MBG Dinilai Populisme Anggaran, Pendidikan Jadi Korban
Meski bertujuan mengurangi stunting, program MBG disebut belum terbukti efektif. Sejumlah studi, termasuk dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menemukan masalah distribusi, kualitas gizi yang tidak terjamin, serta minimnya keterlibatan ahli gizi dan pengawasan publik.
Farid juga mengingatkan adanya risiko korupsi dalam program MBG. Transparency International Indonesia menilai pengadaan massal berpotensi rawan mark-up, distribusi tak transparan, hingga monopoli penyedia.
"Tanpa regulasi ketat, audit independen, dan partisipasi masyarakat sipil, MBG lebih mirip proyek politik ketimbang investasi sosial," tegas Farid.
Menurutnya, pendidikan masih memiliki banyak kebutuhan mendesak, mulai dari peningkatan kualitas guru, perbaikan fasilitas, digitalisasi pembelajaran, hingga penghapusan pungutan liar di sekolah. "Mengorbankan hal-hal mendasar itu demi proyek makanan massal sama artinya dengan menambal luka di kaki dengan merobek kulit kepala," katanya.
Rapat Dengan Dewan Pendidikan, Bupati Deli Serdang Setujui Diklat Guru dan Kepala Sekolah Berbasis BNSP
Keracunan MBG Berulang, PKUTK Sumut Soroti Pertanggungjawaban Hukum SPPG
Jamiluddin: Pembangunan Deli Serdang Mulai Menjangkau Wilayah Pedalaman, Akses ke Desa Buluh Awar dan Sala Bulan Makin Lancar
Monitoring Dewan Pendidikan di Pedalaman Sibolangit Temukan 10 Siswa Belum Masuk Dapodik
Guru Agama Kristen SDN 105309 Rambung Baru Belum Dipanggil PPG, Dewan Pendidikan Deli Serdang Soroti Anggaran dan Kondisi Sekolah