Menjemput Ampunan Allah
analisamedan.com - Islam adalah agama indah. Keindahannya bukan sekadar dakwah yang mengajak dan menjadikan seseorang menjadi baik. Lebih dari itu, Islam mengajak seseorang itu menjadi sempurna sebagai 'Hamba' yang ketika diciptakan Allah Swt sebagai 'sebaik-baik pembentukan makhluk' dan melabelnya dengan 'khalifah' di bumi-Nya.
Firman-Nya : "Telah kami ciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan". (Q.S. Attiin : 4). Di ayat lainnya juga Allah Swt menegaskan, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan di muka bumi seorang khalifah" yang penegasan ini mendapatkan pertanyaan dari para malaikat dengan alasan manusia akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah (lihat Albaqarah (2) ayat 30).
Salah satu 'Asma Alhusna' (nama-nama baik) Allah Swt adalah 'Alghoffur' yang berarti 'Mahapengampun'. Nama ini menunjukkan kebaikan Allah Swt terhadap para makhluknya terutama manusia yang melekat sebagai hamba cenderung berbuat salah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Saw : "Setiap anak Adam bersalah dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah mereka yang bertobat". (Riwayat Tirmizi)
Hudzaifah Ismail dalam bukunya "Energi Alquran' memaparkan, andaikan Allah Swt mengedepankan sifat 'Mahadilnya' (Aladlu) dalam menghisab manusia kelak di hari Kiamat, maka tidak akan ada manusia yang akan masuk surga kecuali rasul dan nabi.
Menjemput Ampunan
Hakikat penciptaan manusia seperti disebutkan Allah Swt dalam Alquran yakni, "Untuk beribadah kepada-Nya". (lihat Q,S. Alzariyaat ayat 56). Penghambaan manusia kepada Allah Swt sebagai bentuk pengakuan atas "Kemahakuasaanya' sebagai Sang Khalik (Mahapencipta) yang harus disembah makhluknya terkhusus manusia.
Semua perbuatan manusia akan bermuara kepada nilai pahala dan dosa yang hilirnya berkonsekuensi kepada dua tempat yakni, surga dan neraka. Surga bersumber dari kebaikan bernilai pahala yang dilakukan saat hidup di dunia dan neraka balasan atas keburukan atau dosa yang dikerjakan.
Fitrah manusia tentu berkeinginan masuk ke dalam surga. Surga digambarkan sebagai tempat segala bentuk kenikmatan yang akan diraih seorang muslim yang membawa keimanannya sampai ajal datang dalam tauhid benar dengan dasar "Laa Ilaahaillallah" (tiada tuhan selain Allah).
Kecerdasan dalam beribadah dan bertuhan adalah tidak sibuk menghitung pahala kebaikan yang dilakukan karena tidak mungkin malaikat pencatat amal kebaikan alpa menuliskannya dalam kitab yang akan diterima seorang hamba kelak dengan tangan kanannya.
Justru yang perlu dikhawatirkan adalah catatan amal buruk dilakukan semasa hidup. Sebab dosa-dosa yang dilakukan berhilir kepada neraka sebagai hukuman yang akan diterima. Dan neraka adalah tempat penyiksaan sangat pedih serta tidak seorang pun akan mampu menjalaninya.
Pedihnya azab neraka dan banyaknya dosa-dosa manusia masih tidak sebanding dengan luasnya rahmat (kasih sayang) Allah Swt. Sifat Rahim-Nya (Mahapenyayang) dan juga 'Alghoffur' (Mahapengampun), menjadi dasar bagi seorang hamba berkesempatan untuk tidak mendapatkan murka-Nya dalam bentuk siksaan api neraka.
Karena itu, nafas yang masih diberikan Allah Swt saat ini merupakan kesempatan emas untuk meleburkan dosa-dosa itu agar tidak menjadi sebab masuk ke dalam neraka. Kematian dan kehidupan merupaka dua sisi yang Allah Swt ciptakan untuk proses pengujian pada diri seorang hamba terhadap kualitas dan kuantitas kebaikannya. (lihat Q.S. Almulk : 2)
Segerakan Tobat
Untuk mendapatkan rahmat Allah Swt juga ampunannya, caranya adalah lewat pintu 'tobat' yakni sebuah proses kesadaran dalam bentuk pengakuan atas semua dosa yang sudah dilakukan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi serta diiringi dengan tindakan melakukan hal-hal disukai Allah Swt.
Hal ini yang terekam dari pengakuan Nabi Yunus as ketika masuk ke dalam perut ikan. Saat berada di dalamnya, Nabi Yunus as tidak disibukkan dengan doa agar diselamatkan, tapi justru mengakui kesalahannya kepada Allah Swt.
Firman Allah Swt : "(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, "Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim." (Q.S. Alanbiya : 87).
Penyegeraan terhadap ampunan Allah Swt merupakan kemutlakan yang harus dilakukan seorang hamba dalam hidup di dunia ini. Menundanya sama berarti kerugian besar karena telah mengabaikan rahmat Allah Swt.
Firman Allah Swt : "Bersegeralah kepada ampunan tuhanmu yang surganya seluas langit dan bumi dipersiapkan untuk orang-orang bertakwa". (Q.S. Ali Imran (3) : 133).
Momentum untuk mendapatkan ampunan Allah Swt sangat terbuka lebar dan terhampar luas melebihi luasnya rahmat Allah Swt itu sendiri. Karena itu, bersegera dan tidak menunda bertobat merupakan bagian dari rahmat Allah Swt.
Dalam banyak riwayat diceritakan, ada seorang wanita pelacur yang kemudian masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan menggunakan semacam sepatunya.
Namun riwayat ini harus dilihat secara utuh kenapa ia masuk ke dalam surga. Ternyata sebelum kematiannya, ia telah bertobat kepada Allah Swt dengan tidak lagi menjadi pelacur dan amalannya hanya berbuat baik terhadap anjing saja setelah itu meninggal dunia dalam keadaan sudah bertobat.
Ada juga riwayat lain seorang pemuda yang telah membunuh 100 orang. Kemudian dalam perjalanannya menuju tobat, ia meninggal dunia dan menjadi perdebatan malaikat azab dan malaikat rahmat tentang posisinya di surga atau di neraka.
Setelah diukur antara jalan yang sudah ditempuhnya dengan sisanya, ternyata panjang jaraknya lebih banyak yang sudah dijalani sehingga pemuda tersebut pun akhirya dimasukkan ke dalam surga.
Mari kita jemput ampunan Allah Swt dengan mengejar rahmat-Nya melalui penghambaan terhadap apa yang disukai-Nya serta meninggalkan setiap pekerjaan yang dilarang-Nya, Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamit Thoriq
Segerakan !
Halal Bihalal dan Tasyakuran Milad ke-15 “Ummu Rahmah”
Pantai Pondok Permai Jadi Destinasi Tujuan Wisata Favorit
IRMAJA Kubahsentang 'Tadabur Alam' di Pantaicermin Themepark
Bencana dalam Nikmat