Jangan Jadikan Anak Kelinci Percobaan MBG
Bukan hanya perut yang sakit. Anak-anak yang menjadi korban kini menghadapi trauma psikologis. Ada yang menolak makan di sekolah, ada pula yang langsung mual mendengar kata "MBG." Seharusnya, program makan gratis menumbuhkan keceriaan dan rasa aman. Sebaliknya, kini menanamkan kekhawatiran.
Para guru mulai resah. "Kami ingin murid-murid semangat saat jam istirahat. Tapi sekarang, sebagian justru takut membuka kotak makan," ungkap seorang guru sekolah dasar di Deli Serdang.
Dari sejumlah temuan lapangan, ada beberapa sebab mengapa keracunan MBG terus berulang. Pertama, program dipaksakan terlalu cepat. Dalam hitungan bulan, MBG diperluas ke jutaan penerima tanpa kesiapan infrastruktur dapur, distribusi, maupun sistem uji kualitas.
Kedua, soal anggaran. Dengan biaya sekitar Rp6.500 per porsi, publik bertanya: makanan sehat apa yang bisa disajikan dengan angka semurah itu? Para penyedia tertekan untuk menekan biaya. Bahan baku murahan dipilih, standar gizi dikompromikan, dan higienitas sering kali terabaikan.
Ketiga, lemahnya pengawasan. Beberapa dapur yang sudah terbukti bermasalah masih diberi izin beroperasi sebelum evaluasi tuntas. Artinya, keselamatan anak diperlakukan sebagai angka dalam laporan, bukan prioritas mutlak.
Tragedi Bocah SD di NTT, Sutarto Serukan Kepedulian Sosial dan Evaluasi Sistem Pendidikan
Kaper BKKBN Sumut Monitoring ke SPPG Kecamatan Balige, Kabupaten Toba
Korban Keracunan MBG Makin Masif, Farid Wajdi: Hukum Tak Boleh Diam
Junaidi Malik : Sosok Soleh Masih Dibutuhkan Memimpin Alwashliyah Deliserdang
Sultan Serdang : Sayangi Anak, Hormati Orang Tua