Rektor UIN SU Medan: Kurikulum Berbasis Cinta Pondasi Pendidikan Berorientasi Kasih Sayang dan Kemanusiaan
analisamedan.com - Gagasan kurikulum berbasis cinta yang diusulkan oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA mendapat perhatian luas karena memiliki relevansi yang mendalam dengan nilai-nilai yang diajarkan agama.
Dalam pandangan Menteri Agama, agama tidak hanya isinya ibadah, tetapi juga energi spiritual untuk menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan solidaritas sosial. Dengan demikian, agama dapat dijadikan landasan kuat dalam membangun sistem pendidikan yang berfokus pada cinta dan kemanusiaan.
Menurut Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dalam konteks kurikulum berbasis cinta, nilai-nilai kasih sayang dan kemanusiaan dapat diterapkan melalui dua pendekatan utama: pendidikan karakter berbasis empati dan program sosial serta kepedulian.
Memahami dan menerjemahkan gagasan besar tersebut, Rektor UIN SU Medan menyampaikan bahwa pendidikan berbasis cinta, artinya bahwa pendidikan yang berbasis pada penanaman kepedulian dan kesadaran sosial dalam diri siswa agar mereka mampu merasakan dan memahami kondisi orang-orang yang kurang beruntung, seperti anak-anak yatim, kaum dhuafa, dan penyandang disabilitas.
Empati tidak hanya sekadar perasaan, tetapi juga tindakan nyata untuk meringankan penderitaan orang lain. Dengan pendekatan ini, generasi muda akan lebih peduli, inklusif, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Bagi Prof Nurhayati, program sosial dan kepedulian yaitu program sosial yang melibatkan kegiatan berbagi atau santunan bagi mereka yang membutuhkan bukan hanya aksi filantropi, tetapi juga sarana pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab sosial.
Dalam dunia yang semakin individualistis, program sosial ini bertujuan menciptakan generasi yang peduli terhadap penderitaan orang lain dan siap berkontribusi untuk kemajuan masyarakat.
Sebab itu menurut beliau bahwa paradigma baru pendidikan berbasis cinta adalah gagasan kurikulum berbasis cinta juga menciptakan paradigma baru dalam dunia pendidikan yang menembus batas ritualisme dalam pembelajaran agama. Pendidikan agama tidak hanya mengajarkan tata cara ibadah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan moderasi.
Dengan pendekatan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya taat beragama, tetapi juga mampu hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman.
"Di sinilah letaknya relevansi kurikulum berbasis cinta untuk menciptakan individu yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan toleransi, sehingga dapat menghindari potensi konflik sosial yang sering kali muncul akibat perbedaan identitas di tengah polarisasi sosial yang ada," ungkapnya.
Pondasi Kurikulum Berbasis Cinta
Pilar-pilar utama kurikulum berbasis cinta adalah sebagai berikut:
Cinta kepada Tuhan (Hablun minallah) – Menanamkan cinta kepada Tuhan sebagai fondasi utama dalam kehidupan spiritual dan sosial siswa.
Cinta kepada Sesama Manusia (Hablun minannas) – Mengajarkan cinta yang melampaui batas agama, suku, dan status sosial, dengan menekankan pentingnya empati dan persaudaraan.
Kepedulian terhadap Lingkungan (Hablun bi'ah) – Mengajarkan bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari ibadah, dan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab moral.
Cinta kepada Bangsa (Hubbul Wathan) – Menanamkan rasa cinta terhadap tanah air dan kewajiban untuk membela dan membangun negara.
Menurut Rektor UIN SU Medan, kurikulum berbasis cinta harus segera diadopsi oleh perguruan tinggi, terutama pada institusi pendidikan tinggi Islam (PTKI), sebagai langkah maju dalam menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna.
"Kurikulum berbasis cinta ini bukan hanya sekedar pendekatan akademik, tetapi sebuah gerakan untuk mencetak individu yang memiliki hati yang penuh kasih, bertanggung jawab sosial, dan siap menyongsong masa depan dengan semangat cinta dan kemanusiaan," katanya.
Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag adalah Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang juga aktif dalam mengembangkan gagasan-gagasan pendidikan berbasis nilai kemanusiaan. Gagasannya dalam pendidikan berbasis cinta diharapkan dapat memperkaya pendidikan agama dan memberikan kontribusi positif dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.