Darmin: Analisis PANS November Saham Masuk Kategori MSCI dan HSC Tekanan Cukup Tinggi

Fahrin - Kamis, 05 November 2026 09:45 WIB
Darmin: Analisis PANS November Saham Masuk Kategori MSCI dan HSC Tekanan Cukup Tinggi
dok/analisamedan.com
Darmin, S.E., MBA

analisamedan.com - Laporan riset bulan November 2026 Panin Sekuritas (PANS) memberikan rekomendasi 7 Saham pilihan : MEDC, EMAS, AMMN, BBCA, AADI, DSNG, ASII. "Rekomendasi kami mampu mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Oktober 2026 dengan negatif -9,1% sedangkan IHSG -16,7%," ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, kepada analisamedan.com, Rabu, 4 November 2026.

Peraih Rekor MURI sebagai orang pertama di Indonesia yang meraih empat izin profesi lengkap di pasar modal, yakni Broker-Dealer, Fund Manager, Underwriter, dan Investment Advisor, melihat upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran dan Houthi-Arab Saudi mulai diintensifkan, meski belum menghasilkan terobosan signifikan.

"Kebuntuan negosiasi terkait Selat Hormuz dan blokade AS masih memperkuat ekspektasi konflik akan berkepanjangan, menjaga harga minyak di atas USD100/barel," ungkap Darmin.

Di sisi lain lanjutnya, pemilu paruh waktu (midterm election) di AS pada 3 November 2026 menjadi perhatian pasar, seiring hasil survei mengindikasikan peluang demokrat merebut kendali Kongres AS. Skenario pemerintahan terbelah (divided government) berpotensi membatasi ekspansi fiskal melalui legislative gridlock, sehingga memberikan ruang bagi penurunan yield U.S. Treasury atau Surat Utang/obligasi (UST) Pemerintah USA. Namun, defisit fiskal AS yang tetap tinggi, mendekati -6% Produk Domestik Bruto (PDB), membatasi potensi perbaikan tersebut.

Sementara itu katanya lagi, penguatan dominasi partai Demokrat di Kongres US berpotensi meningkatkan kekhawatiran pengetatan regulasi sektor teknologi AI, yang dapat menekan valuasi saham sekaligus meningkatkan daya tarik obligasi.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2026 diperkirakan melambat secara tahunan utamanya imbas moderasi inflasi inti akibat high base effect harga emas serta melambat secara bulanan imbas moderasi daya beli domestik yang diiringi tren harga pangan yang mixed. Namun, inflasi diperkirakan tetap di atas +3% secara tahunan pada tahun lalu (YoY) seiring harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang relatif tinggi tetap menempatkan real policy rate spread di level yang belum optimal, sehingga fundamental Rupiah belum cukup ada dukungan yang kuat, sekaligus mempersempit ruang bauran kebijakan Bank Indonesia (BI).

Di sisi lain, menipisnya bantalan cadangan devisa setelah memperhitungkan kewajiban net forward membatasi ruang BI untuk terus mengandalkan intervensi valas dan insentif FX hedging. Kondisi ini memperkuat base case kami atas kenaikan BI Rate sebesar 25bps menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada November 2026, bahkan apabila rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal Ketiga Tahun 2026 melampaui ekspektasi.

"Perlu dicermati bilamana rilis data net ekspor lebih baik daripada harapan pasar dapat memacu keberlanjutan sikap berimbang BI terhadap dual mandate-nya. Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun (10Y) yang menembus 7,5% turut mengindikasikan persepsi pasar mengenai kenaikan premi risiko fiskal dan external buffer," kata Darmin.

Meski demikian ungkapnya, reformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan-Self Regulatory Organizations (OJK-SRO), percepatan belanja fiskal yang lebih terarah, serta potensi penurunan ketegangan perang Timur Tengah dapat memperbaiki sentimen pasar keuangan domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tajam pada Oktober 2026 sebesar -16,7% secara bulanan pada bulan lalu (MoM) disebabkan oleh Pertama tensi geopolitik yang masih tinggi mengakibatkan harga minyak tetap tinggi; Kedua meningkatnya yield obligasi di global yang mengurangi daya tarik dari saham; Ketiga melemahnya nilai tukar Rupiah diiringi kenaikan yield obligasi ~70-100bps seiring meningkatnya premi risiko, serta Keempat potensi downgrade satus Indonesia ke stand-alone oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang masih akan menunggu feedback investor hingga April 2026 dan keputusan di Juni 2026.

Sebagai informasi, tekanan cukup tinggi untuk saham yang masuk dalam kategori MSCI dan high shareholding concentration (HSC), khususnya MSCI Standard yaitu: ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BRMS, BRPT, TLKM dan UNTR; 35 saham di MSCI small cap serta 81 saham yang masuk dalam kategori HSC.

Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK menginformasikan bahwa saham yang masuk dalam kategori HSC tidak akan dimasukkan ke dalam penghitungan indeks IHSG, LQ45, IDX30 dan IDX80 sejak 2 November 2026, yang dapat meningkatkan bobot 0,3-1,5% untuk saham dengan kapitalisasi pasar besar (dengan asumsi mutual fund melakukan rebalancing dan masih menjaga porsi saham) dimana beberapa emiten yang diuntungkan adalah BMRI, TLKM, ASII, SMMA, AMMN, BBNI, TPIA, BRPT, UNTR dan INDF.

"Kami melakukan simulasi untuk IHSG berdasarkan komposisi kepemilikan data KSEI di Oktober 2026, dimana pada skenario dasar kami ada ruang bahwa IHSG dapat menyentuh 4.642 dan pada skenario terburuk mengasumsi kemungkinan terjadi downgrade yang meningkat serta asumsi porsi dana asing keluar lebih tinggi, skenario terburuk indeks dapat menyentuh 4.195," jelasnya.

Patut dicermati tambahnya bahwa, volatilitas pasar masih akan tinggi seiring menanti kebijakan dari regulator terkait dengan beberapa masalah yang dibahas oleh MSCI terkait dengan coordinated trading dan material improvement (kemajuan yang berarti) dan regulator merespon dengan memberikan sanksi untuk beberapa sekuritas, individu, direksi serta beberapa perusahaan lainnya.

"Kami menyarankan untuk membatasi alokasi aset untuk saham serta lebih tactical dan bagi Trader yang menguasai teknik transaksi momentum bisa manfaatkan penurunan besar untuk beli sesuai risiko yg terukur di saham fundamental dan likuid serta manfaatkan teknikal rebound (kenaikan) harga untuk ambil untung. Sedangkan untuk Investor jangka panjang boleh cicil beli saat pemurunan besar dengan tetap ada jumlah kas untuk beli apabila terjadi penurunan besar antisipasi penurunan status Bursa Saham Indonesia ke Stand alone di April atau Juni 2027, saat Passive Fund asing jualan. Tentunya kita harapkan semua pihak bisa lakukan perbaikan agar tidak terjadi penurunan status ke Stand alone. katanya.

Darmin menambahkan beberapa katalis negatif IHSG Pertama tensi geopolitik yang masih akan tinggi khususnya setelah mid-term election di US; Kedua meningkatnya risiko gagal bayar perusahaan Artificial Intelligence (AI) global; Ketiga potensi downgrade obligasi seiring dengan melemahnya nilai tukar Rupiah dan defisit yang masih lebar, serta Keempat potensi penurunan status (downgrade) ke stand alone yang dapat memicu outflow dana asing sebesar USD 5-10 Miliar.

Editor
: Fahrin
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru