Hakikat Alhamdulillah

Oleh : Amirul Khair
El-Khair - Jumat, 20 Desember 2024 11:26 WIB
Hakikat Alhamdulillah
dok.analisamedan.com


Salah satu 'lafaz jalalah' (Lafaz kemuliaan milik Allah) adalah tahmid (pujian) 'Alhamdulillah' yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan "Segala puji bagi Allah". Lafaz ini dipahami sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Allah Sang Mahapencipta yang telah menganugerahkan segala kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Lafaz Alhamdulillah merupakan ungkapan yang disenandungkan setiap kali mengakhiri sebuah perbuatan hilir dari 'Bismillahirahmanirrahim' yang selalu diucapkan di awal setiap memulai suatu aktvitas.

Dan sering kali pula, lafaz Alhamdulillah diucapkan setiap kali mendapatkan kabar gembira seperti, tatkala mendengar kabar bahwa anaknya lulus ujian, atau anaknya lahir dalam keadaan sehat dan sebagainya.

Intinya, lafaz Alhamdulillah selalu digandengkan dengan peristiwa menyenangkan hati karena ada sesuatu bernilai yang didapat, terjadi dan terdengar atau dirasakan.

Kesadaran Hamba

Merujuk kepada hulu lafaz Alhamdulillah, sangat terkait dengan 'nikmat' yang diterima seseorang cenderung kepada kesenangan atau pun kegembiraan. Penerimaan nikmat tersebut disikapi dengan rasa syukur yang secara lisan diekpresikan lewat tahmid lafaz Alhamdulillah.

Lafaz tahmid ini adalah kesadaran untuk memuji Sang Mahapemberi nikmat tersebut sehingga bukan saja menjaga kasih sayang-Nya, tapi juga bentuk pengakuan bahwa pujian secara mutlak hanya ditujukan kepada Allah Swt.

Penegasan terhadap syukur kepada-Nya banyak ditemukan dalam Alquran. Dalam surat Alfatihah misalnya, ayat kedua dari 'Umm Alquran' (induk Alquran) ini menegaskan, bagaimana pujian mutlak ditujukan kepada Allah yang menguasai alam semesta ini.

Bahkan dalam surat Alrahman yang didalamnya ada 78 ayat, sebanyak 31 kali Alquran mengulang pernyataan "Fabiayyi alaa irobbikumaa tukazzibaan" yang artinya "Dan nikmat tuhanmu yang mana lagi kamu dustakan".

Secara ilmu mantik, ayat-ayat surat Alrahman ini berisi sindiran keras Allah Swt kepada manusia yang bersifat cenderung lalai dan suka mengeluh bahkan ingkar terhadap janji kepada Sang Khalik sehingga kalimat "Fabiayyi Alaa Irobbikumaa tukazzibaan" terulang sebanyak 31 kali.

Logikanya, ketika kalimat pengulangan diucapkan berulang-ulang yang bersifat peringatan, tentu maknanya ada kelalaian bahkan bentuk pengingkaran yang berulang-ulang pula dilakukan.

Andai sifat Allah Swt sesuai nama-Nya 'Alrahman' dan surat Alrahman juga diawali kata 'Alrahman' pada ayat pertama, sama seperti sifat manusia, maka alam semesta ini akan hancur akibat pengingkaran manusia kepada-Nya. Ini jika Allah Swt berkehendak dan pemarah seperti sifat manusia yang cendrung tk mmpu menahan marah.

Seorang pemimpin misalnya, jika bawahannya melakukan kesalahan tiga kali saja sudah akan mengeluarkan peringatan keras bahkan pemecatan. Tapi karena Allah Swt Mahapengasih, maka kesalahan berulang kali yang dilakukan seorang hamba, tetap senantiasa diingatkan-Nya dan menyegerakan diri bertobat.

Ada redaksi menarik yang terekam dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya : "Dan tatkala Allah memaklumkan kepadamu, jika kamu bersyukur (atas nikmat-Nya), maka pasti Kami akan senantiasa menambahkan (nikmat) kepadamu. Dan Apa bila kamu mengkafirkan (tidak bersyukur) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Menariknya lagi, ke-Mahapengasih-an Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang bersyukur diberikan jaminan langsung tanpa jeda tambahan nikmat-Nya. Dan indahnya lagi, Allah Swt tidak menghukum langsung terhadap hamba-hamba-Nya yang tidak mensyukuri atau mengingkari nikmat-Nya.

Allah justru memberikan peringatan tentang azab-Nya yang sangat pedih dan tidak satu pun seorang makhluk, sekuat apa pun dia, sehebat apa pun pangkat, jabatan dan kekuasaannya, sanggup menerima azab tersebut. Artinya, Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang tidak bersyukur atau ingkar kepada nikmat-Nya untuk segera bertobat meski telah melakukan kesalahan.

Hakikat Alhamdulillah

Pujian tahmid Alhamdulillah, hakikatnya adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba atas semua nikmat Allah Swt. Dalam makna hakikat Alhamdulillah, semua takdir Allah Swt yang ditetapkan pada seorang hamba merupakan nikmat kasih sayang-Nya.

Nikmat Allah Swt sering kali diartikan hanya dalam bentuk kesenangan yang disukai nafsu seperti, makan dan minum enak, lulus dari sebuah ujian, mendapatkan kenaikan pangkat, mendapat rejeki harta dan lainnya yang disukai nafsu.

Padahal musibah dalam bentuk sakit, kebangkrutan dalam usaha, gagal ujian, tidak mendapatkan uang bahkan mungkin memiliki utang, semuanya juga nikmat yang telah diberikan Allah Swt sebagai bentuk sayang-Nya.

Namun faktanya, bentuk nikmat-nikmat seperti ini tidak disukai nafsu dalam diri manusia sehingga menolak bahkan berujung kepada perkataan, perilaku, sikap dan ekspresi yang justru tidak disukai Allah Swt bahkan mengundang murka-Nya.

Coba perhatikan firman Allah Swt dalam surat Albaqarah ayat 155-157, terekam jelas bahwa semua bentuk musibah, rasa ketakutan (khauf), kelaparan (juk), kekurangan harta (naqsi minal amwaal), jiwa (Alanfus) kekurangan buah-buahan seperti gagal panen (Alsamaraat), akan diganjar Alah Swt dengan kegembiraan bila semua musibah itu disikapi dengan sabar yang juga bentuk syukur dari hakikat tahmid lewat ucapan Alhamdulillah.

Firman-Nya : "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Inn? lill?hi wa inn? ilaihi r?ji'?n" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tu-hannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S.Albaqarah (2) : 155-157).

Nabi Muhammad Saw juga menjelaskan hakikat dari musibah yang menimpa seorang hamba merupakan penggugur atau penebus dosa (kafarah) dari tindakan salah yang bermuara dosa selama menjalani hidup.

Sabda Nabi Muhammad Saw : "Tidaklah menimpa seorang Muslim suatu keletihan, penyakit, kecemasan kesedihan, kesulitan, kesedihan, kesakitan dan kepedihan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan dengan semua itu Allah akan menghapuskan segala kesalahannya." (Riwayat Bukhari-Muslim).

Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi Muhammad Saw bersabda : "Tidaklah menimpa seorang Muslim suatu bencana berupa penyakit dan yang lainnya melainkan dengan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya."

Betapa luar biasa makna hakikat dari lafaz tahmid Alhamdlillah yang selayaknya senantiasa meluncur dari bibir dan hati orang-orang beriman saat menerima apa pun bentuk nikmat-Nya baik yang disenangi nafsu manusia maupun tidak

Sebab hakikat semua takdir Allah Swt atas diri orang-orang beriman merupakan bentuk rahmat atau kasih sayang Allah Swt kepada hamba sehingga wajib memuji-Nya karena Allah Swt sagat menyukai pujian dari hamba-hamba-Nya. Billahi Fisabilil Haq



Editor
: El-Khair
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru