Dari Arena Halaqah Ulama NU, Dr H Maratua Simanjuntak : Mustafa Husein Pendiri NU di Sumatera Utara
analisamedan.com - Dr H Maratua Simanjuntak menyampaikan bahwa pendiri Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara adalah Mustafa Husein. Hal itu disampaikan Maratua Simanjuntak dalam acara khalaqah yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara, Selasa (29/8/2023) di Asrama Haji Medan.
Dijelaskan Maratua, Syekh Haji Mustafa Husein Nasution bin Husein Nasution bin Umar Nasution al Mandili, lahir di Tano Bato, Mandailing, Sumatera Utara 1886, meninggal di Padang Sidempuan, Sumatera Utara, 16 November 1955 pada umur 69 tahun. Adalah seorang ulama terkemuka di Sumatera Utara yang meninggalkan karya bangunan keislaman monumental Madrasah di Purba Baru Mandailing, Tapanuli Selatan, yaitu Pondok Pesantren Mustafawiyah Purba Baru.
Saat ini nama Syekh Musthafa Husein diabadikan pada salah satu gedung utama di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Pondok Pesantren Musthafawiyah sebagai asal sejarah tumbuhnya Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara yang dibawa oleh Syekh Musthafa Husein pada 1945, dan diresmikan pada Februari 1947 di Padangsidimpuan.
Tahun 1936 pemerintah Belanda memberikan bintang jasa padanya atas usahanya dalam bidang pendidikan. Pada masa Agresi Belanda, setelah Indonesia merdeka ia bersama ulama seperti Syekh Ja'far Abdul Kadir al Mandily dan H Fahruddin Arif pernah mengeluarkan fatwa wajib (fardu 'ain) bagi setiap muslim yang mukalaf mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.
Syekh Mustafa Husein tidak hanya seorang Ulama Besar, tetapi dia juga adalah seorang wiraswasta dan sekaligus sebagai politikus dan cendiakawan yang ikut menghantarkan kemerdekaan bangsa ini dari kolonialisme Belanda dan Jepang. Dia juga adalah seorang tokoh pergerakan, seorang Ulama Mujahid, penggerak dan pelopor bagi pesatuan dan kebangunan umat. Sehingga Madrasah Mustafawiyah dapat dianggap sebagai pesantren pelopor dan perintis bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama pada awal abad ke 20, khususnya di Tapanuli bagian Selatan, umumnya Sumatera Utara.
Madrasah yang pertama kali didirikan di Mandailing adalah Madrasah Islamiyah yang dibangun oleh Syekh Mustafa Husein di Tano Bato, Kayu Laut sekitar 1912. Kemudian pindah ke Desa Purba Baru pada tahun 1915. Di tempat inilah dilanjutkan pendidikan Islam yang selanjutnya bernama Madrasah/Pondok Pesantren Mustafawiyah, Purba Baru Mandailing.
Setelah berdiri lembaga pendidikan Islam di Purba Baru, kemudian berdiri pula beberapa Madrasah Islamiyah di daerah lain antara tahun 1927 sampai 1935. Lembaga Pendidikan Islam ini cukup besar peranannya dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Mandailing Pondok Pesantren Mustafawiyah, Purba Baru, telah memiliki alumni terbesar di seluruh pelosok nusantara, banyak alumni Mustafawiyah yang melanjutkan kuliah ke beberapa perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri dan telah berhasil diberbagai bidang.
Riwayat Kegiatan Mustafa Husein
1. Tahun 1901 - Berangkat ke Mekkah, Menunaikan ibadah haji tahun 1913 H, setelah wukuf di Arafah, nama Muhammad Yatim berganti nama Mustafa Husein di Mina.
2. Tahun 1914 : Dari Mekkah kembali ke Mandailing
3. Tahun 1915 : Banjir di Tano Bato, hijrah ke Purba Baru
4. Tahun 1915 : Menjadi Ketua Syatikat Iskam Cabang Tano Bato
5. Tahun 1930 : Atas anjuran Syekh Mustafa Husein berdirilah Persatuan Muslim Tapanuli (PMT) di Padangsidimpuan, Mustafa Husein sebagai ketua Majelis Syar'i.
6. Tahun 1936 : Menghadiri Kongres Pertama Al Jam'iyatul Washliyah dan diangkat menjadi penasehat Pengurus Besar Al Jam'iyatul Washliyah.
7. Tahun 1939 : Atas Inisiatif dan anjuran Syekh Mustafa Husein dibentuk Al-Ittihadul Al- Islamiyah (AII) yang merupakan perkumpulan alumni Mustafawiyah Purba Baru.
8. Tahun 1940 : Kongres Pertama AII dihadiri 62 Cabang-Purba Baru. AII ini yang menjadi dasar berdirinya Nahdlatul Ulama Sumatera Utara di Padangsidimpuan tahun 1947.
9. Tahun 1954 : Menghadiri rapat Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta.
I. Kongres Kaum Muslimin se Tapanuli
Kongres ini berlangsung pada 7-9 Februari 1947 di Madrasah Islamiyah Kampung Bikit Padangsidimpuan. Kongres ini dihadiri oleh ulama dan tokoh muda dari Mandailing Padang Lawas, Angkola Sipirok, Natal dan Sibolga. Dalam kongres tersebut didapatkan kesepakatan antara ulama dan tokoh pemuda yang berpaham Aswaja untuk mendirikan Nahdlatul Ulama di Tapanuli sebagai cabang Nahdlatul Ulama yang berpusat di Pulau Jawa.
II. Nahdlatul Ulama (NU)
1. Sejak saat itu NU pun berkembang di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli Selatan. Perkembangan NU ini membawa dampak positif bagi misi mempertahankan ajaran Ahlussunnah Wal jama'ah di Tapanuli Selatan. Syekh Mustafa Husein adalah simbol bagi Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara. Pesantren Mustafawiyah pun menancapkan namanya di bumi nusantara sebagai pusat perkembangan Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara.
2.Untuk keanggotaan sementara, al-Ittihadiyah Islamiyah Indonesia dilebutkan ke dalam Nahdlatul Ulama, sehingga seluruh anggota organisasi tersebut resmi menjadi anggota Nahdlatul Ulama Tapanuli, selain Al-Ittihadiyah Islamiyah Indonesia, terdapat empat cabang dari Al-Washliyah di Tapanuli yang meminta masuk ke Nahdlatul Ulama.
3. Kongres juga berhasil menetapkan tiga tokoh utama yang bertugas untuk menyusun kepengurusan Nahdlatul Ulama selanjutnya. Mereka adalah H Burhanuddin Thalib Lubis, H Dja'far Abdul Wahab, dan Muhammad Amin Awwal. Ketiga tokoh tersebut berhasil menyusun kepengurusan, dan Syekh Mustafa Husein dipilih sebagai Penasehat.
III. Kongres Nahdlatul Ulama
Pada Tahun 1950, tiga tahun setelah berdiri di Tapanuli, Nahdlatul Ulama mengadakan konferensi pertama pada 8-10 September 1950 di Padangsidimpuan diikuti oleh seluruh pengurus cabang Nahdlatul Ulama Tapanuli, dan perwakilan pengurus PBNU dari Surabaya, KH Masykur dan KH Saifuddin Zuhri. Dalam komperensi ini Syekh Mustafa Husein diangkat menjadi Ketua Majelis Syuriah NU Tapanuli.
IV. Konstituen dan Pemilihan Umum 1955
Pada tahun 1955, Syekh Mustafa Husein menjadi calon anggota konstituante/DPR Pusat mewakili Provinsi Sumatera Utara pada pemilihan umum 1955 dari Nahdlatul Ulama. Namun belum sempat dilantik, Syekh Mustafa Husein terlebih dahulu berpulang ke rahmatullah dan kedudukannya digantikan oleh H Muda Siregar.
V. Wafat
Pada malam Rabu 5 November 1955, Syekh Mustafa Husein jatuh sakit pada saat itu usianya 65 tahun. Hingga kemudian dibawa ke Padangsidimpuan untuk dirujuk ke rumah sakit. Di Padangsidimpuan sebelum dibawa ke rumah sakit, beliau dibawa ke rumah menantunya yakni Syekh Ja'far Abdul Wahab yang dikenal dengan "Ayah Mesir", dalam pengawasan dokter. Darah tinggi dan diabetes adalah yang menjadi penyakitnya selama sekitar satu minggu.
Ulama bersahaja tersebut menghembuskan napas terakhir pada Rabu,16 November 1955/1 Rabiul Awal 1375 H, pukul 16:15 WIB di Padangsidimpuan usia 69 tahun. Jenazahnya dibawa kembali ke Purba Baru pada esoknya hari Kamis. Dengan iringan yang cukup ramai disertai sambutan penuh haru dan rasa pilu yang mendalam. Desa Purba Baru penuh sesak oleh ribuan orang pelayat yang datang dari berbagai daerah sebagai tanda turun berduka dan untuk memberikan penghormatan terkahir.
Angkutan Petikemas di Sumatera Utara Tumbuh Konsisten, Dukung Efisiensi Logistik Nasional
Agustinus Sirait : Keselamatan Guru Ngaji di Pantailabu Harus Dijamin
LPA Deliserdang Layak Jadi Contoh Daerah Lain
Ketua PPIH Bersyukur Kartu Nusuk Diterima Jemaah di Embarkasi
Aktivis Lingkungan Minta Pemkab Deliserdang Lebih Serius Mengelola Sampah