Seleksi Pejabat Gagal, Korupsi Mengakar: Skandal Dua Kepala Dinas Bongkar Rapuhnya Sistem Tata Kelola Pemerintahan
Korupsi pada level kepala dinas berdampak langsung pada layanan publik. Anggaran yang seharusnya memperbaiki transportasi, pendidikan, hingga hunian rakyat justru menguap akibat praktik curang. Masyarakat kembali menanggung beban: fasilitas rusak, program terhambat, dan kualitas pelayanan merosot.
Founder Ethics of Care sekaligus mantan Anggota Komisi Yudisial 2015–2020, Farid Wajdi, menilai reformasi seleksi pejabat adalah keharusan mendesak. "Standar seleksi harus diperketat melalui uji tuntas berbasis integritas. Audit proyek masa lalu wajib menjadi syarat promosi, dan alasan pengangkatan pejabat harus transparan," ujarnya,Senin (24/11/2025)
Ia menekankan, Inspektorat perlu berfungsi sebagai garda etik, bukan sekadar unit administratif. Tanpa keberanian memutus rantai patronase politik, pergantian pejabat hanya akan mengganti wajah, bukan menghentikan praktik korupsi.
"Birokrasi bersih tidak lahir dari slogan, tetapi dari seleksi yang keras, jujur, dan bebas kompromi," tegas Farid.
Berangkatkan Kloter 2, Gubsu Minta Jemaah Haji Jaga Nama Baik Sumut
Dua Akademisi UIN Sumut Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Tegaskan Peran Ilmu Hadapi Tantangan Zaman
Peringati Hari Bumi 2026, KAI Divre I Sumut Ajak Pelanggan Beralih ke Layanan Digital Access by KAI
Sekdaprovsu Berangkatkan Jemaah Kloter 1 Embarkasi Medan
Sri Rezeki Catatkan Sejarah Perempuan yang Isi Kursi Pimpinan DPRD Medan