Malu Dong !
analisamedan.com - Dalam sebuah riwayat diceritakan, saat itu Nabi Muhammad Saw sedang memanjat guna memperbaiki kain penutup kabah. Tiba-tiba kain penutup kaki beliau tersingkap karena dihembus angin sehingga betis beliau kelihatan. Nabi Saw kemudian buru-buru turun karena merasa malu betisnya terlihat.
Subhanallah, begitulah rasa malu Nabi Saw sampai-sampai hanya kelihatan betisnya saja sangat merasa malu. Lalu bagaiman dengan kita ?
Malu merupakan salah satu akhlak mulia dalam Islam. Nabi Saw dalam hadisnya juga menyebutkan, "Malu bagian dari iman" (Riwayat Bukhari Muslim).
Dalam hadis lainnya dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda : "Iman itu enam puluh lebih cabangnya dan malu itu salah satu cabangnya". (Riwayat Bukhari-Muslim).
Keagungan akhlak Nabi Saw yang sangat tinggi termasuk rasa malunya menjadi salah satu pujian utama langsung dari Allah Swt kepada beliau seperti termaktub dalam Alquran surat Alqolam ayat 4 yang artinya : "Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki ketinggian akhlak mulia".
Betapa dalam Islam malu merupakan salah satu cabang dari iman. Kita bisa membayangkan Nabi Muhammad Saw yang hanya kelihatan betisnya saja pun sudah meraa sangat malu. Tapi lihat sekarang, malu bukan lagi menjadi hiasan hidup.
Bila dulu orang mau bermaksiat selalu melakukan sembunyi-sembunyi karena malu dan takut diketahui orang, beda dengan masa kini justru mempertontonkan kemaksiatannya kepada publik.
Aneh memang, banyak orang zaman sekarang justru bangga dengan kemaksiatan dan dosa-dosanya diketahui khalayak ramai. Bahkan melalui media sosial didukung kecanggihan teknologi era digitalisasi saat ini, kemaksiatan justru dipertontonkan dengan murah, meriah muntah.
Aib rumah tangga sendiri 'diobral' di media sosial sehingga orang tahu masalah pribadi. Pertikaian pribadi dengan keluarga dan tetangga serta relasi, jadi bacaan juga tontonan orang banyak di media sosial.
Hakikat Malu
Hakikat malu merupakan bentuk ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt yang diimplementasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari baik dalam ibadah, muamalah, pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan semua sektor yang menjadi aspek kehidupan di dunia ini.
Rasulullah Saw menjelaskan hakikat malu dalam hadisnya dari Abdullah bin Masud ra Nabi Muhammad Saw bersabda, "Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Lalu kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu kepada Allah, segala puji bagi Allah." Kemudian Nabi Saw bersabda, "Bukan begitu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah hendaknya engkau menjaga kepala dan apa yang didengarnya, menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya, serta mengingat kematian dan cobaan. Siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, maka ia harus meninggalkan perhiasan dunia dan mengutamakan akhirat daripada dunia. Siapa melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." (Riwayat Attirmidzi)
Malu yang sebenarnya merupakan proteksi terhadap diri dari praktik-praktik yang tidak Allah Swt sukai. Malu meninggalkan salat, malu tidak berpuasa, malu tidak berzikir, malu mengabaikann Alquran, malu pelit bersedekah, malu mencuri, berzina, narkoba, tawuran dan bentuk kemaksiatan lainnya.
Bahkan bagi orang-orang saleh yang makam bertuhannya tinggi, lebih dahsyat dalam mengimplementasikan rasa malunya kepada Allah Swt. Seperti dicontohkan Nabi Ayub as yang mengalami sakit parah belasan tahun, malu berdoa meminta kesembuhan kepada Allah Swt dari sakitnya.
Pasalnya Nabi Ayub dalam tingkat kesyukurannya kepada Allah Swt merasa sudah banyak nikmat yang dirasakannya dari pada sakit yang dideritanya sehingga merasa malu untuk meminta kesembuhan.
Hal ini diceritakan Allah Swt dalam Alquran surat Alanbiya ayat 83 yang artinya : "Ingatlah) Ayub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, Dan Engkau Tuhan Mahapenyayang dari semua yang penyayang."
Begitu juga dengan Nabi Yunus as ketika ditelan ikan besar malu meminta keselamatan kepada Allah Swt dan justru hanya mengakui dosa-dosanya serta memohon ampunan tanpa berpikir tentang keselamatannya.
Firman Allah Swt : "(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, "Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim." (Q,S, Alanbiya : 87)
Malu Dong !
Begitu dahsyatnya implementasi dari hakikat malu yang dipraktikan orang-orang saleh. Maka sangat benar apa yang diisyaratkan Nabi Muhammad Saw bahwa malu bagian dari iman. Ketika malu lepas dari diri, sama artinya imannya juga lepas dari dirinya.
Seharusnya kita malu dong bermaksiat kepada Allah Swt. Ia telah menganugerahkan nikmat tanpa batas, justru perlakuan kita mengingkarinya meski bagi Allah Swt tidak rugi ketika hamba-Nya ingkar dan bermaksiat.
Bahkan Allah juga tidak diuntungkan meski pun seorang hamba melakukan ketaatan luar biasa, karena Ia tidak berhajat kepada ibadah hamba-Nya. Tapi iradah-Nya, seorang hamba sebagai makhluk dituntut menunjukkan ketaatan dan mengakui 'Kemahakuasaan-Nya'.
Ibarat seseorang yang sudah ditolong, lalu orang yang menolong justru dicelakai, difitnah, dizalimi. Bukankah ini perilaku memalukan yang tidak tahu malu. Selazimnya, rasa terima kasih atas pertolongan yang diberikan menjadi bentuk balasan dari kebaikannya orang yang telah menolong.
Begitu juga kita selazimnya kepada Sang Khalik yang 'Mahapenyayang' harus menunjukkan ketaatan kepada-Nya sebagaiman tujuan manusia diciptakan yakni, untuk taat kepada-Nya.
Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam surat Alzariyaat ayat 56 yang artinya "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk taat kepada-Ku".
Lalu tidakkah muncul di hati kita rasa malu kepada Allah Swt Sang pemilik alam semesta termasuk diri kita sendiri ? Malu Dong ! Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamit Thoriq
PWNU Sumut Sembelih Hewan Kurban, Warga NU Rasakan Kebahagiaan Idul Adha
Halal Bihalal dan Tasyakuran Milad ke-15 “Ummu Rahmah”
Rais dan Ketua PCNU Tapanuli Tengah Telah Terpilih, Konfercab Berjalan Lancar
Polemik di PBNU, Ulama Sepuh se Pulau Sumatera Serukan Islah
Pantai Pondok Permai Jadi Destinasi Tujuan Wisata Favorit