja dan ratu Sungai Kualuh. Raja dan Ratu Kualuh adalah simbol diacara Hagaf ini . Pemilihan Raja dan Ratu dilakukan oleh panitia dengan berbagai kriteria yang ditetapkan.

Namun acara pemilihan Pangeran dan Ratu dilakukan melalui siaran langsung di lini masa panitia tanpa diumumkan di atas panggung kehormatan.

Dari hasil wawancara dari berbagai narasumber,Hagaf ini pada awalnya dibentuk oleh masyarakat Gunting Saga. karena ada rasa khawatir orangtua kepada anak-anaknya yang mengunjungi tempat wisata yang jauh. Karena tempat wisata Gunting Saga sangat kecil, masyarakat setempat membuat acara yang disebut Hagaf (Hari Gembira Aidil Fitri).

Secara tidak langsung acara yang berlangsung secara turun menunurun ini, tradisi Hagaf ini merupakan suatu momentum bagi masyarakat untuk bersilaturahmi antara masyarakat Gunting Saga dengan masyarakat yang tinggal diberbagai daerah yang kembali pulang ke kampung halamannya. Di samping itu acara tradisi Hagaf juga dapat sebagai hiburan bagi masyarakat Gunting Saga dan masyarakat luar.

Hagaf ini sudah berlangsung selama 64 tahun yang awalnya pembiayaan ditanggung secara swadaya dari masyarakat. Sempat terhenti selama dua tahun karena Covid-19 melanda negeri ini. Sehingga Hagaf ke 64 tahun ini merupakan pengobat rindu bagi masyarakat.

Amatan penulis, Hagaf bukan sekadar Hari Gembira, tapi mampu mengenalkan budaya lokal masyarakat Labura dan mendongkrak perekonomian masyarakat Gunting Saga. Banyak potensi lokal yang bisa digali melalui ajang Hagaf ini, terutama budaya lokal "Seni Bordah".

Seni bordah merupakan seni musik, syair, tari dan ritual adat salah satu seni budaya yang dimiliki Kabupaten Labura. Seni bordah merupakan perlambang rasa syukur atas dilaksanakannya prosesi pernikahan dikalangan masyarakat Labuhan Batu Utara pada zaman dahulu.

Penulis sarankan seni Bordah perlu dilestarikan dan ditampilkan saat pembukaan atau penutupan Hagaf. Pada saat pembukaan seni Bordah untuk menyambut para tamu undangan, dan pada saat penutupan untuk mengiringi Pangeran dan Ratu Kualuh.

Sehingga acara Hagaf memiliki nilai sendiri dalam mengenalkan budaya lokal kepada para generasi muda. Tujuan akhir Hagaf bukan sekadar Hari Gembira dengan euporia dangdut belaka, namun dibungkus dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Kepada pemerintah Labura hendaknya kegiatan ini didukung penuh melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Selain dukungan melalui anggaran pendapatan daerah, pemerintah daearah juga mampu memberikan masukan kepada panitia penyelenggara terkait bentuk kegiatan.

Misalnya melalui Dinas Pendidikan menyertakan sekolah-sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba tari daerah atau lainnya. Dinas pariwisata melakukan pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berpartisipasi di arena kuliner.

Hingga pada akhirnya perayaan HAGAF merangkul semua elemen masyarakat dan pemerintah dalam rangka menjadikan perayaan HAGAF yang berkesan serta berkualitas.



Editor
: Sugiatmo
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru