Migrasi Digital Berisiko, Banyak WNI Terjebak di Kamboja lewat Grup Facebook
Lebih jauh, Arwansyah menilai masalah ini tak lepas dari ketimpangan ekonomi, minimnya lapangan kerja, dan ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya menindak pelaku di ruang digital, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan ekonomi. " Negara perlu hadir di ruang digital. Perekrutan tenaga kerja melalui media sosial tidak bisa lagi dipandang sepele, namun di sisi lain, pemerintah juga wajib menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Banyak yang berangkat ke Kamboja bukan karena ambisi, tetapi karena tidak punya pilihan."tegasnya.
Tesis Arwansyah, yang dibimbing oleh Assoc. Prof. Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si. dan Dr. Muhammad Thariq, S.Sos., M.I.Kom., menjadi kontribusi penting dalam memahami pergeseran praktik migrasi di era digital dan implikasinya terhadap keamanan manusia.
UNPRI dan KemenP2MI Bangun Ekosistem Pekerja Migran Profesional dan Terlindungi
Aktivis Lingkungan Minta Pemkab Deliserdang Lebih Serius Mengelola Sampah
JNE Raih Penghargaan Golden Brand of The Year dan Digital Popular Brand Award 2026
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
Peringati Hari Bumi 2026, KAI Divre I Sumut Ajak Pelanggan Beralih ke Layanan Digital Access by KAI