Migrasi Digital Berisiko, Banyak WNI Terjebak di Kamboja lewat Grup Facebook
Postingan yang beredar di grup-grup itu umumnya menawarkan gaji tinggi dalam dolar, akomodasi gratis, hingga tiket keberangkatan tanpa syarat ijazah atau pengalaman kerja. Beberapa bahkan menampilkan foto pekerja "sukses" disertai klaim "bukan scam" untuk memancing kepercayaan.
Namun, di balik narasi indah itu, banyak pekerja justru berakhir di industri judi online dan pusat penipuan digital (scamming). Mereka kehilangan paspor, dipaksa bekerja dengan jam panjang, hingga mengalami kekerasan dan eksploitasi.
Menurut Arwansyah, grup Facebook berfungsi bukan sekadar tempat berbagi informasi kerja, tetapi juga arena pembentukan makna kesejahteraan. Komentar positif dan testimoni keberhasilan memperkuat citra perekrut sebagai pihak yang dapat dipercaya.
"Fenomena ini menggambarkan bahwa masyarakat sangat membutuhkan pekerjaan, bahkan rela mengorbankan keselamatan demi peluang ekonomi yang tampak menjanjikan," ujarnya.
Pulang dari Kamboja, Pria Bawa 100 Pod Getar Ditangkap Polisi
Farianda Putra Sinik Beri Perlindungan 900 Anggota PWI Sumut Melalui BPJS Ketenagakerjaan
Hadapi Tantangan Era Digital, KAHMI Sumut Bekali Pelajar dengan Nilai Pancasila
Pegadaian Dorong Perluasan Transaksi Digital, Yohanis Wulang: QRIS Perkuat Inklusi Keuangan Masyarakat
Putusan Mahkamah Agung, Buat Pekerja Yang Di PHK, PT Leong Hup Jayaindo Dihukum Bayar Kompensasi Sebesar Tiga Ratus Juta Lebih