Pelita Kecil dari Padang Lawas, Perjalanan Iman Guru Mahmudin

Gustan Pasaribu - Kamis, 11 September 2025 19:43 WIB
Pelita Kecil dari Padang Lawas, Perjalanan Iman Guru Mahmudin
dok.analisamedan.com
Mahmudin adalah guru Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Padang Lawas, kini berstatus ASN PPPK. Namun, baginya, profesi guru hanyalah salah satu jalan untuk mengabdi. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang menyalurkan ilmunya ke berbagai desa, menjadi khatib, penceramah, hingga pengisi wirid Yasin.

analisamedan.com -Di sebuah desa di Padang Lawas, suara sepeda motor tua kerap terdengar menyusuri jalanan berbatu. Bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi perjalanan seorang guru bernama Mahmudin Ali Syukur Siregar yang mengabdikan hidupnya untuk menyalakan cahaya iman di hati masyarakat.

Mahmudin adalah guru Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Padang Lawas, kini berstatus ASN PPPK. Namun, baginya, profesi guru hanyalah salah satu jalan untuk mengabdi. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang menyalurkan ilmunya ke berbagai desa, menjadi khatib, penceramah, hingga pengisi wirid Yasin.

Hari itu, Rabu (10/9/2025), selepas azan Zuhur, Mahmudin hanya sempat berganti pakaian. Sepeda motornya sudah menunggu di depan rumah. Dengan tekad yang mantap, ia menembus jalan desa menuju Kecamatan Barumun Tengah untuk menghadiri wirid Yasin rutin.

Tema yang ia bawakan kali ini adalah Siksa Kubur dan Amalan yang Meringankannya. Dengan bahasa yang sederhana, ia mengingatkan jamaah tentang pentingnya zikir, salat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan menjaga silaturahmi. Meski berat, penyampaiannya lembut dan mudah dipahami, membuat jamaah larut dalam keheningan dan perenungan.

Kehidupan sehari-hari Mahmudin jauh dari gemerlap. Istrinya berjualan es kelapa di pinggir jalan untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, keterbatasan tidak pernah menyurutkan langkahnya. Hujan deras, terik matahari, atau perjalanan jauh, semua ia tempuh demi menyampaikan pesan kebaikan.

"Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Maka perbanyaklah amal shalih, jauhi maksiat, dan jangan tunda taubat," ujarnya suatu ketika, disambut tatapan jamaah yang khusyuk.

Bagi jamaah, ceramah Mahmudin adalah pengingat yang menyejukkan. Nurjamila Harahap, salah seorang warga, mengaku selalu terinspirasi. "Penyampaiannya sederhana, tapi menyentuh hati dan membuat kami ingin memperbaiki diri," ucapnya haru.

Kepala MTsN 2 Padang Lawas, Yahya Siregar, turut bangga memiliki guru seperti Mahmudin. "Beliau bukan hanya berdedikasi di madrasah, tapi juga aktif di tengah masyarakat. Kegiatan ini teladan bagi para guru dan siswa, bahwa mengajar dan berdakwah adalah amal yang saling melengkapi," katanya.

Bagi Mahmudin, setiap perjalanan dakwah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati yang penuh pengorbanan. Dari mimbar ke mimbar, dari desa ke desa, ia terus bergerak menyalakan cahaya iman.

Ia adalah pelita kecil di jalan desa, cahayanya mungkin sederhana, tetapi sinarnya tak pernah padam. Justru dari sinar sederhana itulah, banyak hati tercerahkan dan kembali kepada Sang Pencipta

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru