Hakikat Alhamdulillah
Oleh : Amirul Khair
El-Khair - Jumat, 20 Desember 2024 11:26 WIB
dok.analisamedan.com
Logikanya, ketika kalimat pengulangan diucapkan berulang-ulang yang bersifat peringatan, tentu maknanya ada kelalaian bahkan bentuk pengingkaran yang berulang-ulang pula dilakukan.
Andai sifat Allah Swt sesuai nama-Nya 'Alrahman' dan surat Alrahman juga diawali kata 'Alrahman' pada ayat pertama, sama seperti sifat manusia, maka alam semesta ini akan hancur akibat pengingkaran manusia kepada-Nya. Ini jika Allah Swt berkehendak dan pemarah seperti sifat manusia yang cendrung tk mmpu menahan marah.
Seorang pemimpin misalnya, jika bawahannya melakukan kesalahan tiga kali saja sudah akan mengeluarkan peringatan keras bahkan pemecatan. Tapi karena Allah Swt Mahapengasih, maka kesalahan berulang kali yang dilakukan seorang hamba, tetap senantiasa diingatkan-Nya dan menyegerakan diri bertobat.
Ada redaksi menarik yang terekam dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya : "Dan tatkala Allah memaklumkan kepadamu, jika kamu bersyukur (atas nikmat-Nya), maka pasti Kami akan senantiasa menambahkan (nikmat) kepadamu. Dan Apa bila kamu mengkafirkan (tidak bersyukur) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Menariknya lagi, ke-Mahapengasih-an Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang bersyukur diberikan jaminan langsung tanpa jeda tambahan nikmat-Nya. Dan indahnya lagi, Allah Swt tidak menghukum langsung terhadap hamba-hamba-Nya yang tidak mensyukuri atau mengingkari nikmat-Nya.
Allah justru memberikan peringatan tentang azab-Nya yang sangat pedih dan tidak satu pun seorang makhluk, sekuat apa pun dia, sehebat apa pun pangkat, jabatan dan kekuasaannya, sanggup menerima azab tersebut. Artinya, Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang tidak bersyukur atau ingkar kepada nikmat-Nya untuk segera bertobat meski telah melakukan kesalahan.
Hakikat Alhamdulillah
Pujian tahmid Alhamdulillah, hakikatnya adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba atas semua nikmat Allah Swt. Dalam makna hakikat Alhamdulillah, semua takdir Allah Swt yang ditetapkan pada seorang hamba merupakan nikmat kasih sayang-Nya.
Nikmat Allah Swt sering kali diartikan hanya dalam bentuk kesenangan yang disukai nafsu seperti, makan dan minum enak, lulus dari sebuah ujian, mendapatkan kenaikan pangkat, mendapat rejeki harta dan lainnya yang disukai nafsu.
Padahal musibah dalam bentuk sakit, kebangkrutan dalam usaha, gagal ujian, tidak mendapatkan uang bahkan mungkin memiliki utang, semuanya juga nikmat yang telah diberikan Allah Swt sebagai bentuk sayang-Nya.
Editor
: El-Khair
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Filsafat Islam dan Ekologi: Membangun Kesadaran Spiritual dalam Menjaga Lingkungan
Halal Bihalal dan Tasyakuran Milad ke-15 “Ummu Rahmah”
MUKERDA MUI Sumut Momentum Strategis Bangkitkan Kesadaran Keislaman Umat
Pesantren Haji dan Umrah, Menuju Kesempurnaan Ibadah Haji
Personel Sarpol PP dan Damkar Palas Lulus PPPK,Gelar Syukuran dan Doa Bersama
Pantai Pondok Permai Jadi Destinasi Tujuan Wisata Favorit
Komentar