Menjelang Pemungutan Suara Pilkada Sumut, Kampus Diminta Jaga Netralitas
Belakang ini kata Hanif, muncul berita yang sedang viral di media sosial, ada kampus negeri di Sumatera utara yang Rektornya diduga melakukan 'cawe-cawe' dengan melakukan pertemuan Bersama Pj. Bupati/walikota dan atau pejabat lainnya guna mendukung salah satu calon di Pilkada Sumut tahun 2024.
"Jika pertemuan itu dilakukan oleh pihak Rektor dan pejabat kampus lainnya, apalagi menggunakan fasilatas kampus yang notabenenya fasilitas negara, ini sangat disayangkan dan tidak bermoral, mengindahkan segala bentuk etika dan kaidah dalam dunia pendidikan," imbuhnya.
Hanief mengatakan bahwa pertanggal 14 November 2024 Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengabulkan permohonan nomor 136/PUU-XXII/2024, Pasal 188 Undang-Undang Pilkada Nomor 1 Tahun 2015, bahwa anggota TNI-Polri yang cawe-cawe menguntungkan salah satu pasangan calon kepala daerah dalam Pilkada bisa dipidana penjara.
"Pasal 188 UU 1/2015 itu mengatur sanksi untuk pejabat negara, pejabat aparatur sipil negara, dan kepala desa, atau sebutan lain/lurah yang sengaja melanggar ketentuan Pasal 71 bisa dikenakan pidana penjara dan denda," pungkasnya.
Guru Besar UIN Sumut Hasrat Efendi Samosir: Partai Politik Harus Adaptif di Era Digital
Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar: Jalan Sunyi Anang Anas Azhar Mengembalikan Etika Politik
UNPRI Jadi Kampus Pertama Creative Workshop JNE Content Competition 2026
USU Kembangkan Smart Water System Berbasis IoT untuk Pemulihan Kualitas Air Pascabanjir
UMA , PTS Sumatera Diundang Kemdiktisaintek, Perkuat Status PTSBH dan Kampus Berkelanjutan