POLUSI UDARA AKIBAT KARHUTLA LANDA MEDAN, YAYASAN CLS DESAK PENANGANAN SERIUS
Gustan Pasaribu - Kamis, 15 Oktober 2026 14:59 WIB
analisamedan/dok
Ia menilai, karhutla yang terus berulang perlu ditangani tidak hanya melalui pemadaman api, tetapi juga dengan memperkuat upaya pencegahan dan pengawasan. Pembukaan lahan dengan cara membakar, lemahnya pengawasan, serta kondisi cuaca kering dan angin kencang dapat memperburuk penyebaran api dan asap.
Jamiluddin juga mengingatkan bahwa anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak pencemaran udara. Karena itu, ia meminta pemerintah meningkatkan pengawasan di wilayah rawan kebakaran dan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara ilegal.
Menurutnya, langkah penanganan perlu dilakukan secara komprehensif melalui pemetaan titik rawan berbasis satelit, patroli pencegahan, penegakan hukum, serta pelibatan masyarakat setempat dalam upaya pengawasan lingkungan.
"Penanganan karhutla tidak boleh hanya bersifat reaktif setelah kebakaran terjadi. Harus ada langkah preventif yang berkelanjutan agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun," ujarnya.
Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Cegah ISPA Karena Asap Karhula, Dinkes Padangsidimpuan Bagikan 3000 Masker Kepada Warga Dalam Sehari
Warga Tapsel Ikuti Simulasi Penanganan Karhutla
Yayasan Cakrawala Lestari Sumatera Ucapkan Selamat Milad ke-60 MW KAHMI
Karhutla dan Keadilan Ekologis: Antara Tanggung Jawab Negara dan Strict Liability Korporasi
Ribuan Kayu Rimba Diduga Ilegal Diamankan, Yayasan CLS Dukung Langkah Gakkum Kehutanan
CLS dan MUI Kota Medan Gandeng Dinas LH Edukasi Warga Melalui Dakwah Ekoteologi
Komentar