Migrasi Digital Berisiko, Banyak WNI Terjebak di Kamboja lewat Grup Facebook

Gustan Pasaribu - Selasa, 28 Oktober 2025 16:23 WIB
Migrasi Digital Berisiko,  Banyak WNI Terjebak di Kamboja lewat Grup Facebook
gustanpasaribu
Akademisi UMSU Oka Dedi Arwansyah

analisamedan.com - Fenomena baru muncul di era digital: rekrutmen pekerja migran Indonesia ke Kamboja kini marak terjadi melalui grup Facebook. Di balik janji gaji besar dan fasilitas mewah, banyak yang justru terjebak di industri judi online dan penipuan digital.

Temuan ini diungkapkan oleh OK Dedy Arwansyah, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dalam tesisnya berjudul "Rekrutmen Pekerja Migran Indonesia ke Kamboja di Media Sosial: Studi Netnografi pada Grup Facebook." usai sidang tesis di Pascasarjana M.I.Kom UMSU, Senin (27/10/2025)

Melalui penelitian berbasis netnografi, Arwansyah menelusuri ratusan percakapan di berbagai grup Facebook yang menawarkan pekerjaan ke luar negeri. Hasilnya, 39 persen unggahan berisi permintaan kerja, 30 persen berupa tawaran perekrut, dan sisanya mencakup layanan pendukung seperti pengurusan paspor dan testimoni keberhasilan.

"Media sosial kini mengambil alih fungsi lembaga perekrutan formal, namun tanpa pengawasan dan perlindungan hukum yang memadai," ujar Arwansyah

Postingan yang beredar di grup-grup itu umumnya menawarkan gaji tinggi dalam dolar, akomodasi gratis, hingga tiket keberangkatan tanpa syarat ijazah atau pengalaman kerja. Beberapa bahkan menampilkan foto pekerja "sukses" disertai klaim "bukan scam" untuk memancing kepercayaan.

Namun, di balik narasi indah itu, banyak pekerja justru berakhir di industri judi online dan pusat penipuan digital (scamming). Mereka kehilangan paspor, dipaksa bekerja dengan jam panjang, hingga mengalami kekerasan dan eksploitasi.

Menurut Arwansyah, grup Facebook berfungsi bukan sekadar tempat berbagi informasi kerja, tetapi juga arena pembentukan makna kesejahteraan. Komentar positif dan testimoni keberhasilan memperkuat citra perekrut sebagai pihak yang dapat dipercaya.

"Fenomena ini menggambarkan bahwa masyarakat sangat membutuhkan pekerjaan, bahkan rela mengorbankan keselamatan demi peluang ekonomi yang tampak menjanjikan," ujarnya.

Lebih jauh, Arwansyah menilai masalah ini tak lepas dari ketimpangan ekonomi, minimnya lapangan kerja, dan ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.

Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya menindak pelaku di ruang digital, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan ekonomi. " Negara perlu hadir di ruang digital. Perekrutan tenaga kerja melalui media sosial tidak bisa lagi dipandang sepele, namun di sisi lain, pemerintah juga wajib menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Banyak yang berangkat ke Kamboja bukan karena ambisi, tetapi karena tidak punya pilihan."tegasnya.

Tesis Arwansyah, yang dibimbing oleh Assoc. Prof. Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si. dan Dr. Muhammad Thariq, S.Sos., M.I.Kom., menjadi kontribusi penting dalam memahami pergeseran praktik migrasi di era digital dan implikasinya terhadap keamanan manusia.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru