Delapan Wajah Menuju Tambakeras : Membaca Peta Kekuatan Calon Ketua Umum PBNU
Gus Salam: Mengemban Dawuh Sesepuh Ploso
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, Abdussalam Shohib melangkah ke gelanggang bukan atas inisiatif pribadi, melainkan menjalankan dawuh sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli. Sang kiai sepuh dikabarkan gundah menyaksikan konflik terbuka di kalangan pengurus PBNU yang dinilai mencederai marwah organisasi, dan memberi dua amanah khusus kepada Gus Salam bila kelak terpilih: merajut rekonsiliasi internal dan membenahi tata kelola organisasi secara menyeluruh.
Gus Salam bukan sosok baru di lingkungan NU. Ia pernah menjabat Katib PBNU pada era Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Sebagai ikhtiar konsolidasi, ia telah bersilaturahim kepada sejumlah kiai sepuh dari Lirboyo, Ploso, hingga Sidogiri, termasuk mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Wakil Presiden ke-13 KH Ma'ruf Amin. Modal utamanya terletak pada legitimasi jaringan kiai sepuh, kelompok yang secara tradisi memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan suara di tingkat wilayah dan cabang.
Gus Ipul: Penata Panggung yang Memilih Bertahan di Belakang Layar
Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Muktamar, Saifullah Yusuf, secara konsisten menegaskan tidak berminat maju sebagai calon Ketua Umum, dengan alasan masih banyak tokoh lain yang dinilainya lebih pantas mengemban amanah tersebut. Meski demikian, posisinya sebagai penyelenggara sekaligus juru bicara resmi seputar dinamika bursa pencalonan membuat Gus Ipul tetap menjadi figur sentral yang kerap dimintai keterangan publik ihwal peta kekuatan menjelang Muktamar, termasuk soal jaminannya bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan ikut campur dalam proses pemilihan.
Sempat pula mengemuka skenario andaikan di kalangan nahdliyin, seandainya Rais Aam KH Miftachul Akhyar diberi kewenangan menunjuk langsung Ketua Umum sebagai hasil musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), tanpa melalui pemungutan suara PWNU dan PCNU.
Dalam skenario tersebut, nama Gus Ipul disebut-sebut berpeluang kembali mengemuka, mengingat kedekatannya yang panjang dengan lingkar kepengurusan PBNU. Namun perlu digarisbawahi, hingga kini AD/ART NU tetap menempatkan pemilihan Ketua Umum melalui mekanisme musyawarah mufakat atau pemungutan suara dengan satu hak suara bagi tiap pengurus wilayah dan cabang, sehingga skenario penunjukan langsung tersebut masih sebatas wacana tanpa dasar mekanisme resmi.
Gus Yusuf Khudori: Konsolidasi Akar Rumput yang Intensif
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Yusuf Chudlori telah menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi. Langkah ini diambil setelah ia mundur dari kepengurusan Partai Kebangkitan Bangsa demi memusatkan perhatian pada NU, sebuah keputusan yang diakuinya lahir dari amanah para masyayikh agar dirinya lebih fokus membantu organisasi. Gus Yusuf mengklaim telah menyambangi sekitar 200 Pengurus Cabang NU dalam kurun enam bulan terakhir, sebuah strategi konsolidasi akar rumput yang terbilang cukup masif dibandingkan sejumlah kandidat lain.
Kedekatannya dengan basis pesantren di Jawa Tengah serta pengalamannya di dunia politik praktis menjadi modal tersendiri baginya. Namun ia harus bersaing dengan sejumlah tokoh yang memiliki jaringan struktural lebih mapan di tubuh PBNU, mengingat Gus Yusuf relatif baru memasuki lingkaran inti kepengurusan pusat.
Ini Alasan KH Bahauddin Mundur dari Rois PWNU Sumut, Posisi Diisi KH Abdul Hamid Ritonga
Rois PWNU Sumut Diganti, Ini Sosok Penggantinya
Polrestabes Medan Tetapkan Dua Perempuan Tersangka Kasus Dugaan Penghasutan Bunuh Diri di Apartemen Sky View
Volume Penumpang Kereta Api di Deli Serdang Melonjak, Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah
Sepekan Libur Sekolah, KAI Divre I Sumut Layani 58 Ribu Lebih Pelanggan