Menjemput Baitullah dari Warung Kopi, Perjalanan Spiritual Irda Herani Hasibuan

Gustan Pasaribu - Jumat, 23 Mei 2025 09:18 WIB
Menjemput Baitullah dari Warung Kopi, Perjalanan Spiritual Irda Herani Hasibuan
dok.analisamedan.com
Irda Herani Hasibuan.

analisamedan.com -Setiap pagi, sebelum matahari menyapa desa kecil di Pasar Binanga, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, aroma kopi dan gorengan telah lebih dulu menguar dari sebuah warung sederhana milik Irda Herani Hasibuan.

Warung kecil bermeja kayu itu tak pernah ramai. Tapi di balik kepulan asap dari wajan dan seduhan kopi hitam hangat, diam-diam tumbuh sebuah mimpi besar: pergi ke Tanah Suci, menunaikan rukun Islam kelima, berhaji ke Baitullah.

"Sejak tahun 2012 saya sudah daftar bersama ibu. Tapi ibu saya wafat lebih dulu. Kami dulu mendaftar hanya karena niat kepada Allah, belum cukup uang," ujar Irda, 45 tahun, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Kamis (22/5), sesaat sebelum keberangkatannya dari Asrama Haji Medan sebagai jemaah Kloter 18.

Bagi Irda, keberangkatan ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah buah dari kesabaran panjang dan ketekunan luar biasa. Dari hasil menjual kopi dan gorengan, ia menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang tak seberapa, selama lebih dari 13 tahun. Dalam kesederhanaannya, Irda terus menjaga harapan, meski penghasilan tak menentu dan tantangan hidup tak pernah benar-benar usai.

"Kalau dagangan nggak habis, saya tetap syukuri. Saya percaya Allah tidak tidur," katanya lirih.

Perjalanan Irda bukan semata fisik, tetapi juga spiritual. Ia harus melawan keraguan, rasa lelah, bahkan waktu yang terasa sangat panjang. Namun di balik semuanya, Irda tidak pernah benar-benar sendiri. Suami dan anak-anaknya menjadi penyemangat utama.

"Mereka selalu bilang, 'Ibu harus berangkat, kami doakan dari rumah'," ujarnya sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah.

Hari itu, impian Irda akhirnya menjadi nyata. Ia mengenakan pakaian ihram dengan hati yang penuh syukur. Tak ada yang mewah dari penampilannya, tapi dari wajahnya terpancar cahaya ketulusan yang tak bisa disembunyikan. Ia siap menjawab panggilan suci, menuju Mekkah Al-Mukarramah.

"Ini semua karena Allah. Bukan karena saya kuat, bukan karena saya pintar. Tapi karena Allah izinkan," katanya, dengan senyum yang merekah penuh rasa haru.

Kisah Irda Herani Hasibuan adalah kisah tentang ketabahan dalam kesunyian, tentang harapan yang tak pernah padam di tengah keterbatasan. Ia membuktikan bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya milik mereka yang berkecukupan, tetapi juga milik mereka yang tulus menjaga niat dan terus berikhtiar dalam kesabaran.

Perjalanan spiritual Irda mengajarkan kita bahwa jalan menuju Baitullah tak harus mulus. Kadang penuh batu, licin dan berliku. Namun selama ada niat, usaha, dan doa yang tak terputus, jalan itu akan terbuka juga.

Dan pagi itu di Asrama Haji Medan, seorang penjual kopi dari sudut desa kecil, menapaki langkahnya menuju panggilan agung – menjemput Baitullah.

Editor
: Gustan Pasaribu
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru